Masih inget dalem ingatan gue sampe sekarang waktu awal masuk SMA dan waktu itu gue kelas satu. Sekolah biasanya masih belum belajar dan guru-guru masih perkenalan sambil cerita-cerita tentang dirinya atau sekolah.
Suatu hari guru fisika gue yang bergelar M.Sc., seorang dosen di universitas dan umurnya emang udah veteran bercerita
awal-awal cerita tentang sekolah, lingkungan, fisika, dan kemudian
Guru : "Nak, dulu ayah saya seorang pejuang. Waktu detik-detik menjelang beliau wafat. Beliau berpesan kepada saya"
Ayah : "Anakku, Ayah titip negara ini padamu. Tolong kamu jaga dan kamu rawat baik-baik. Ayah dan banyak orang lainnya yang tak terhitung jumlahnya susah payah merebut negara ini sehingga bisa merdeka. Tolong kamu bangun sehingga bisa menjadi bangsa yang besar."
Masih adakah orang tua se-Nasionalis seperti beliau, disaat seperti sekarang yang justru terjadi brain drain. Orang pintar banyak yang bukannya membangun negara sendiri, walaupun mungkin mereka ingin membangun Indonesia, malah pergi ke luar negeri dan justru membangun negara lain dengan imbalan dan apresiasi.
Disaat carut marut pemerintahan dan politik yang selalu membuat rakyat kesal, banyak orang munafik yang katanya ingin membangun ternyata malah gak ngapa-ngapain. Disaat aturan dan hukum kebanyakan cuma jadi pajangan, tidak ada yang mentaati dan tidak ada yang menegakkan.
Apa yang akan beliau-beliau katakan jika mengetahui pewaris dari negara yang sudah mereka perjuangkan mati-matian.
Yang gue pikir, kalau mereka bangkit dari kubur, mereka akan bilang, "Saya kecewa nak"
Selasa, 10 Agustus 2010
Langganan:
Komentar (Atom)