kim's blog - reality to share

life is simple
why choose difficults way when there are easy way to go

Senin, 20 Juni 2011

love stories terhapus

maaf love stories tidak relevan dengan blog ini.

Eh kejadian lagi

Jumat, 20 November 2010, Saya pernah menulis blog tentang TKW yang meninggal di luar negeri karena disiksa majikan.

hari sabtu yang lalu 18 Juni 2011, terdapat sebuah berita lagi bahwa TKW Indonesia meninggal dipancung di luar negeri karena membantuk majikan. (eh kejadian lagi).

Saya rasa pasti akan terjadi lagi kejadian yang sama selama pemerintah tidak melakukan perubahan, entah itu beberapa bulan lagi, entah itu beberapa tahun lagi di depan.

Masih belum tertampar juga ya? Apa kisah Manohara tidak menampar bagaimana saat dibutuhkan pemerintah malah tidak ada. Saat Manohara menelepon kedubes dan mengatakan bahwa ini emergency. Tapi apa yang didapat? Dengan seenak jidad operator mengatakan, maaf mbak kami sudah tutup, nanti silahkan telepon lagi. Untungnya dia memiliki kewarganegaraan US, kemudian dia menelpon kedubes itu dan beberapa menit kemudian petugas yang berwenang datang. Apa kita bisa melakukan pelayanan publik seperti itu, secepat itu?

lantas saya jadi mikir, kalau saya keluar negeri dan bekerja disana, apa saya perlu untuk berkewarga-negaraan di negara itu agar saya aman?

prihatin mencontek massal

Bulan juni merupakan waktu yang sangat menegangkan bagi murid sekolah. Mereka yang duduk di tingkat akhir seperti kelas enam SD, kelas tiga SMP, kelas tiga SMA, merasakan bahwa di bulan inilah saat-saat paling berat dan menakutkan dalam hidup mereka. Iya; karena di bulan Juni diadakan Ujian Nasional yang menentukan nasib mereka. Enam tahun belajar di Sekolah Dasar atau tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama atau Sekolah Menengah Atas (SMA) ditentukan dalam beberapa hari.

Ujian Nasional memang menguji beberapa mata pelajaran tetapi juga menguji ketahanan siswa mental menghadapi tekanan yang berat.

Bulan Juni 2011, terjadi peristiwa yang memilukan untuk saya pribadi, mungkin juga memilukan bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa? Di sebuah Sekolah Dasar di Surabaya, seseorang orang tua murid mengadukan kepada walikota bahwa di sekolah anaknya terjadi kecurangan Ujian Nasional dimana anaknya disuruh memberitahukan jawaban ujian kepada semua temannya di kelas. Beberapa waktu kemudian, terdapat aduan lain di kota besar Indonesia lainnya bahwa terdapat aksi yang sama. Hebatnya di kota besar lainnya siswa-siswi disuruh menanda-tangani di atas kertas bahwa mereka akan merahasiakan peristiwa mencontek di kelas. Betapa sebuah kecurangan terorganisir.

Orang tua murid yang melaporkan kejadian tersebut justru dimusuhi oleh warga rumahnya. Apakah karena dianggap tidak kooperatif dan merasa terancam oleh aduan sang pelapor? Warga pun menghardik, mengusirnya dari tempat tinggalnya, mengancam akan membakar rumahnya. Ironis, seseorang yang menyuarakan kejujuran malah dimusuhi oleh banyak orang sehingga tidak berkutik. Inikah potret masyarakat kita? Bagaimana dengan kejadian lain? misalnya skandal yang pernah heboh di senayan?

Ujian Nasional merupakan suatu sistem pendidikan di Indonesia yang dibuat pemerintah. Kejadian kecurangan ujian seharusnya menyatakan bahwa bukan sistemnya yang salah melainkan lemahnya mental kita yang salah. Mental yang tidak kuat akan mencari-cari kelemahan dan menyiasati agar lolos dari sistem bukannya bekerja keras agar melewati sistem dengan benar. Ditambah lagi dukungan dari pihak dalam semakin memperkeruh sistem karena adanya insentif bagi sekolah-sekolah jika mendapatkan hasil Ujian Nasional yang bagus. Kerja keras pun sering dibuai oleh mudahnya melakukan kongkalikong. Mental yang lemah akan menarik-narik mereka agar melakukan kongkalikong.

Yang membuat saya sangat prihatin ialah generasi muda bangsa. Yang seharusnya diajarkan untuk jujur, bermental kuat, dan tangguh ternyata justru orang tua mereka sendiri yang mengajarkan untuk tidak jujur. Wajar saja jika keadaan kita saat ini carut marut. Lantas bagaimana dengan kondisi di masa depan?

Tentu saja perlu tindakan kongkret untuk merubahnya, jika tidak maka keinginan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, jujur, tangguh hanyalah mimpi.

Jumat, 19 November 2010

TKW oh TKW

Yak, untuk ke-puluhan atau mungkin ratusan kalinya ada kabar bahwa TKI tewas di luar negeri. Banyak alasan mengapa mereka tewas dan salah satu yang paling umum adalah disiksa majikan.

PINTAR SEKALI MEDIA MASA, mereka mencari alasan-alasan lain seperti kurang keterampilan dan lainnya lah.

dan melupakan alasan utama dan paling penting.

KARENA TKW HANYALAH PEMBANTU !

lupa ya, bahwa di negara islam, yang namanya pembantu itu sama saja dengan budak (kata dosen saya), mau disiksa kek, diapain kek, sah-sah aja. Namanya juga budak.

STOP PENGIRIMAN PEMBANTU KE LUAR NEGERI
KIRIM ORANG-ORANG TEREDUKASI DAN TERLATIH

Sabtu, 16 Oktober 2010

salah mengeluarkan kata = kerugian besar

Ini adalah sebuah cerita fakta yang saya alami. Seperti waktu-waktu sebelum UTS atau UAS, pasti tempat fotokopian penuh diserbu orang-orang yang mau fotokopi catatan atau bahkan bukunya. Saya tidak punya buku teks berbahasa Indonesia dan buku yang saya pegang sekarang berbahasa Inggris, hufh agak sulit untuk mengerti apalagi pelajaran hafalan, akhirnya saya memfotokopi buku berbahasa Indonesia.

Saya pergi ke perpustakaan lantai bawah di kampus, dimana ada tempat fotokopian yang biasanya sepi dan kualitasnya cukup dibandingkan fotokopian di lobby yang suka salah halamannya, bahkan kadang sudah tebal tapi yang difotokopi lain.

Sudah ada 3 atau 4 orang menunggu. Karena saya baru datang, saya juga menunggu sebentar. Biasanya mas-mas di fotokopian kalo fotokopi banyak minta ditulis di secarik kertas biar inget bagian-bagian mana yang harus difotokopi. Saya pun ingat akan hal itu dan akhirnya menulis "Bab 1--8".

Mas-mas fotokopian ada dua. Yang satu hendak keluar entah kemana, seketika itu saya mengatakan, "mas fotokopi dong, bab 1 - 8."

Tapi mas-mas yang satu ini malah bilang sambil keluar dengan memegang kepala dan rambutnya, "wah gabisa mas, lagi penuh."
Yang bikin saya kesel bukan karena jawabannya yang tidak memuaskan, tetapi sikapnya yang berbicara santai keluar dan seolah-olah menganggap saya tidak penting.

Hmmh satu evaluasi dari mas ini, jangan buat konsumen kecewa. Buat semua konsumen seakan-akan mereka adalah konsumen yang penting. Satu pun konsumen adalah 'uang' atau pemasukan bagi usaha kecil itu. Sayang sekali dia tidak memiliki sikap ramah. Bagaimanapun juga, satu pun konsumen harus dilayani dengan baik karena akan mempengaruhi hubungan jangka panjang usaha itu dan konsumen. Sekali dikecewakan, mungkin konsumen tidak akan kembali lagi sampai kapan pun juga ke tempat itu. Seperti pengalaman saya pada fotokopian di lobby yang suka salah halaman dan bahkan banyak kesalahannya yang membuat saya enggan untuk kembali. Jika konsumen dilayani dengan baik dengan tutur kata yang ramah dan sikap yang ramah, keesokannya konsumen akan kembali lagi dan lagi.

Agak kesal dengan sikap dan cara mas-mas yang pertama berbicara dan cara menguasai konsumen yang kurang baik. Akhirnya saya menunggu sebentar dan berharap jawaban berbeda akan diberi mas-mas kedua.

Mas-mas kedua mendekat karena job order salah satu konsumen sudah selesai. Saya mengatakan lagi, "mas fotokopi dong bab 1 sampai 8". Jawaban mas kedua walaupun mengecewakan juga, tetapi sedikit memberi harapan. "Wah gabisa hari ini mas, ini pada penuh fotokopi semua." Saya juga masih lama membutuhkannya dan akhirnya saya bilang, "kalau besok bisa selesai mas?" Mas-mas kedua pun mengangguk dan menjawab, "bisa."

Fiuuuh, selesai juga.

Memang sebagai seorang akademisi saya bisa toleran dengan kedua mas-mas itu. Mereka hanyalah tenaga terlatih, cuma terlatih untuk mengerjakan order. Tapi mereka melupakan hal yang penting, yaitu konsumen. Konsumen harus dilayani dengan baik pada saat menerima order dan memberi hasil. Karena jika konsumen senang, mereka akan kembali 'dengan membawa uang untuk usaha kecil itu'.

Menerima order :
Inget kesan pertama akan menentukan kelanjutannya. Dalam kasus di atas, apabila frontliner bersikap jutek. Coba pikir bagaimana perasaan pelanggan, kejadian yang ekstrem adalah pelanggan langsung pergi karena tidak puas akan pelayanannya. Pelanggan akan enggan untuk melakukan pembelian ulang akan produk yang dijual di tempat itu.

Yang harus dilakukan adalah membuat pelanggan nyaman, menguasai emosi mereka walaupun hasilnya kurang baik. Misal dalam kasus di atas, bagaimana jika si mas-mas bilang ke pelanggan dengan tersenyum dan bertutur halus dan berkata, "mas, ini fotokopian kami lagi penuh, kalau mas tetep mau fotokopi ini, paling besok baru selesai, gimana mas?" Kalau pelanggan memang butuh secepatnya, mereka akan pergi dan mencari tempat fotokopi lain, tapi dengan keramahan yang telah diberikan mas-mas tadi, kemungkinan mereka untuk kembali pasti tetap ada dan tetap besar. Bandingkan dengan kasus diatas! Sang pelanggan malah jadi enggan untuk kembali.

Contoh lain adalah pada sebuah toko. Seorang pelanggan datang ingin membeli produk X. Kebetulan toko itu tidak menjual barang X. Ada dua pilihan yang bisa dikatakan:

pertama : wah kami gak jual.
jawaban ini akan membuat pelanggan tidak akan kembali lagi karena tahu toko itu tidak menjual barang X.

kedua : wah lagi kosong mas.
strategi ini baik karena memberi harapan kalau toko itu menjual barang walaupun pada kenyataanya tidak. Toko bisa membeli barang X dan kemudian menjualnya. Suatu hari konsumen tadi akan kembali lagi dan menanyakan barang X, dengan hasil yang berbeda karena sekarang barang X tersedia.

Hal penting kedua adalah hasil.
Seorang konsumen akan puas jika hasilnya pun juga baik. Fotokopian yang cepat, tulisannya kelihatan jelas dan tidak buram akan memberi manfaat lebih ke konsumen. Apabila hasil baik, dipastikan konsumen akan kembali membeli produk tersebut.

Itu adalah sedikit gambaran bagaimana salah mengeluarkan kata bisa menyinggung hati konsumen. Semoga bermanfaat untuk produsen.

Selasa, 07 September 2010

you must have identity

29 Agustus 2010

Ada seminar dari pak Adiwarman Karim, seorang ahli syariah. Ceritanya kocak abis, dia cerita IP 2.5. Pernah jadi DJ. Kuliah di dua tempat. Di luar negeri juga kuliah di dua tempat.

Ada sebuah cerita yang pengen gue share

Dia kerja di Amerika dulunya, kemudian Indonesia buat bank Muamalat. Sepertinya pionir bank syariah di Indonesia. Kemudian beliau cerita, karena kuliah di Amerika dan bekerja disana, dia langsung diterima.

Kemudian pak bos bilang, "kamu diterima asal jenggot kamu dipotong yak"

Dengan tegas pak Adi bilang, "Oh sorry, kalo ini tidak bisa. Lebih baik saya tidak jadi kerja disini kalo ini dipotong."

Pak bos bilang, "Okey okey fine, dipendekin aja yah."

Kemudian beliau berkata, kamu itu.. jadi orang harus punya style. just be yourself. kamu harus punya sesuatu yang bisa diidentikkan dengan kamu.

seperti pak Adiwarman yang punya jenggot tebel dan panjang, kalian juga harus punya sesuatu yang mencirikan kalian. Misalnya yang nulis punya jambang.

mana rasa syukurmu

jejaring sosial, entah facebook, twitter, dan lainnya

sering gue liat status:

"arrrgh males kuliah"

"yah besok udah kuliah, males"

"males masuk pagi"

"yah hari ini masuk sampe sore"

"bete di kelas"

"cabut kuliah"

"stress kuliah"

tiba-tiba pas mereka ujian:

"mampus, UTS gue gak ngerti apa-apa"

"ini pelajaran susah banget"

KENAPA??
KENAPA??
KENAPA??

mental akademisi kayak gini kebanyakan.
Inikah calon pemimpin bangsa negeri ini di masa depan?

Dimana rasa syukur mereka
Rasa syukur bisa mengenyam pendidikan tinggi
Rasa syukur, setidaknya mereka kerja dengan gaji yang cukup untuk hidup nantinya

Pernahkah mereka melihat orang dibawah
Yang bahkan untuk masuk SMA aja was-was karena takut biaya mahal
Yang bahkan sudah diterima di sekolah terbaik tapi mesti resign karena tidak memiliki biaya

kawan..
tetap semangat
jangan bermental lemah seperti mereka!
bersyukurlah dengan giat belajar, tekun, tanpa kenal lelah
dan jangan lupa bersyukur kepada Yang Maha Kuasa