sebuah pengalaman yang membuat hati agak jengkel ketika melihat sepeda motor. Yap, mungkin hampir semua pengendara mobil akan mengatakan hal yang sama bahkan saya sendiri seorang pengendara sepeda motor pun terkadang harus menahan emosi ketika pengendara sepeda motor mengendarai kendaraannya dengan ugal-ugalan dan seenaknya. Hal ini tercermin jelas walaupun bukan semua pengendara sepeda motor seperti itu tetapi mayoritas bersikap seperti itu.
Saya beserta teman saya yaitu pendi dan aman pergi ke mal Taman Anggrek. Sepulangnya
dari Taman Anggrek kami menggunakan bus Transjakarta.
Bis pertama lewat begitu saja tanpa berhenti (dalem hati, "Lho kok gak berhenti." Kemudian saya berpikir kalo memang bukan jalurnya disitu, "ohh yaudah." dalam hati saya bergumam).
Bis kedua berhenti tapi cuma menurunkan penumpang saja. Saya bingung kok cuman menurunkan penumpang saja sedangkan ada penumpang di depan saya yang hendak masuk bis tetapi dihalangi oleh petugasnya dan sang penumpang disuruh mundur dengan halus oleh petugas. Kemudian bis kedua itu pergi begitu saja dengan keadaan kosong penumpang.
Bis ketiga selanjutnya lewat tanpa berhenti. Lama menunggu di shelter busway depan mal Taman Anggrek membuat keringat bercucuran. Ditambah teriknya cahaya matahari yang membuat penumpang di depan saya mengeluarkan dan membuka payungnya. Untung orang di depan saya bertubuh tinggi sehingga panasnya matahari tertutup oleh badannya. Tetapi itu tidak berpengaruh banyak, saya tetap merasakan cucuran keringat yang mengalir di belakang punggung saya.
Akhirnya bis keempat pun datang. petugas bis bilang, "lebak bulus lebak bulus". Dalam hati, "ohh ini bis saya." Saya masuk dengan bergerombol. Tempat duduk pun langsung penuh karena penumpang yang mengantri dari tadi juga banyak. Akhirnya saya berdiri dan memilih untuk ke depan karena di depan ada tiang untuk saya bersandar.
didepan, saya bisa melihat keadaan jalan di depan bis. Bis Transjakarta adalah bis yang memiliki jalur sendiri dan itu harus steril dari kendaraan lain. Bahkan masih ingat dalam ingatan saya wakil presiden Hamzah Haz dalam sebuah pemberitaan di media masa waktu itu saja tidak boleh masuk busway jalur bis Transjakarta bahkan beliau sampai meminta maaf karena telah masuk jalur busway. Nah sekarang ada banyak mobil butut sampe mobil mewah, motor butut sampe motor biasa, bis butut, truk butut. Lah kok bisa-bisanya masuk busway Transjakarta yang sudah diberi separator. Memangnya siapa mereka, anak sultan mana? anak presiden negara mana? anak raja siapa? BOOO! Inilah cermin masyarakat Indonesia (no offense) tetapi saya pun juga kecewa apalagi kalau lagi naik bis Transjakarta yang seharusnya bisa melaju mulus eh malah terkena macet juga. Sekali lagi bisa dikatakan inilah cermin masyarakat yang susah "dikandani". Aturan sudah ada bukannya mentaatinya eh malah dilanggar.
= Cermin perilaku suatu masyarakat terlihat dari perilaku masyarakatnya di jalan =
Dua kejadian yang terjadi berurutan terkait dengan sepeda motor.
Kejadian pertama,
di depan ada sebuah tempat untuk berputar arah (U-turn) dari arah sebaliknya. Supir bis sudah mengklakson berkali-kali agar mereka tahu dan berhenti dulu sejenak. Dua buah sepeda motor berhenti sebelum berbelok. Tiba-tiba sebuah sepeda motor dimana pengendaranya menggunakan helm putih main langsung putar saja. Padahal sang supir bis sudah mengklakson berkali-kali dari jauh bahkan sampai dekat masih di klakson. Sepeda motor main belok begitu saja tanpa melihat ke ke arah jalan dimana ia mau berbelok. Syukurlah sang supir bis Transjakarta dengan sabar dan mungkin gondok mengerem bisnya sehingga mengakibatkan penumpang seperti terpental ke depan. Dalam hati saya bergumam, "GOBLOK! Gak lihat apa ada bis bahkan sudah klakson berkali-kali, Lo kira diri lo kereta api apa gak bisa berhenti, eh tetep aja belok. Etikanya lo liat dulu jalannya. Baru kalau ada kesempatan berbelok baru belok." Si pengendara motor pun ketika diklakson bukannya berhenti eh malah menambah kecepatannya dan memaksakan jalan yang padahal tidak cukup. "BODOH!, meresikokan nyawa hanya karena malas menunggu 5 detik saja." Sang supir bis Transjakarta sampai geleng-geleng kepala menghadapi perilaku bermental kampung seperti itu.
Kejadian kedua,
Terjadi lagi di sebuah U-turn yang berbeda. Sebuah pengendara Vario biru, tidak memakai helm, dan menaruh anaknya di depan. Lampu rambu lalu-lintas sudah hijau untuk bis. Si pengendara Vario mau berputar. Sang supir bis Transjakarta sudah mengklakson agar si pengemudi berhenti. Si pengendara motor dengan sok nya mengklakson balik dan perlahan maju ke depan seakan-akan menantang bis. Lucu.. motor disenggol sedikit saja sudah jatuh. Ini kok berani-beraninya menantang bis. Sang pengemudi juga maju. si pengemudi motor juga maju. Akhirnya sang supir bis Transjakarta mengerem bisnya kembali. Sang pengendara motor yang sok berani kemudian membusungkan dadanya sambil jalan.
Dua kejadian diatas membuat hati saya bergejolak. Betapa tidak. Inilah cerminan perilaku masyarakat di jalan yang secara tidak langsung mencerminkan masyarakatnya. Satu hal yang dapat saya petik adalah bahwa banyak pengendara tidak memiliki etika berkendara di jalan. Entah apakah (menurut saya) kebanyakan pengendara motor adalah orang-orang yang tidak berpendidikan atau mereka adalah orang kampung yang langsung beli motor dan jalan begitu saja sehingga tidak mengenal yang namanya keselamatan berkendara, tidak perhitungan, gaya-gaya ugal-ugalan sehingga meyusahkan orang lain. Mereka tidak punya etika di jalan.
Tolonglah etika moral, bermental sesuai aturan dan disiplin berkendara dijunjung tinggi. Jika tidak, hal inilah yang menyebabkan banyaknya orang stress di jalan.
Senin, 18 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.