suatu hari gue pergi sama Bapak, Ibu, dan kakak buat nyari lokasi tes kerja kakak gue di Cakung. Kami gak tahu lokasinya ada dimana. Kami cuma mengandalkan sebuah peta jakarta yang gue beli beberapa bulan sebelumnya.
Kami sudah sampai di jalan besar dimana ada jalan tol di sebelah kanan. Akan tetapi kami tidak tahu dimana lokasi tesnya. Kami jalan pelan-pelan melihat ke kiri dan perhatiin nama jalan. Ada sebuah nama jalan yang sama tapi nomornya berbeda dan jalan itu cukup besar. Kami pun belok kiri dengan keyakinan Bapak kalau jalannya benar. Eh tiba-tiba Bapak berhenti karena melihat beberapa orang tukang ojek sedang mangkal. Melihat mereka, Bapak berinisiatif untuk bertanya. Dibuka lah jendela dan kami pun bertanya. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa kami salah belok. Seharusnya kami lurus saja karena lokasinya berada di sebelah kiri jalan besar. Karena kami masih agak di belokan, Bapak memutuskan untuk mundur saja daripada puter arah, jauh gan muternya.
Mobil mundur perlahan. Tiba-tiba salah satu dari tukang ojek berlari kemudian bertingkah seperti pak ogah.
"Ayoo ayoo pak saya bantu mundur" katanya. Gue seneng nih ada orang bilang gitu, alhamdulillah ada yang mau bantu.
"Teruuus... Teruus... kosong pak."
Ketika sudah selesai. Bapak nyari-nyari uang seribuan, gak ketemu. Minta Ibu, ibu gak punya juga. Alhasil gak ada. Akhirnya Bapak cuma bilang, "terima kasih mas"
dengan muka sinis si tukang ojek item jelek bau bilang, "Yee.. makasih doang"
"What?" (dalam hati gue).. Anjiir ini manusia minta digaplok.. Kami pergi begitu saja setelah ia bilang itu.
Bapak bilang, "Ini Jakarta.. apa-apa pasti pake duit" (hati gue masih bergejolak)
Okee ini Jakarta, we can't live without money now. Tapi itu kan salah.. memberi pertolongan demi uang.. paling berapa sih? seribu? Setelah sekian detik berada pergi sama si abang itu. Gue mikir, bahkan rela deh ngeluarin uang 50 ribu rupiah asal sebelumnya gue ludahin tuh uang terus gue lipet.
Astaga.. eh tapi itu pantes buat dia, nolong kok demi uang, seribu lagi.
Inilah cerminan masyarakat modern. Yap, semua pasti butuh uang untuk tetap hidup. Tapi dimanakah nilai-nilai yang ditanamkan kepada mereka agar menolong dengan tulus ikhlas. Apakah mereka tidak diajarkan oleh orang tua mereka atau mereka adalah kaum menengah ke bawah yang memang tidak mendapat pendidikan yang layak sehingga yang mereka tahu hanyalah mencari uang dan makan. Ada juga yang sampai menjual anaknya yang baru lahir demi uang. Semua karena uang. Sampel itu sudah menunjukkan betapa kita diperbudak oleh uang. Menolong demi uang bukannya monolong dengan tulus ikhlas adalah salah.
Apa yang bisa kita dapat jika kita menolong demi seribu? sama saja harganya dengan ngemis. Sama saja dengan orang pipis. Paling buat apa sih itu uang, dalam sehari juga habis buat beli rokok. Sesungguhnya apabila kita menolong dengan ikhlas kita akan mendapat harga yang berkali-kali lipat lebih besar dari uang seratus seribu rupiah. Sebuah investasi yang hasilnya akan kita petik di hari akhir nanti. Yang mungkin akan menolong kita kelak. Sayang manusia sudah diperbudak oleh uang. Bukannya mendekatkan diri kepada sang Pencipta eh malah mendekatkan diri ke tanah kuburannya (ya iya lah, ngerokok gitu). Tidak ada pahala yang didapat kalau begitu. Kita lebih perduli kehidupan duniawi daripada hari akhir.
Sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata
Jumat, 02 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
kalimat terakhir itu, ayat alquran bukan ya?
BalasHapusahahaha,, iya maii.. cuplikan ayat
BalasHapus