kim's blog - reality to share

life is simple
why choose difficults way when there are easy way to go

Selasa, 14 Februari 2012

Kearifan Pak Theo

Semester 5.

Hari Jumat adalah hari dimana gue mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan membaca sampai mengerti materi kuliah sebelum kuliah dimulai.

Hari jumat selalu membuat jantung gue berdebar kencang.

Jam 2 merupakan jam yang kurang menyenangkan buat gue.

Jam 2 kelas Pengauditan 1 dimulai.

Sebuah kelas yang diajar oleh dosen senior yang sudah mengajar lebih dari 40 tahun.

Seorang professional auditor yang sudah pensiun dari CEO sebuah Big Four. Ketika ia datang, semua terdiam.

Ia ditemani oleh supirnya yang juga sudah tua. Supirnya berbadan bungkuk namun terlihat bersemangat menemani beliau. Setelah menaruh tas. Dosen gue membuka laptopnya.

Seperti biasa, ketika masuk kelas ia hanya memastikan, "Hari ini materi kuliahnya tentang ... ya?"

"Ada yang mau ditanyakan dari materi itu?" lanjutnya. "Kalau tidak ada saya pulang nih."

30 menit pun berlalu, dan tidak ada seorang pun yang berani mengajukan pertanyaan.

Kemudian ia membaca sebuah berita tentang pidato terakhir mengenai kematian yang diucapkan Steve Jobs (ketika itu, Steve Jobs baru saja meninggal).

Beliau membacakan pidato terakhir Steve Jobs di depan semua mahasiswa di kelas.

Pidato tersebut berisi tentang kehidupan kita dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita karena setelah kita meninggal, kita tidak membawa apapun.

Itu adalah satu pelajaran hidup yang diambil oleh beliau dari internet.

Andaikan dalam sehari saja kita mengambil satu pelajaran hidup. Sudah berapa banyak pelajaran yang kita miliki dalam menjalani hidup ini?

Pantaslah beliau menjadi orang yang arif karena beliau banyak mengambil pelajaran hidup untuk kemudian menjadi hikmah bagi kehidupannya. Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi orang yang arif seperti beliau?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.