Diiringi dengan lagu yang sedang gue putar, "Thank's God It's Friday" nya RAN. Mungkin gue ga begitu ngerti maksud lagu RAN. Tapi ada satu hal yang gue ngerti hanya dari judulnya. Pertama bersyukur kepada Tuhan. Kedua hari Jumat, hari yang menurut agama gue adalah hari terbaik. Trus?. Iya, generalisirnya adalah terima kasih gue bisa diberi kesempatan lagi untuk beribadah dan memohon ampunan kepada Tuhan YME. Karena Dialah gue masih bisa bernafas hingga detik ini.
Satu gelas kopi besar udah gue habisin. Awalnya niat mau baca buku Godfrey, alias Teori Akuntansi Keuangan yang udah masuk ilmu dewa. Eh gue malah chat sama doi dan buka-buka youtube. Dimulai dari dengerin lagu Enggo Lari-nya Yopie Latul sampai RAN (lagi). Dan ketika gue buka Thanks God It'ds Friday, gue jadi pengen nulis. Menulis di blog ini tentang sesuatu yang bahkan bukan guru agama yang ngajarin. Tapi justru dosen senior yang top banget. Bukan mata kuliah agama melainkan mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen.
Awalnya beliau hanya bercerita tentang seorang direktur utama pt xxx. Perusahaan yang memproduksi rokok di Indonesia. Beliau menceritakan bahwa sang direktur gak mau urusan sama hal-hal yang nilainya dibawah satu juta US dollar. Begini kata-kata sang direktur, "If you talk about less than one million dollar, go find other person. Dont discuss it with me". Gila!, arogan juga ini direktur. Mungkin itu ekspresi yang dikeluarkan dosen gue. Tapi mulailah ada rasionalisasi-nya. Iya juga ya, kan perusahaannya dapet laba bruto sekitar 40 triliunan rupiah. Kalo ngurusin dibawah 1 juta dollar pasti akan banyak banget urusannya sedangkan waktunya terbatas.
Lanjut cerita dosen gue menceritakan temannya yang lain. Seorang temannya dalam sebulan bisa menghasilkan nilai triliunan juga. Dosen gue cerita gini,
"Kemaren saya ketemu teman saya, dia bilang kita hidup ini buat apa sih."
"Kita kaya toh juga gak dibawa ke akhirat."
"Wah ini orang badannya masih disini tapi jiwanya udah di San Diego hills kali ya (dalem hati dosen gue)"
"Wah ini orang sekarang bisa ngomong kayak gini karena emang udah kaya banget. Udah gak mikirin duit. Saya yakin pas masih muda pasti prioritas 1 uang, prioritas 2 uang, prioritas 3 juga uang. Bahkan kalo ditanya prioritas 10 juga masih uang kali tuh."
Selain itu
Gue keinget hari minggu. Gue lagi duduk mendengar pembicaraan dua wanita. Mereka lagi ngomongin satu alumni cewek yang udah tua. Cewek itu tajirnya gatau berapa. Yang pasti kayaknya tajir banget. Satu bilang, wah dia tajir banget sampai punya perkumpulan. Perkumpulan itu temen-temennya ada dari India, dan negara lainnya. Dia udah jalan ke Eropa, Irak, di Indonesia pun semua tempat udah didatengin. Kayak pantai yang bagus banget di papua itu, apa namanya? Yang satu lagi menjawab, "Raja Ampat". Iya, Raja Ampat juga pernah didatengin. Duh enak banget deh tajir.
Gue hanya bisa termenung mendengar pembicaraan kedua orang itu. Disaat itu teringet pembicaraan dosen gue mengenai temannya yang jiwanya udah di San Diego Hills.
Ketika muda pasti kita ngejar duniawi banget. Tapi kalo udah tua baru inget Tuhan. Soal Try Out pas SMA juga mengingatkan cerita tentang Umar Kayam. Isinya kalo gak salah tentang masa muda mengejar harta namun setelah pensiun barulah kita mulai rajin sembahyang. Apa bener ya, preferensi ingat Tuhan ketika udah tajir dan udah tua.
Tapi itu salah deh.
Waktu muda, kalo udah diisi dengan ibadah akan lebih baik daripada ibadah ketika udah tua. Mumpung masih dikasi kesempatan memperberat amal kebaikan kenapa gak dilakuin dari muda. Ibadah udah kayak nabung di bank. Kalo dari muda udah rajin nabung, akan berapa besar pas udah tua. Beda halnya dengan orang yang mulai ibadah pas udah tua. Pastinya tua akan kalah kuantitas tabungannya dengan yang masih muda. Beruntung sekali orang-orang yang di masa mudanya sudah beribadah dengan kualitas yang baik.
Sebuah riwayat, "orang yang cerdas adalah orang yang dimasa hidupnya sering mengingat akhirat dan menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk akhirat.
Sebuah ayat, "Namun hanya sedikit dari kamu yang pandai bersyukur."
Jangan sampai ketika hari akhir datang kita akan berkata, "Aduhai celakalah kami. Sesungguhnya kami telah mendustakan Allah. Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zalim"
atau, "mereka berkata, jika kami dihidupkan kembali ke muka bumi. Pastilah kami akan rajin-rajin beribadah kepada Allah. Namun jika mereka kembali dihidupkan, mereka kemudian akan ingkar terhadap janjinya dan melupakan Allah. Dan setelah mereka dimatikan kembali, mereka akan berkata celakalah kami. Apa saja yang telah kami perbuat di dunia sehingga kami lupa beribadah. Dan mereka meminta kesempatan diberi kesempatan lagi dihidupkan. Namun itu semua sudah telambat.
nb: riwayat dan ayat adalah seinget gue. Kata-katanya gak sama persis tapi intinya seperti itu.
Mencari rejeki itu diwajibin dalam agama, tapi juga harus diimbangi dengan ibadah. Akan lebih baik lagi kalo rejeki yang melimpah juga digunakan untuk membantu sesama. Dan juga rejeki yang melimpah digunakan untuk hal-hal yang membantu ibadah.
Ketika kita sudah diatas jangan lupa darimana asal kita
--- the end---
Senin, 12 Maret 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.