Semester 5.
Hari Jumat adalah hari dimana gue mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan membaca sampai mengerti materi kuliah sebelum kuliah dimulai.
Hari jumat selalu membuat jantung gue berdebar kencang.
Jam 2 merupakan jam yang kurang menyenangkan buat gue.
Jam 2 kelas Pengauditan 1 dimulai.
Sebuah kelas yang diajar oleh dosen senior yang sudah mengajar lebih dari 40 tahun.
Seorang professional auditor yang sudah pensiun dari CEO sebuah Big Four. Ketika ia datang, semua terdiam.
Ia ditemani oleh supirnya yang juga sudah tua. Supirnya berbadan bungkuk namun terlihat bersemangat menemani beliau. Setelah menaruh tas. Dosen gue membuka laptopnya.
Seperti biasa, ketika masuk kelas ia hanya memastikan, "Hari ini materi kuliahnya tentang ... ya?"
"Ada yang mau ditanyakan dari materi itu?" lanjutnya. "Kalau tidak ada saya pulang nih."
30 menit pun berlalu, dan tidak ada seorang pun yang berani mengajukan pertanyaan.
Kemudian ia membaca sebuah berita tentang pidato terakhir mengenai kematian yang diucapkan Steve Jobs (ketika itu, Steve Jobs baru saja meninggal).
Beliau membacakan pidato terakhir Steve Jobs di depan semua mahasiswa di kelas.
Pidato tersebut berisi tentang kehidupan kita dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita karena setelah kita meninggal, kita tidak membawa apapun.
Itu adalah satu pelajaran hidup yang diambil oleh beliau dari internet.
Andaikan dalam sehari saja kita mengambil satu pelajaran hidup. Sudah berapa banyak pelajaran yang kita miliki dalam menjalani hidup ini?
Pantaslah beliau menjadi orang yang arif karena beliau banyak mengambil pelajaran hidup untuk kemudian menjadi hikmah bagi kehidupannya. Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi orang yang arif seperti beliau?
Selasa, 14 Februari 2012
Rabu, 11 Januari 2012
kiat ESEMKA - KITA SEHARUSNYA NARSIS
Beberapa hari ini pemberitaan ramai dengan mobil rakitan dalam negeri yang berasal dari wilayah dekat Surakarta alias Solo. Itulah mobil yang dibuat oleh teman-teman kita dari SMK yang bernama kiat Esemka. Bangga? pasti! Tapi bukan kebanggaan yang gue pengen. Gue pengen industri otomotif ini tetap eksis bahkan bisa mendunia.
Pemberitaan media massa pernah memuat berita dengan judul Djowi Jangan Narsis. Sekilas memang bikin miris. Gimana enggak, ini industri dalam negeri. Percaya gak percaya, industri ini bisa memberi pendapatan yang sangat besar bagi wilayahnya, menyerap ratusan ribu tenaga kerja jika perusahaan sudah besar, banyak pihak yang akan diuntungkan. Pada akhirnya, pendapatan yang masuk negara pun bisa meningkat. Jika dikelola dengan baik, maka kemakmuran masyarakat akan meningkat karena uang itu akan didstribusikan kembali ke masyarakat terutama ke kaum miskin.
Harapan gue, kita harus mendukung industri dalam negeri. Seperti yang pernah diserukan mantan presiden kita yang pernah ditakuti dunia, bung Karno. Berdikari - Berdiri Diatas Kaki Sendiri tidak tergantung pada negara lain. Minimal dengan membelinya bahkan bernarsis ria dengan mobil dalam negeri ini. bisa kan dibawa jalan-jalan keluar kota pamer ke daerah lain pamer mobil Esemka. Bahkan kalo bisa dibawa mejeng sampe ke luar negeri.
Harapan gue, semoga RI 1 juga memakainya. Kebangaan Presiden, kebanggaan rakyatnya. Yah pastinya mesti dikustomisasi sedikit, misalnya dilapis baja anti peluru, kaca anti peluru, ban anti tembak dan lain sebagainya kayak mobilnya Om Obama. Bahkan mobil yang milyaran yang dipake RI sekian, diganti aja sama mobil Esemka. Katanya mau majuin negeri. Buktiin dong dengan mobil Esemka dan memakainya jangan pake yg mahal itu. Kalo begitu kan berarti memang Anda ikut meningkatkan perekonomian negara bukan cuma nyanyi pas kampanye.
Semoga saja tidak ada pihak yang ingin menjatuhkan industri ini. Jangan sampai seperti ketika PT Dirgantara Indonesia sedang jaya, ada yang bilang, "kita gak butuh mainan pesawat-pesawatan yang kita butuhkan nasi supaya petani makmur." Hmmh kalo gue tahu siapa yang ngomong itu, pengen banget gue datengin dan gue teriakin persis 2cm di muke dia, "GOBLOK LU!". Sekali lagi, jika industri ini maju dan gue berandai-andai seperti Boeing saja. WOOWW AKAN BETAPA MAKMURNYA BUMI PERTIWI KITA INI. DAN GUE RASA PETANI PUN AKAN TERANGKAT KARENA DAYA BELI MASYARAKAT NAIK DAN MAMPU MEMBELI PADI DENGAN HARGA YANG LEBIH MAHAL. Lihat kan efeknya secara makro gede. Kalo kata dosen gue bukan gede lagi, GUEEEDEEE BUAANGEEET. Jadi buat orang-orang yang tak berisi otaknya. Jangan sampai ada statement aneh-aneh yang memundurkan industri yang mungkin akan jadi kebanggan negara kita ini. Terbukti dengan perkataan mainan pesawat-pesawatan kalian, kalian tidak mendukung industri negeri ini. Kalian tidak memihak rakyat. Tidak pantas kalian ada untuk mewakili kami. Banyak orang-orang pintar dan jenius kita pergi ke luar karena muak sama kalian.
Sekian. Gue harap beberapa dekade ke depan. Industri otomotif karya anak bangsa bahkan sudah ada di event internasional dengan membanggakan.
Pemberitaan media massa pernah memuat berita dengan judul Djowi Jangan Narsis. Sekilas memang bikin miris. Gimana enggak, ini industri dalam negeri. Percaya gak percaya, industri ini bisa memberi pendapatan yang sangat besar bagi wilayahnya, menyerap ratusan ribu tenaga kerja jika perusahaan sudah besar, banyak pihak yang akan diuntungkan. Pada akhirnya, pendapatan yang masuk negara pun bisa meningkat. Jika dikelola dengan baik, maka kemakmuran masyarakat akan meningkat karena uang itu akan didstribusikan kembali ke masyarakat terutama ke kaum miskin.
Harapan gue, kita harus mendukung industri dalam negeri. Seperti yang pernah diserukan mantan presiden kita yang pernah ditakuti dunia, bung Karno. Berdikari - Berdiri Diatas Kaki Sendiri tidak tergantung pada negara lain. Minimal dengan membelinya bahkan bernarsis ria dengan mobil dalam negeri ini. bisa kan dibawa jalan-jalan keluar kota pamer ke daerah lain pamer mobil Esemka. Bahkan kalo bisa dibawa mejeng sampe ke luar negeri.
Harapan gue, semoga RI 1 juga memakainya. Kebangaan Presiden, kebanggaan rakyatnya. Yah pastinya mesti dikustomisasi sedikit, misalnya dilapis baja anti peluru, kaca anti peluru, ban anti tembak dan lain sebagainya kayak mobilnya Om Obama. Bahkan mobil yang milyaran yang dipake RI sekian, diganti aja sama mobil Esemka. Katanya mau majuin negeri. Buktiin dong dengan mobil Esemka dan memakainya jangan pake yg mahal itu. Kalo begitu kan berarti memang Anda ikut meningkatkan perekonomian negara bukan cuma nyanyi pas kampanye.
Semoga saja tidak ada pihak yang ingin menjatuhkan industri ini. Jangan sampai seperti ketika PT Dirgantara Indonesia sedang jaya, ada yang bilang, "kita gak butuh mainan pesawat-pesawatan yang kita butuhkan nasi supaya petani makmur." Hmmh kalo gue tahu siapa yang ngomong itu, pengen banget gue datengin dan gue teriakin persis 2cm di muke dia, "GOBLOK LU!". Sekali lagi, jika industri ini maju dan gue berandai-andai seperti Boeing saja. WOOWW AKAN BETAPA MAKMURNYA BUMI PERTIWI KITA INI. DAN GUE RASA PETANI PUN AKAN TERANGKAT KARENA DAYA BELI MASYARAKAT NAIK DAN MAMPU MEMBELI PADI DENGAN HARGA YANG LEBIH MAHAL. Lihat kan efeknya secara makro gede. Kalo kata dosen gue bukan gede lagi, GUEEEDEEE BUAANGEEET. Jadi buat orang-orang yang tak berisi otaknya. Jangan sampai ada statement aneh-aneh yang memundurkan industri yang mungkin akan jadi kebanggan negara kita ini. Terbukti dengan perkataan mainan pesawat-pesawatan kalian, kalian tidak mendukung industri negeri ini. Kalian tidak memihak rakyat. Tidak pantas kalian ada untuk mewakili kami. Banyak orang-orang pintar dan jenius kita pergi ke luar karena muak sama kalian.
Sekian. Gue harap beberapa dekade ke depan. Industri otomotif karya anak bangsa bahkan sudah ada di event internasional dengan membanggakan.
Senin, 20 Juni 2011
Eh kejadian lagi
Jumat, 20 November 2010, Saya pernah menulis blog tentang TKW yang meninggal di luar negeri karena disiksa majikan.
hari sabtu yang lalu 18 Juni 2011, terdapat sebuah berita lagi bahwa TKW Indonesia meninggal dipancung di luar negeri karena membantuk majikan. (eh kejadian lagi).
Saya rasa pasti akan terjadi lagi kejadian yang sama selama pemerintah tidak melakukan perubahan, entah itu beberapa bulan lagi, entah itu beberapa tahun lagi di depan.
Masih belum tertampar juga ya? Apa kisah Manohara tidak menampar bagaimana saat dibutuhkan pemerintah malah tidak ada. Saat Manohara menelepon kedubes dan mengatakan bahwa ini emergency. Tapi apa yang didapat? Dengan seenak jidad operator mengatakan, maaf mbak kami sudah tutup, nanti silahkan telepon lagi. Untungnya dia memiliki kewarganegaraan US, kemudian dia menelpon kedubes itu dan beberapa menit kemudian petugas yang berwenang datang. Apa kita bisa melakukan pelayanan publik seperti itu, secepat itu?
lantas saya jadi mikir, kalau saya keluar negeri dan bekerja disana, apa saya perlu untuk berkewarga-negaraan di negara itu agar saya aman?
hari sabtu yang lalu 18 Juni 2011, terdapat sebuah berita lagi bahwa TKW Indonesia meninggal dipancung di luar negeri karena membantuk majikan. (eh kejadian lagi).
Saya rasa pasti akan terjadi lagi kejadian yang sama selama pemerintah tidak melakukan perubahan, entah itu beberapa bulan lagi, entah itu beberapa tahun lagi di depan.
Masih belum tertampar juga ya? Apa kisah Manohara tidak menampar bagaimana saat dibutuhkan pemerintah malah tidak ada. Saat Manohara menelepon kedubes dan mengatakan bahwa ini emergency. Tapi apa yang didapat? Dengan seenak jidad operator mengatakan, maaf mbak kami sudah tutup, nanti silahkan telepon lagi. Untungnya dia memiliki kewarganegaraan US, kemudian dia menelpon kedubes itu dan beberapa menit kemudian petugas yang berwenang datang. Apa kita bisa melakukan pelayanan publik seperti itu, secepat itu?
lantas saya jadi mikir, kalau saya keluar negeri dan bekerja disana, apa saya perlu untuk berkewarga-negaraan di negara itu agar saya aman?
prihatin mencontek massal
Bulan juni merupakan waktu yang sangat menegangkan bagi murid sekolah. Mereka yang duduk di tingkat akhir seperti kelas enam SD, kelas tiga SMP, kelas tiga SMA, merasakan bahwa di bulan inilah saat-saat paling berat dan menakutkan dalam hidup mereka. Iya; karena di bulan Juni diadakan Ujian Nasional yang menentukan nasib mereka. Enam tahun belajar di Sekolah Dasar atau tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama atau Sekolah Menengah Atas (SMA) ditentukan dalam beberapa hari.
Ujian Nasional memang menguji beberapa mata pelajaran tetapi juga menguji ketahanan siswa mental menghadapi tekanan yang berat.
Bulan Juni 2011, terjadi peristiwa yang memilukan untuk saya pribadi, mungkin juga memilukan bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa? Di sebuah Sekolah Dasar di Surabaya, seseorang orang tua murid mengadukan kepada walikota bahwa di sekolah anaknya terjadi kecurangan Ujian Nasional dimana anaknya disuruh memberitahukan jawaban ujian kepada semua temannya di kelas. Beberapa waktu kemudian, terdapat aduan lain di kota besar Indonesia lainnya bahwa terdapat aksi yang sama. Hebatnya di kota besar lainnya siswa-siswi disuruh menanda-tangani di atas kertas bahwa mereka akan merahasiakan peristiwa mencontek di kelas. Betapa sebuah kecurangan terorganisir.
Orang tua murid yang melaporkan kejadian tersebut justru dimusuhi oleh warga rumahnya. Apakah karena dianggap tidak kooperatif dan merasa terancam oleh aduan sang pelapor? Warga pun menghardik, mengusirnya dari tempat tinggalnya, mengancam akan membakar rumahnya. Ironis, seseorang yang menyuarakan kejujuran malah dimusuhi oleh banyak orang sehingga tidak berkutik. Inikah potret masyarakat kita? Bagaimana dengan kejadian lain? misalnya skandal yang pernah heboh di senayan?
Ujian Nasional merupakan suatu sistem pendidikan di Indonesia yang dibuat pemerintah. Kejadian kecurangan ujian seharusnya menyatakan bahwa bukan sistemnya yang salah melainkan lemahnya mental kita yang salah. Mental yang tidak kuat akan mencari-cari kelemahan dan menyiasati agar lolos dari sistem bukannya bekerja keras agar melewati sistem dengan benar. Ditambah lagi dukungan dari pihak dalam semakin memperkeruh sistem karena adanya insentif bagi sekolah-sekolah jika mendapatkan hasil Ujian Nasional yang bagus. Kerja keras pun sering dibuai oleh mudahnya melakukan kongkalikong. Mental yang lemah akan menarik-narik mereka agar melakukan kongkalikong.
Yang membuat saya sangat prihatin ialah generasi muda bangsa. Yang seharusnya diajarkan untuk jujur, bermental kuat, dan tangguh ternyata justru orang tua mereka sendiri yang mengajarkan untuk tidak jujur. Wajar saja jika keadaan kita saat ini carut marut. Lantas bagaimana dengan kondisi di masa depan?
Tentu saja perlu tindakan kongkret untuk merubahnya, jika tidak maka keinginan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, jujur, tangguh hanyalah mimpi.
Ujian Nasional memang menguji beberapa mata pelajaran tetapi juga menguji ketahanan siswa mental menghadapi tekanan yang berat.
Bulan Juni 2011, terjadi peristiwa yang memilukan untuk saya pribadi, mungkin juga memilukan bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa? Di sebuah Sekolah Dasar di Surabaya, seseorang orang tua murid mengadukan kepada walikota bahwa di sekolah anaknya terjadi kecurangan Ujian Nasional dimana anaknya disuruh memberitahukan jawaban ujian kepada semua temannya di kelas. Beberapa waktu kemudian, terdapat aduan lain di kota besar Indonesia lainnya bahwa terdapat aksi yang sama. Hebatnya di kota besar lainnya siswa-siswi disuruh menanda-tangani di atas kertas bahwa mereka akan merahasiakan peristiwa mencontek di kelas. Betapa sebuah kecurangan terorganisir.
Orang tua murid yang melaporkan kejadian tersebut justru dimusuhi oleh warga rumahnya. Apakah karena dianggap tidak kooperatif dan merasa terancam oleh aduan sang pelapor? Warga pun menghardik, mengusirnya dari tempat tinggalnya, mengancam akan membakar rumahnya. Ironis, seseorang yang menyuarakan kejujuran malah dimusuhi oleh banyak orang sehingga tidak berkutik. Inikah potret masyarakat kita? Bagaimana dengan kejadian lain? misalnya skandal yang pernah heboh di senayan?
Ujian Nasional merupakan suatu sistem pendidikan di Indonesia yang dibuat pemerintah. Kejadian kecurangan ujian seharusnya menyatakan bahwa bukan sistemnya yang salah melainkan lemahnya mental kita yang salah. Mental yang tidak kuat akan mencari-cari kelemahan dan menyiasati agar lolos dari sistem bukannya bekerja keras agar melewati sistem dengan benar. Ditambah lagi dukungan dari pihak dalam semakin memperkeruh sistem karena adanya insentif bagi sekolah-sekolah jika mendapatkan hasil Ujian Nasional yang bagus. Kerja keras pun sering dibuai oleh mudahnya melakukan kongkalikong. Mental yang lemah akan menarik-narik mereka agar melakukan kongkalikong.
Yang membuat saya sangat prihatin ialah generasi muda bangsa. Yang seharusnya diajarkan untuk jujur, bermental kuat, dan tangguh ternyata justru orang tua mereka sendiri yang mengajarkan untuk tidak jujur. Wajar saja jika keadaan kita saat ini carut marut. Lantas bagaimana dengan kondisi di masa depan?
Tentu saja perlu tindakan kongkret untuk merubahnya, jika tidak maka keinginan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, jujur, tangguh hanyalah mimpi.
Jumat, 19 November 2010
TKW oh TKW
Yak, untuk ke-puluhan atau mungkin ratusan kalinya ada kabar bahwa TKI tewas di luar negeri. Banyak alasan mengapa mereka tewas dan salah satu yang paling umum adalah disiksa majikan.
PINTAR SEKALI MEDIA MASA, mereka mencari alasan-alasan lain seperti kurang keterampilan dan lainnya lah.
dan melupakan alasan utama dan paling penting.
KARENA TKW HANYALAH PEMBANTU !
lupa ya, bahwa di negara islam, yang namanya pembantu itu sama saja dengan budak (kata dosen saya), mau disiksa kek, diapain kek, sah-sah aja. Namanya juga budak.
STOP PENGIRIMAN PEMBANTU KE LUAR NEGERI
KIRIM ORANG-ORANG TEREDUKASI DAN TERLATIH
PINTAR SEKALI MEDIA MASA, mereka mencari alasan-alasan lain seperti kurang keterampilan dan lainnya lah.
dan melupakan alasan utama dan paling penting.
KARENA TKW HANYALAH PEMBANTU !
lupa ya, bahwa di negara islam, yang namanya pembantu itu sama saja dengan budak (kata dosen saya), mau disiksa kek, diapain kek, sah-sah aja. Namanya juga budak.
STOP PENGIRIMAN PEMBANTU KE LUAR NEGERI
KIRIM ORANG-ORANG TEREDUKASI DAN TERLATIH
Langganan:
Postingan (Atom)