kim's blog - reality to share

life is simple
why choose difficults way when there are easy way to go

Senin, 27 Februari 2012

Muak presentasi

Presentasi, sebuah hal yang baru gue ngerti dan gue lakuan pertama kali sewaktu SMP. Bahkan sampai sekarang gue di bangku kuliah, hampir tiap kelas ada presentasi.

Dahulu kala sejak gue masih duduk di bangku SMP, sebuah pelajaran yang gue diambil bahwa penilaian presentasi di kelas ialah per individu. Setiap individu yang mempresentasikan sesuatu hal dinilai dari cara berdiri, suara, pakaian, bahasa, kejelasan penyampaian dan lain sebagainya per individu. Pernah sebuah kelompok pelajaran Geografi mempresentasikan sesuatu. Hanya ada satu orang yang berbicara dari awal sampai akhir, namun kemudian ditegur oleh guru gue karena yang lain tidak mendapat nilai. Apakah presentasi harus bergantian?

Saat ini gue sedang duduk di bangku kuliah, hampir setiap mata kuliah yang gue ambil pasti ada presentasi di dalamnya. Namun seringkali gue muak dengan presentasi. Seringkali ada individu-individu tidak bisa menyampaikan dengan jelas maksud dan tujuannya. Alhasil gue jadi ga ngerti, presenter sebenernya ngomong apa sih. Masalahnya ialah, kenapa presentasi harus bergantian? Kenapa tidak satu orang saja yang paling mengerti tentang bahan presentasi dan yang paling bisa menyampaikan dengan jelas yang menjadi juru bicara? Walaupun pasti ada jawaban politis yaitu untuk melatih individu bisa dan berani melakukan presentasi. Menurut gue tujuan utama presentasi yang paling utama ialah membuat orang lain mengerti.

Di dalam realita, sering gue mikir. Kalo nanti di dunia kerja? Apa iya presentasi bergantian? Kalau ada yang 'gak bisa ngomong' mungkin investor akan bosen dan cabut. Pastinya kalau presentasi nanti, juru bicara lah yang berbicara, ya gak sih?

Perwakilan perguruan tinggi yang terletak di kuningan, bahkan gue lupa namanya apa, pernah datang ke sekolah gue dan melakukan presentasi. Mereka terdiri dari beberapa mahasiswa dan satu orang lebih tua (mungkin dosen). Gue tertegun dengan cara Ibu itu berbicara, bahasa yang digunakan, dan bagaimana ia menegur temen gue yang lagi main hape (menguasai kelas). Apa yang dibicarakannya memiliki konstruksi deduktif. Berbicara dari awal kemudian mengerucut ke akhir. Dari kata akhirnya, kami bisa menyimpulkan maksud dan tujuannya. Untuk sebuah universitas yang gak punya nama tapi mungkin mahal karena mereka datang dengan pakaian yang rapi sehingga persepsi pertama kali ialah mereka orang yang elegan. Sebagai tambahan saja, entah kenapa, gue serius dengerin mereka dari awal sampai akhir.

Presentasi lazim menggunakan power point. Kata dosen gue, power of point, jadi yang hanya ditulis hanya point-point saja sisanya berbicara. Mungkin itu benar. Tapi power point adalah alat bantu untuk mengerti. Temen gue kemaren berbicara sangat panjang hanya dengan satu slide dan di satu slide itu hanya sub-judulnya saja. Well, ketika gue membaca handoutnya, pastinya gue gak akan paham dengan maksudnya. Kalau memang dirasa bisa membuat lebih mengerti, akan lebih baik kan kalo slide menampilkan hal yang bisa memberi ilustrasi yang membuat kita lebih mengerti dengan slide yang lebih banyak.

Yasudahlah, mungkin buat mereka yang ngomong gak jelas dan menyampaikan presentasi ngalor ngidul, pelit slide, semoga kalian bisa lebih baik.

Selasa, 14 Februari 2012

Kearifan Pak Theo

Semester 5.

Hari Jumat adalah hari dimana gue mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan membaca sampai mengerti materi kuliah sebelum kuliah dimulai.

Hari jumat selalu membuat jantung gue berdebar kencang.

Jam 2 merupakan jam yang kurang menyenangkan buat gue.

Jam 2 kelas Pengauditan 1 dimulai.

Sebuah kelas yang diajar oleh dosen senior yang sudah mengajar lebih dari 40 tahun.

Seorang professional auditor yang sudah pensiun dari CEO sebuah Big Four. Ketika ia datang, semua terdiam.

Ia ditemani oleh supirnya yang juga sudah tua. Supirnya berbadan bungkuk namun terlihat bersemangat menemani beliau. Setelah menaruh tas. Dosen gue membuka laptopnya.

Seperti biasa, ketika masuk kelas ia hanya memastikan, "Hari ini materi kuliahnya tentang ... ya?"

"Ada yang mau ditanyakan dari materi itu?" lanjutnya. "Kalau tidak ada saya pulang nih."

30 menit pun berlalu, dan tidak ada seorang pun yang berani mengajukan pertanyaan.

Kemudian ia membaca sebuah berita tentang pidato terakhir mengenai kematian yang diucapkan Steve Jobs (ketika itu, Steve Jobs baru saja meninggal).

Beliau membacakan pidato terakhir Steve Jobs di depan semua mahasiswa di kelas.

Pidato tersebut berisi tentang kehidupan kita dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita karena setelah kita meninggal, kita tidak membawa apapun.

Itu adalah satu pelajaran hidup yang diambil oleh beliau dari internet.

Andaikan dalam sehari saja kita mengambil satu pelajaran hidup. Sudah berapa banyak pelajaran yang kita miliki dalam menjalani hidup ini?

Pantaslah beliau menjadi orang yang arif karena beliau banyak mengambil pelajaran hidup untuk kemudian menjadi hikmah bagi kehidupannya. Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi orang yang arif seperti beliau?

Rabu, 11 Januari 2012

kiat ESEMKA - KITA SEHARUSNYA NARSIS

Beberapa hari ini pemberitaan ramai dengan mobil rakitan dalam negeri yang berasal dari wilayah dekat Surakarta alias Solo. Itulah mobil yang dibuat oleh teman-teman kita dari SMK yang bernama kiat Esemka. Bangga? pasti! Tapi bukan kebanggaan yang gue pengen. Gue pengen industri otomotif ini tetap eksis bahkan bisa mendunia.

Pemberitaan media massa pernah memuat berita dengan judul Djowi Jangan Narsis. Sekilas memang bikin miris. Gimana enggak, ini industri dalam negeri. Percaya gak percaya, industri ini bisa memberi pendapatan yang sangat besar bagi wilayahnya, menyerap ratusan ribu tenaga kerja jika perusahaan sudah besar, banyak pihak yang akan diuntungkan. Pada akhirnya, pendapatan yang masuk negara pun bisa meningkat. Jika dikelola dengan baik, maka kemakmuran masyarakat akan meningkat karena uang itu akan didstribusikan kembali ke masyarakat terutama ke kaum miskin.

Harapan gue, kita harus mendukung industri dalam negeri. Seperti yang pernah diserukan mantan presiden kita yang pernah ditakuti dunia, bung Karno. Berdikari - Berdiri Diatas Kaki Sendiri tidak tergantung pada negara lain. Minimal dengan membelinya bahkan bernarsis ria dengan mobil dalam negeri ini. bisa kan dibawa jalan-jalan keluar kota pamer ke daerah lain pamer mobil Esemka. Bahkan kalo bisa dibawa mejeng sampe ke luar negeri.

Harapan gue, semoga RI 1 juga memakainya. Kebangaan Presiden, kebanggaan rakyatnya. Yah pastinya mesti dikustomisasi sedikit, misalnya dilapis baja anti peluru, kaca anti peluru, ban anti tembak dan lain sebagainya kayak mobilnya Om Obama. Bahkan mobil yang milyaran yang dipake RI sekian, diganti aja sama mobil Esemka. Katanya mau majuin negeri. Buktiin dong dengan mobil Esemka dan memakainya jangan pake yg mahal itu. Kalo begitu kan berarti memang Anda ikut meningkatkan perekonomian negara bukan cuma nyanyi pas kampanye.

Semoga saja tidak ada pihak yang ingin menjatuhkan industri ini. Jangan sampai seperti ketika PT Dirgantara Indonesia sedang jaya, ada yang bilang, "kita gak butuh mainan pesawat-pesawatan yang kita butuhkan nasi supaya petani makmur." Hmmh kalo gue tahu siapa yang ngomong itu, pengen banget gue datengin dan gue teriakin persis 2cm di muke dia, "GOBLOK LU!". Sekali lagi, jika industri ini maju dan gue berandai-andai seperti Boeing saja. WOOWW AKAN BETAPA MAKMURNYA BUMI PERTIWI KITA INI. DAN GUE RASA PETANI PUN AKAN TERANGKAT KARENA DAYA BELI MASYARAKAT NAIK DAN MAMPU MEMBELI PADI DENGAN HARGA YANG LEBIH MAHAL. Lihat kan efeknya secara makro gede. Kalo kata dosen gue bukan gede lagi, GUEEEDEEE BUAANGEEET. Jadi buat orang-orang yang tak berisi otaknya. Jangan sampai ada statement aneh-aneh yang memundurkan industri yang mungkin akan jadi kebanggan negara kita ini. Terbukti dengan perkataan mainan pesawat-pesawatan kalian, kalian tidak mendukung industri negeri ini. Kalian tidak memihak rakyat. Tidak pantas kalian ada untuk mewakili kami. Banyak orang-orang pintar dan jenius kita pergi ke luar karena muak sama kalian.

Sekian. Gue harap beberapa dekade ke depan. Industri otomotif karya anak bangsa bahkan sudah ada di event internasional dengan membanggakan.
Eksistensi kita sebagai akademisi

seharusnya meluruskan apa yang salah

Minimal memberi contoh bagaimana yang benar

Jangan ikut arus orang-orang bejat yang tersesat yang sudah banyak di sekitar kita

Senin, 20 Juni 2011

love stories terhapus

maaf love stories tidak relevan dengan blog ini.

Eh kejadian lagi

Jumat, 20 November 2010, Saya pernah menulis blog tentang TKW yang meninggal di luar negeri karena disiksa majikan.

hari sabtu yang lalu 18 Juni 2011, terdapat sebuah berita lagi bahwa TKW Indonesia meninggal dipancung di luar negeri karena membantuk majikan. (eh kejadian lagi).

Saya rasa pasti akan terjadi lagi kejadian yang sama selama pemerintah tidak melakukan perubahan, entah itu beberapa bulan lagi, entah itu beberapa tahun lagi di depan.

Masih belum tertampar juga ya? Apa kisah Manohara tidak menampar bagaimana saat dibutuhkan pemerintah malah tidak ada. Saat Manohara menelepon kedubes dan mengatakan bahwa ini emergency. Tapi apa yang didapat? Dengan seenak jidad operator mengatakan, maaf mbak kami sudah tutup, nanti silahkan telepon lagi. Untungnya dia memiliki kewarganegaraan US, kemudian dia menelpon kedubes itu dan beberapa menit kemudian petugas yang berwenang datang. Apa kita bisa melakukan pelayanan publik seperti itu, secepat itu?

lantas saya jadi mikir, kalau saya keluar negeri dan bekerja disana, apa saya perlu untuk berkewarga-negaraan di negara itu agar saya aman?

prihatin mencontek massal

Bulan juni merupakan waktu yang sangat menegangkan bagi murid sekolah. Mereka yang duduk di tingkat akhir seperti kelas enam SD, kelas tiga SMP, kelas tiga SMA, merasakan bahwa di bulan inilah saat-saat paling berat dan menakutkan dalam hidup mereka. Iya; karena di bulan Juni diadakan Ujian Nasional yang menentukan nasib mereka. Enam tahun belajar di Sekolah Dasar atau tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama atau Sekolah Menengah Atas (SMA) ditentukan dalam beberapa hari.

Ujian Nasional memang menguji beberapa mata pelajaran tetapi juga menguji ketahanan siswa mental menghadapi tekanan yang berat.

Bulan Juni 2011, terjadi peristiwa yang memilukan untuk saya pribadi, mungkin juga memilukan bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa? Di sebuah Sekolah Dasar di Surabaya, seseorang orang tua murid mengadukan kepada walikota bahwa di sekolah anaknya terjadi kecurangan Ujian Nasional dimana anaknya disuruh memberitahukan jawaban ujian kepada semua temannya di kelas. Beberapa waktu kemudian, terdapat aduan lain di kota besar Indonesia lainnya bahwa terdapat aksi yang sama. Hebatnya di kota besar lainnya siswa-siswi disuruh menanda-tangani di atas kertas bahwa mereka akan merahasiakan peristiwa mencontek di kelas. Betapa sebuah kecurangan terorganisir.

Orang tua murid yang melaporkan kejadian tersebut justru dimusuhi oleh warga rumahnya. Apakah karena dianggap tidak kooperatif dan merasa terancam oleh aduan sang pelapor? Warga pun menghardik, mengusirnya dari tempat tinggalnya, mengancam akan membakar rumahnya. Ironis, seseorang yang menyuarakan kejujuran malah dimusuhi oleh banyak orang sehingga tidak berkutik. Inikah potret masyarakat kita? Bagaimana dengan kejadian lain? misalnya skandal yang pernah heboh di senayan?

Ujian Nasional merupakan suatu sistem pendidikan di Indonesia yang dibuat pemerintah. Kejadian kecurangan ujian seharusnya menyatakan bahwa bukan sistemnya yang salah melainkan lemahnya mental kita yang salah. Mental yang tidak kuat akan mencari-cari kelemahan dan menyiasati agar lolos dari sistem bukannya bekerja keras agar melewati sistem dengan benar. Ditambah lagi dukungan dari pihak dalam semakin memperkeruh sistem karena adanya insentif bagi sekolah-sekolah jika mendapatkan hasil Ujian Nasional yang bagus. Kerja keras pun sering dibuai oleh mudahnya melakukan kongkalikong. Mental yang lemah akan menarik-narik mereka agar melakukan kongkalikong.

Yang membuat saya sangat prihatin ialah generasi muda bangsa. Yang seharusnya diajarkan untuk jujur, bermental kuat, dan tangguh ternyata justru orang tua mereka sendiri yang mengajarkan untuk tidak jujur. Wajar saja jika keadaan kita saat ini carut marut. Lantas bagaimana dengan kondisi di masa depan?

Tentu saja perlu tindakan kongkret untuk merubahnya, jika tidak maka keinginan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, jujur, tangguh hanyalah mimpi.