Yak, untuk ke-puluhan atau mungkin ratusan kalinya ada kabar bahwa TKI tewas di luar negeri. Banyak alasan mengapa mereka tewas dan salah satu yang paling umum adalah disiksa majikan.
PINTAR SEKALI MEDIA MASA, mereka mencari alasan-alasan lain seperti kurang keterampilan dan lainnya lah.
dan melupakan alasan utama dan paling penting.
KARENA TKW HANYALAH PEMBANTU !
lupa ya, bahwa di negara islam, yang namanya pembantu itu sama saja dengan budak (kata dosen saya), mau disiksa kek, diapain kek, sah-sah aja. Namanya juga budak.
STOP PENGIRIMAN PEMBANTU KE LUAR NEGERI
KIRIM ORANG-ORANG TEREDUKASI DAN TERLATIH
Jumat, 19 November 2010
Sabtu, 16 Oktober 2010
salah mengeluarkan kata = kerugian besar
Ini adalah sebuah cerita fakta yang saya alami. Seperti waktu-waktu sebelum UTS atau UAS, pasti tempat fotokopian penuh diserbu orang-orang yang mau fotokopi catatan atau bahkan bukunya. Saya tidak punya buku teks berbahasa Indonesia dan buku yang saya pegang sekarang berbahasa Inggris, hufh agak sulit untuk mengerti apalagi pelajaran hafalan, akhirnya saya memfotokopi buku berbahasa Indonesia.
Saya pergi ke perpustakaan lantai bawah di kampus, dimana ada tempat fotokopian yang biasanya sepi dan kualitasnya cukup dibandingkan fotokopian di lobby yang suka salah halamannya, bahkan kadang sudah tebal tapi yang difotokopi lain.
Sudah ada 3 atau 4 orang menunggu. Karena saya baru datang, saya juga menunggu sebentar. Biasanya mas-mas di fotokopian kalo fotokopi banyak minta ditulis di secarik kertas biar inget bagian-bagian mana yang harus difotokopi. Saya pun ingat akan hal itu dan akhirnya menulis "Bab 1--8".
Mas-mas fotokopian ada dua. Yang satu hendak keluar entah kemana, seketika itu saya mengatakan, "mas fotokopi dong, bab 1 - 8."
Tapi mas-mas yang satu ini malah bilang sambil keluar dengan memegang kepala dan rambutnya, "wah gabisa mas, lagi penuh."
Yang bikin saya kesel bukan karena jawabannya yang tidak memuaskan, tetapi sikapnya yang berbicara santai keluar dan seolah-olah menganggap saya tidak penting.
Hmmh satu evaluasi dari mas ini, jangan buat konsumen kecewa. Buat semua konsumen seakan-akan mereka adalah konsumen yang penting. Satu pun konsumen adalah 'uang' atau pemasukan bagi usaha kecil itu. Sayang sekali dia tidak memiliki sikap ramah. Bagaimanapun juga, satu pun konsumen harus dilayani dengan baik karena akan mempengaruhi hubungan jangka panjang usaha itu dan konsumen. Sekali dikecewakan, mungkin konsumen tidak akan kembali lagi sampai kapan pun juga ke tempat itu. Seperti pengalaman saya pada fotokopian di lobby yang suka salah halaman dan bahkan banyak kesalahannya yang membuat saya enggan untuk kembali. Jika konsumen dilayani dengan baik dengan tutur kata yang ramah dan sikap yang ramah, keesokannya konsumen akan kembali lagi dan lagi.
Agak kesal dengan sikap dan cara mas-mas yang pertama berbicara dan cara menguasai konsumen yang kurang baik. Akhirnya saya menunggu sebentar dan berharap jawaban berbeda akan diberi mas-mas kedua.
Mas-mas kedua mendekat karena job order salah satu konsumen sudah selesai. Saya mengatakan lagi, "mas fotokopi dong bab 1 sampai 8". Jawaban mas kedua walaupun mengecewakan juga, tetapi sedikit memberi harapan. "Wah gabisa hari ini mas, ini pada penuh fotokopi semua." Saya juga masih lama membutuhkannya dan akhirnya saya bilang, "kalau besok bisa selesai mas?" Mas-mas kedua pun mengangguk dan menjawab, "bisa."
Fiuuuh, selesai juga.
Memang sebagai seorang akademisi saya bisa toleran dengan kedua mas-mas itu. Mereka hanyalah tenaga terlatih, cuma terlatih untuk mengerjakan order. Tapi mereka melupakan hal yang penting, yaitu konsumen. Konsumen harus dilayani dengan baik pada saat menerima order dan memberi hasil. Karena jika konsumen senang, mereka akan kembali 'dengan membawa uang untuk usaha kecil itu'.
Menerima order :
Inget kesan pertama akan menentukan kelanjutannya. Dalam kasus di atas, apabila frontliner bersikap jutek. Coba pikir bagaimana perasaan pelanggan, kejadian yang ekstrem adalah pelanggan langsung pergi karena tidak puas akan pelayanannya. Pelanggan akan enggan untuk melakukan pembelian ulang akan produk yang dijual di tempat itu.
Yang harus dilakukan adalah membuat pelanggan nyaman, menguasai emosi mereka walaupun hasilnya kurang baik. Misal dalam kasus di atas, bagaimana jika si mas-mas bilang ke pelanggan dengan tersenyum dan bertutur halus dan berkata, "mas, ini fotokopian kami lagi penuh, kalau mas tetep mau fotokopi ini, paling besok baru selesai, gimana mas?" Kalau pelanggan memang butuh secepatnya, mereka akan pergi dan mencari tempat fotokopi lain, tapi dengan keramahan yang telah diberikan mas-mas tadi, kemungkinan mereka untuk kembali pasti tetap ada dan tetap besar. Bandingkan dengan kasus diatas! Sang pelanggan malah jadi enggan untuk kembali.
Contoh lain adalah pada sebuah toko. Seorang pelanggan datang ingin membeli produk X. Kebetulan toko itu tidak menjual barang X. Ada dua pilihan yang bisa dikatakan:
pertama : wah kami gak jual.
jawaban ini akan membuat pelanggan tidak akan kembali lagi karena tahu toko itu tidak menjual barang X.
kedua : wah lagi kosong mas.
strategi ini baik karena memberi harapan kalau toko itu menjual barang walaupun pada kenyataanya tidak. Toko bisa membeli barang X dan kemudian menjualnya. Suatu hari konsumen tadi akan kembali lagi dan menanyakan barang X, dengan hasil yang berbeda karena sekarang barang X tersedia.
Hal penting kedua adalah hasil.
Seorang konsumen akan puas jika hasilnya pun juga baik. Fotokopian yang cepat, tulisannya kelihatan jelas dan tidak buram akan memberi manfaat lebih ke konsumen. Apabila hasil baik, dipastikan konsumen akan kembali membeli produk tersebut.
Itu adalah sedikit gambaran bagaimana salah mengeluarkan kata bisa menyinggung hati konsumen. Semoga bermanfaat untuk produsen.
Saya pergi ke perpustakaan lantai bawah di kampus, dimana ada tempat fotokopian yang biasanya sepi dan kualitasnya cukup dibandingkan fotokopian di lobby yang suka salah halamannya, bahkan kadang sudah tebal tapi yang difotokopi lain.
Sudah ada 3 atau 4 orang menunggu. Karena saya baru datang, saya juga menunggu sebentar. Biasanya mas-mas di fotokopian kalo fotokopi banyak minta ditulis di secarik kertas biar inget bagian-bagian mana yang harus difotokopi. Saya pun ingat akan hal itu dan akhirnya menulis "Bab 1--8".
Mas-mas fotokopian ada dua. Yang satu hendak keluar entah kemana, seketika itu saya mengatakan, "mas fotokopi dong, bab 1 - 8."
Tapi mas-mas yang satu ini malah bilang sambil keluar dengan memegang kepala dan rambutnya, "wah gabisa mas, lagi penuh."
Yang bikin saya kesel bukan karena jawabannya yang tidak memuaskan, tetapi sikapnya yang berbicara santai keluar dan seolah-olah menganggap saya tidak penting.
Hmmh satu evaluasi dari mas ini, jangan buat konsumen kecewa. Buat semua konsumen seakan-akan mereka adalah konsumen yang penting. Satu pun konsumen adalah 'uang' atau pemasukan bagi usaha kecil itu. Sayang sekali dia tidak memiliki sikap ramah. Bagaimanapun juga, satu pun konsumen harus dilayani dengan baik karena akan mempengaruhi hubungan jangka panjang usaha itu dan konsumen. Sekali dikecewakan, mungkin konsumen tidak akan kembali lagi sampai kapan pun juga ke tempat itu. Seperti pengalaman saya pada fotokopian di lobby yang suka salah halaman dan bahkan banyak kesalahannya yang membuat saya enggan untuk kembali. Jika konsumen dilayani dengan baik dengan tutur kata yang ramah dan sikap yang ramah, keesokannya konsumen akan kembali lagi dan lagi.
Agak kesal dengan sikap dan cara mas-mas yang pertama berbicara dan cara menguasai konsumen yang kurang baik. Akhirnya saya menunggu sebentar dan berharap jawaban berbeda akan diberi mas-mas kedua.
Mas-mas kedua mendekat karena job order salah satu konsumen sudah selesai. Saya mengatakan lagi, "mas fotokopi dong bab 1 sampai 8". Jawaban mas kedua walaupun mengecewakan juga, tetapi sedikit memberi harapan. "Wah gabisa hari ini mas, ini pada penuh fotokopi semua." Saya juga masih lama membutuhkannya dan akhirnya saya bilang, "kalau besok bisa selesai mas?" Mas-mas kedua pun mengangguk dan menjawab, "bisa."
Fiuuuh, selesai juga.
Memang sebagai seorang akademisi saya bisa toleran dengan kedua mas-mas itu. Mereka hanyalah tenaga terlatih, cuma terlatih untuk mengerjakan order. Tapi mereka melupakan hal yang penting, yaitu konsumen. Konsumen harus dilayani dengan baik pada saat menerima order dan memberi hasil. Karena jika konsumen senang, mereka akan kembali 'dengan membawa uang untuk usaha kecil itu'.
Menerima order :
Inget kesan pertama akan menentukan kelanjutannya. Dalam kasus di atas, apabila frontliner bersikap jutek. Coba pikir bagaimana perasaan pelanggan, kejadian yang ekstrem adalah pelanggan langsung pergi karena tidak puas akan pelayanannya. Pelanggan akan enggan untuk melakukan pembelian ulang akan produk yang dijual di tempat itu.
Yang harus dilakukan adalah membuat pelanggan nyaman, menguasai emosi mereka walaupun hasilnya kurang baik. Misal dalam kasus di atas, bagaimana jika si mas-mas bilang ke pelanggan dengan tersenyum dan bertutur halus dan berkata, "mas, ini fotokopian kami lagi penuh, kalau mas tetep mau fotokopi ini, paling besok baru selesai, gimana mas?" Kalau pelanggan memang butuh secepatnya, mereka akan pergi dan mencari tempat fotokopi lain, tapi dengan keramahan yang telah diberikan mas-mas tadi, kemungkinan mereka untuk kembali pasti tetap ada dan tetap besar. Bandingkan dengan kasus diatas! Sang pelanggan malah jadi enggan untuk kembali.
Contoh lain adalah pada sebuah toko. Seorang pelanggan datang ingin membeli produk X. Kebetulan toko itu tidak menjual barang X. Ada dua pilihan yang bisa dikatakan:
pertama : wah kami gak jual.
jawaban ini akan membuat pelanggan tidak akan kembali lagi karena tahu toko itu tidak menjual barang X.
kedua : wah lagi kosong mas.
strategi ini baik karena memberi harapan kalau toko itu menjual barang walaupun pada kenyataanya tidak. Toko bisa membeli barang X dan kemudian menjualnya. Suatu hari konsumen tadi akan kembali lagi dan menanyakan barang X, dengan hasil yang berbeda karena sekarang barang X tersedia.
Hal penting kedua adalah hasil.
Seorang konsumen akan puas jika hasilnya pun juga baik. Fotokopian yang cepat, tulisannya kelihatan jelas dan tidak buram akan memberi manfaat lebih ke konsumen. Apabila hasil baik, dipastikan konsumen akan kembali membeli produk tersebut.
Itu adalah sedikit gambaran bagaimana salah mengeluarkan kata bisa menyinggung hati konsumen. Semoga bermanfaat untuk produsen.
Selasa, 07 September 2010
you must have identity
29 Agustus 2010
Ada seminar dari pak Adiwarman Karim, seorang ahli syariah. Ceritanya kocak abis, dia cerita IP 2.5. Pernah jadi DJ. Kuliah di dua tempat. Di luar negeri juga kuliah di dua tempat.
Ada sebuah cerita yang pengen gue share
Dia kerja di Amerika dulunya, kemudian Indonesia buat bank Muamalat. Sepertinya pionir bank syariah di Indonesia. Kemudian beliau cerita, karena kuliah di Amerika dan bekerja disana, dia langsung diterima.
Kemudian pak bos bilang, "kamu diterima asal jenggot kamu dipotong yak"
Dengan tegas pak Adi bilang, "Oh sorry, kalo ini tidak bisa. Lebih baik saya tidak jadi kerja disini kalo ini dipotong."
Pak bos bilang, "Okey okey fine, dipendekin aja yah."
Kemudian beliau berkata, kamu itu.. jadi orang harus punya style. just be yourself. kamu harus punya sesuatu yang bisa diidentikkan dengan kamu.
seperti pak Adiwarman yang punya jenggot tebel dan panjang, kalian juga harus punya sesuatu yang mencirikan kalian. Misalnya yang nulis punya jambang.
Ada seminar dari pak Adiwarman Karim, seorang ahli syariah. Ceritanya kocak abis, dia cerita IP 2.5. Pernah jadi DJ. Kuliah di dua tempat. Di luar negeri juga kuliah di dua tempat.
Ada sebuah cerita yang pengen gue share
Dia kerja di Amerika dulunya, kemudian Indonesia buat bank Muamalat. Sepertinya pionir bank syariah di Indonesia. Kemudian beliau cerita, karena kuliah di Amerika dan bekerja disana, dia langsung diterima.
Kemudian pak bos bilang, "kamu diterima asal jenggot kamu dipotong yak"
Dengan tegas pak Adi bilang, "Oh sorry, kalo ini tidak bisa. Lebih baik saya tidak jadi kerja disini kalo ini dipotong."
Pak bos bilang, "Okey okey fine, dipendekin aja yah."
Kemudian beliau berkata, kamu itu.. jadi orang harus punya style. just be yourself. kamu harus punya sesuatu yang bisa diidentikkan dengan kamu.
seperti pak Adiwarman yang punya jenggot tebel dan panjang, kalian juga harus punya sesuatu yang mencirikan kalian. Misalnya yang nulis punya jambang.
mana rasa syukurmu
jejaring sosial, entah facebook, twitter, dan lainnya
sering gue liat status:
"arrrgh males kuliah"
"yah besok udah kuliah, males"
"males masuk pagi"
"yah hari ini masuk sampe sore"
"bete di kelas"
"cabut kuliah"
"stress kuliah"
tiba-tiba pas mereka ujian:
"mampus, UTS gue gak ngerti apa-apa"
"ini pelajaran susah banget"
KENAPA??
KENAPA??
KENAPA??
mental akademisi kayak gini kebanyakan.
Inikah calon pemimpin bangsa negeri ini di masa depan?
Dimana rasa syukur mereka
Rasa syukur bisa mengenyam pendidikan tinggi
Rasa syukur, setidaknya mereka kerja dengan gaji yang cukup untuk hidup nantinya
Pernahkah mereka melihat orang dibawah
Yang bahkan untuk masuk SMA aja was-was karena takut biaya mahal
Yang bahkan sudah diterima di sekolah terbaik tapi mesti resign karena tidak memiliki biaya
kawan..
tetap semangat
jangan bermental lemah seperti mereka!
bersyukurlah dengan giat belajar, tekun, tanpa kenal lelah
dan jangan lupa bersyukur kepada Yang Maha Kuasa
sering gue liat status:
"arrrgh males kuliah"
"yah besok udah kuliah, males"
"males masuk pagi"
"yah hari ini masuk sampe sore"
"bete di kelas"
"cabut kuliah"
"stress kuliah"
tiba-tiba pas mereka ujian:
"mampus, UTS gue gak ngerti apa-apa"
"ini pelajaran susah banget"
KENAPA??
KENAPA??
KENAPA??
mental akademisi kayak gini kebanyakan.
Inikah calon pemimpin bangsa negeri ini di masa depan?
Dimana rasa syukur mereka
Rasa syukur bisa mengenyam pendidikan tinggi
Rasa syukur, setidaknya mereka kerja dengan gaji yang cukup untuk hidup nantinya
Pernahkah mereka melihat orang dibawah
Yang bahkan untuk masuk SMA aja was-was karena takut biaya mahal
Yang bahkan sudah diterima di sekolah terbaik tapi mesti resign karena tidak memiliki biaya
kawan..
tetap semangat
jangan bermental lemah seperti mereka!
bersyukurlah dengan giat belajar, tekun, tanpa kenal lelah
dan jangan lupa bersyukur kepada Yang Maha Kuasa
Jumat, 03 September 2010
#rofiinmemoriam
masih inget lo panik karena lo masuk lewat snmptn dan tiba-tiba tugas bejibun
masih inget kita ngerjain name tag & goody bag bareng-bareng di asrama UI
masih inget kita makan bareng di asrama
masih inget banget lo bikin cerita cakar manohara dengan tengilnya
masih inget kita ketawa ketiwi sekelompok mentor 9, opportunity cost, karena lo
masih inget waktu OPK lo telat dan lo sms gue, lo takut sekelompok kena gara-gara lo telat
masih inget lo dipanggil komdis dan kena scl (special case lanjutan)dan waktu itu gue dimarahin komdis karena ngeliatin elo dipanggil komdis
masih inget awal-awal masuk, dengan bodohnya kita nyasar berdua di depan gedung b, kampus kita sendiri
masih inget foto lo push-up kena SCL dipajang di batang gedung A, muka lo penuh keringet
masih inget kita berdua pergi ke kantek, kansas berdua aja. udah kayak maho pacaran :p.
masih inget di kantek lo makan makanan aneh, tapi enak dan gue makan sate
masih inget di kansas gue makan sate. lo nanya "lo pencinta sate ya ki"
masih inget lo masuk kelas matek 15 menit sebelum kelas selesai, lo keujanan dan kedinginan. badan lo basah masuk ke kelas. lo sms gue nanya, "masuk apa enggak ya telat gini"
masih inget spot dimana gue sering ketemu sama lo, adalah musola FE (MUFE), entah lo belajar apa ngerjain tugas disitu.
masih inget lo bela-belain dateng penutupan OPK dari rumah karena gue minta lo dateng
masih inget lo nanya gue pelajaran, "ki ajarin gue dong. gue gak ngerti ini"
masih inget kita belajar bareng di perpus
masih inget setiap ketemu lo, lo selalu bilang, "ki ikut MB yuk, nemenin pipit"
kalo gue jemput pacar seabis latian MB, cuma dua orang yang gue cari. Pacar dan lo
masih inget kita malem-malem pulang bareng naik motor sampe lenteng agung
masih inget malem-malem kita ngerjain kuis matek
masih inget lo ngajarin gue main terumpet di bawah jembatan teksas
masih inget lo kelaperan dan gue ngasi kue ke lo.
masih inget lo bilang, "lo emang sahabat gue ki"
masih inget lo sama pipit ngerjain gue pas ulang tahun gue berkomplot sama bang Hendy. Awas ya ntar gue bales hehehe
masih inget suara lo dan suara ketawa lo
masih inget hari pertama semester 3, lo sms gue "gimana kuliah pertama"
masih inget sms terakhir lo ke gue, gue ngajakin lo les AB bareng fuji dan lo bilang, "Asiik gue diajak :-D". Terus lo minta nego harganya
masih inget beling-beling dan logo Yamaha di jalan, dan ternyata itu lo :'(
nama lo, Ahmad Rofi, akan selalu ada di hati gue.
masih inget kita ngerjain name tag & goody bag bareng-bareng di asrama UI
masih inget kita makan bareng di asrama
masih inget banget lo bikin cerita cakar manohara dengan tengilnya
masih inget kita ketawa ketiwi sekelompok mentor 9, opportunity cost, karena lo
masih inget waktu OPK lo telat dan lo sms gue, lo takut sekelompok kena gara-gara lo telat
masih inget lo dipanggil komdis dan kena scl (special case lanjutan)dan waktu itu gue dimarahin komdis karena ngeliatin elo dipanggil komdis
masih inget awal-awal masuk, dengan bodohnya kita nyasar berdua di depan gedung b, kampus kita sendiri
masih inget foto lo push-up kena SCL dipajang di batang gedung A, muka lo penuh keringet
masih inget kita berdua pergi ke kantek, kansas berdua aja. udah kayak maho pacaran :p.
masih inget di kantek lo makan makanan aneh, tapi enak dan gue makan sate
masih inget di kansas gue makan sate. lo nanya "lo pencinta sate ya ki"
masih inget lo masuk kelas matek 15 menit sebelum kelas selesai, lo keujanan dan kedinginan. badan lo basah masuk ke kelas. lo sms gue nanya, "masuk apa enggak ya telat gini"
masih inget spot dimana gue sering ketemu sama lo, adalah musola FE (MUFE), entah lo belajar apa ngerjain tugas disitu.
masih inget lo bela-belain dateng penutupan OPK dari rumah karena gue minta lo dateng
masih inget lo nanya gue pelajaran, "ki ajarin gue dong. gue gak ngerti ini"
masih inget kita belajar bareng di perpus
masih inget setiap ketemu lo, lo selalu bilang, "ki ikut MB yuk, nemenin pipit"
kalo gue jemput pacar seabis latian MB, cuma dua orang yang gue cari. Pacar dan lo
masih inget kita malem-malem pulang bareng naik motor sampe lenteng agung
masih inget malem-malem kita ngerjain kuis matek
masih inget lo ngajarin gue main terumpet di bawah jembatan teksas
masih inget lo kelaperan dan gue ngasi kue ke lo.
masih inget lo bilang, "lo emang sahabat gue ki"
masih inget lo sama pipit ngerjain gue pas ulang tahun gue berkomplot sama bang Hendy. Awas ya ntar gue bales hehehe
masih inget suara lo dan suara ketawa lo
masih inget hari pertama semester 3, lo sms gue "gimana kuliah pertama"
masih inget sms terakhir lo ke gue, gue ngajakin lo les AB bareng fuji dan lo bilang, "Asiik gue diajak :-D". Terus lo minta nego harganya
masih inget beling-beling dan logo Yamaha di jalan, dan ternyata itu lo :'(
nama lo, Ahmad Rofi, akan selalu ada di hati gue.
bad thursday
hari kamis, 2-9-2010
Gue ada kelas asistensi AB (akuntansi biaya). Semuanya terasa biasa aja. Gue berangkat agak siangan karena kelas gue dimulai jam 9. Jam 8 gue berangkat..
di perjalanan mendekati kampus di Depok seperti biasa sebelum stasiun pancasila gue selalu ambil jalan ke kanan yang agak sepi dimana belok kiri ngelewatin SMA 38.
di jalan persis dimana jalan terbagi dua tiba-tiba ada kemacetan, 5 menit kemudian keadaan menjadi normal dan kendaraan berjalan seperti biasa.
pas deket stasiun pancasila, gue ngeliat banyak orang berdiri di trotoar jalan. disitu semet macet lagi beberapa saat. padahal gue ngeliat jalan di depan kosong melompong. Dalem hati gue, "ada apa ini? kecelakaan ya?"
beberapa saat kemudian, kendaraan jalan lagi. Gak beberapa lama kemudian gue melihat beberapa pecahan dan beling di jalan. "wah beneran ini ada kecelakaan" dalem hati gue. Terus gue liat merah-merah cairan di jalan dan terakhir gue ngeliat sebuah logo motor Yamaha di jalan.
Gue agak lega sedikit, untung bukan Suzuki (motor cewe gue). Tapi setelah ngelewatin jalan itu entah kenapa jantung ini masih dredegan.
Sampe di kampus, gue masuk kelas. Gak lama belajar gue dapet sms dari pacar kalo temen gue, temen seperjuangan gue di ospek, temen sekelas semester 1 semua kelas kecuali satu, kecelakaan dalam perjalanan ke kampus.
dalem hati, "jangan-jangan tadi di deket stasiun pancasila tadi itu dia", "mudah-mudahan bukan."
jam 11, selesai kelas gue mampir ke batang, stand IMD. Gak lama kemudian pacar nelpon, perasaan gue udah gak enak. Dan seketika itu juga dia bilang bahwa temen gue, Ahmad Rofi telah berpulang ke rahmatullah sehari sebelum hari ulang tahunnya.
Ya allah, 2 hari telah berlalu. Dan ketika melewati jalan itu, gue masih meneteskan air mata. Ya allah aku mohon jadikanlah beliau dalam keadaan syahid.
Gue ada kelas asistensi AB (akuntansi biaya). Semuanya terasa biasa aja. Gue berangkat agak siangan karena kelas gue dimulai jam 9. Jam 8 gue berangkat..
di perjalanan mendekati kampus di Depok seperti biasa sebelum stasiun pancasila gue selalu ambil jalan ke kanan yang agak sepi dimana belok kiri ngelewatin SMA 38.
di jalan persis dimana jalan terbagi dua tiba-tiba ada kemacetan, 5 menit kemudian keadaan menjadi normal dan kendaraan berjalan seperti biasa.
pas deket stasiun pancasila, gue ngeliat banyak orang berdiri di trotoar jalan. disitu semet macet lagi beberapa saat. padahal gue ngeliat jalan di depan kosong melompong. Dalem hati gue, "ada apa ini? kecelakaan ya?"
beberapa saat kemudian, kendaraan jalan lagi. Gak beberapa lama kemudian gue melihat beberapa pecahan dan beling di jalan. "wah beneran ini ada kecelakaan" dalem hati gue. Terus gue liat merah-merah cairan di jalan dan terakhir gue ngeliat sebuah logo motor Yamaha di jalan.
Gue agak lega sedikit, untung bukan Suzuki (motor cewe gue). Tapi setelah ngelewatin jalan itu entah kenapa jantung ini masih dredegan.
Sampe di kampus, gue masuk kelas. Gak lama belajar gue dapet sms dari pacar kalo temen gue, temen seperjuangan gue di ospek, temen sekelas semester 1 semua kelas kecuali satu, kecelakaan dalam perjalanan ke kampus.
dalem hati, "jangan-jangan tadi di deket stasiun pancasila tadi itu dia", "mudah-mudahan bukan."
jam 11, selesai kelas gue mampir ke batang, stand IMD. Gak lama kemudian pacar nelpon, perasaan gue udah gak enak. Dan seketika itu juga dia bilang bahwa temen gue, Ahmad Rofi telah berpulang ke rahmatullah sehari sebelum hari ulang tahunnya.
Ya allah, 2 hari telah berlalu. Dan ketika melewati jalan itu, gue masih meneteskan air mata. Ya allah aku mohon jadikanlah beliau dalam keadaan syahid.
Selasa, 10 Agustus 2010
Masih adakah orang tua se-Nasionalis ini
Masih inget dalem ingatan gue sampe sekarang waktu awal masuk SMA dan waktu itu gue kelas satu. Sekolah biasanya masih belum belajar dan guru-guru masih perkenalan sambil cerita-cerita tentang dirinya atau sekolah.
Suatu hari guru fisika gue yang bergelar M.Sc., seorang dosen di universitas dan umurnya emang udah veteran bercerita
awal-awal cerita tentang sekolah, lingkungan, fisika, dan kemudian
Guru : "Nak, dulu ayah saya seorang pejuang. Waktu detik-detik menjelang beliau wafat. Beliau berpesan kepada saya"
Ayah : "Anakku, Ayah titip negara ini padamu. Tolong kamu jaga dan kamu rawat baik-baik. Ayah dan banyak orang lainnya yang tak terhitung jumlahnya susah payah merebut negara ini sehingga bisa merdeka. Tolong kamu bangun sehingga bisa menjadi bangsa yang besar."
Masih adakah orang tua se-Nasionalis seperti beliau, disaat seperti sekarang yang justru terjadi brain drain. Orang pintar banyak yang bukannya membangun negara sendiri, walaupun mungkin mereka ingin membangun Indonesia, malah pergi ke luar negeri dan justru membangun negara lain dengan imbalan dan apresiasi.
Disaat carut marut pemerintahan dan politik yang selalu membuat rakyat kesal, banyak orang munafik yang katanya ingin membangun ternyata malah gak ngapa-ngapain. Disaat aturan dan hukum kebanyakan cuma jadi pajangan, tidak ada yang mentaati dan tidak ada yang menegakkan.
Apa yang akan beliau-beliau katakan jika mengetahui pewaris dari negara yang sudah mereka perjuangkan mati-matian.
Yang gue pikir, kalau mereka bangkit dari kubur, mereka akan bilang, "Saya kecewa nak"
Suatu hari guru fisika gue yang bergelar M.Sc., seorang dosen di universitas dan umurnya emang udah veteran bercerita
awal-awal cerita tentang sekolah, lingkungan, fisika, dan kemudian
Guru : "Nak, dulu ayah saya seorang pejuang. Waktu detik-detik menjelang beliau wafat. Beliau berpesan kepada saya"
Ayah : "Anakku, Ayah titip negara ini padamu. Tolong kamu jaga dan kamu rawat baik-baik. Ayah dan banyak orang lainnya yang tak terhitung jumlahnya susah payah merebut negara ini sehingga bisa merdeka. Tolong kamu bangun sehingga bisa menjadi bangsa yang besar."
Masih adakah orang tua se-Nasionalis seperti beliau, disaat seperti sekarang yang justru terjadi brain drain. Orang pintar banyak yang bukannya membangun negara sendiri, walaupun mungkin mereka ingin membangun Indonesia, malah pergi ke luar negeri dan justru membangun negara lain dengan imbalan dan apresiasi.
Disaat carut marut pemerintahan dan politik yang selalu membuat rakyat kesal, banyak orang munafik yang katanya ingin membangun ternyata malah gak ngapa-ngapain. Disaat aturan dan hukum kebanyakan cuma jadi pajangan, tidak ada yang mentaati dan tidak ada yang menegakkan.
Apa yang akan beliau-beliau katakan jika mengetahui pewaris dari negara yang sudah mereka perjuangkan mati-matian.
Yang gue pikir, kalau mereka bangkit dari kubur, mereka akan bilang, "Saya kecewa nak"
Jumat, 30 Juli 2010
salut sama orang sepeda ke tempat kerja
Suatu hari di stasiun UI, sebuah kereta api berhenti sedang menaik dan menurunkan penumpang. Disitu gak sengaja mata gue memandang ke arah pintu gerbong paling depan. gue melihat sebuah sepeda keluar dibawa oleh seseorang lelaki setengah baya.
dalem hati (woww asik juga bawa sepeda naik kereta)
Gak beberapa lama kemudian, gue udah melihat sepeda itu dinaiki dan digowes di jalanan.
sumpah. Waktu itu gue salut banget sama tuh orang.
disaat banyak orang melakukan kredit motor dan mencari ke-instan-an seperti capek jalan jauh buat menjangkau angkutan umum dari rumah, ketepatan waktu yang tidak terjamin karena angkot suka ngetem sembarangan dan lama, belom lagi supir angkotnya berhenti dan ngobrol sama temennya di jalan, ketidaknyamanan angkutan umum karena supir ngebut, copet dan lain sebagainya.
Disini gue melihat sesosok yang justru ingin sehat dengan bersepeda, menghilangkan kemalasan karena jarak menjangkau angkutan umum yang jauh, buruk-buruknya, mengurangi subsidi bbm untuk premium yang (kita tahu) banyak dihabiskan oleh motor (seperti kita tahu, subsidi bbm membuat negara kita membayar demi murahnya harga bbm di dalam negeri, kalau subsidi berkurang kan bisa dialihkan ke tempat lain seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya), mengurangi pemanasan global karena gak pake asap, paling kentut.
Bangga gue masih ada orang yang peduli dengan Indonesia dan dunia.
Gue sangat bangga melihat orang bersepeda ketimbang orang banyak gaya naik motor.
sering gue mikir, coba gue punya sepeda lipet, dan ada bis yg bisa naikin sepeda lipet. pasti tiap hari ngampus gue ikut tuh orang, bawa sepeda, pas sampe di kampus gue pake deh.
dalem hati (woww asik juga bawa sepeda naik kereta)
Gak beberapa lama kemudian, gue udah melihat sepeda itu dinaiki dan digowes di jalanan.
sumpah. Waktu itu gue salut banget sama tuh orang.
disaat banyak orang melakukan kredit motor dan mencari ke-instan-an seperti capek jalan jauh buat menjangkau angkutan umum dari rumah, ketepatan waktu yang tidak terjamin karena angkot suka ngetem sembarangan dan lama, belom lagi supir angkotnya berhenti dan ngobrol sama temennya di jalan, ketidaknyamanan angkutan umum karena supir ngebut, copet dan lain sebagainya.
Disini gue melihat sesosok yang justru ingin sehat dengan bersepeda, menghilangkan kemalasan karena jarak menjangkau angkutan umum yang jauh, buruk-buruknya, mengurangi subsidi bbm untuk premium yang (kita tahu) banyak dihabiskan oleh motor (seperti kita tahu, subsidi bbm membuat negara kita membayar demi murahnya harga bbm di dalam negeri, kalau subsidi berkurang kan bisa dialihkan ke tempat lain seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya), mengurangi pemanasan global karena gak pake asap, paling kentut.
Bangga gue masih ada orang yang peduli dengan Indonesia dan dunia.
Gue sangat bangga melihat orang bersepeda ketimbang orang banyak gaya naik motor.
sering gue mikir, coba gue punya sepeda lipet, dan ada bis yg bisa naikin sepeda lipet. pasti tiap hari ngampus gue ikut tuh orang, bawa sepeda, pas sampe di kampus gue pake deh.
Jumat, 23 Juli 2010
Real Man
tiba-tiba keinget sebuah film mafia-mafiaan di TV
Si Bos mafia nanya, "Alessandro, di kepalamu ada luka apa?" (sambil menunjuk muka Alessandro)
Alessandro jawab, "Oh ini, ini luka gara-gara berantem sama preman jalanan."
langsung si bos mafia mengatakan kata-kata bijak, "Hmmhh seorang laki-laki akan belajar dari lukanya."
Seorang Laki-Laki akan belajar dari luka yang didapatnya.
yup, begitulah cuplikan cerita film mafia. Gue bisa menganalogikan dengan cerita lain,
Bejo, seorang anak kecil yang suka sepedaan. Seorang anak kecl biasanya masih belom tahu bahaya, masih belom hati-hati dalam melakukan sesuatu. Suatu hari, karena sepedaan dengan ngebut mencapai 100km/jam (lebay), akhirnya Bejo pun nabrak karena kurang hati-hati. Dia terbang. Dia terlempar hingga masuk kali. Sekujur badannya pun luka-luka. Pulang-pulang bejo dimarahin ibunya, "JOOOOO KAMU NGAPAIN AJA, KOK BISA ITEM SEMUA BAU TAI BADAN KAMU LAGI" Seketika itu, Bejo pun dijewer dan dimarahin. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah badan luka-luka, sepeda penyok, dimarahin dan dijewer ibunya lagi.. (kasian Bejo). Berawal dari situlah, keesokan harinya, Bejo lebih berhati-hati ketika sepedaan. Yah paling cuma 20km/jam aja kecepatannya.
Beginilah seharusnya, ketika orang sudah mendapatkan luka, seperti Bejo yang luka-luka atau bahkan tangan patah (misalnya), dia mengubah dirinya lebih berhati-hati dalam menyikapi sesuatu. Hal ini juga lah yang akhirnya membuat Bejo belajar. Belajar untuk menjadi dewasa dan belajar memiliki pemikiran yang logis dan mengerti akan bahaya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN BELAJAR DARI LUKA YANG DIDAPATNYA"
Kemudian, (lanjut cerita Bejo) Bejo ketika dirawat mengalami kesakitan yang luar biasa di sekujur badannya. Yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Karena dia sudah merasakannya dimana orang lain belum tentu pernah merasakannya, akan ada peningkatan di dalam diri Bejo. Entah di badannya, atau di tempat lain. Peningkatan yang dialami Bejo inilah yang akhirnya akan membuat dia menjadi lebih kuat. Seseorang, dimana dia merasakan kesakitan lebih dimana sebelumnya belum pernah merasakannya, lama-kelamaan rasa sakit lebih itu akan membuat dia biasa saja. Dan akhirnya dia menjadi lebih kuat daripada orang-orang biasa lainnya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN MENJADI KUAT DARI KESAKITAN YANG DIALAMINYA"
Si Bos mafia nanya, "Alessandro, di kepalamu ada luka apa?" (sambil menunjuk muka Alessandro)
Alessandro jawab, "Oh ini, ini luka gara-gara berantem sama preman jalanan."
langsung si bos mafia mengatakan kata-kata bijak, "Hmmhh seorang laki-laki akan belajar dari lukanya."
Seorang Laki-Laki akan belajar dari luka yang didapatnya.
yup, begitulah cuplikan cerita film mafia. Gue bisa menganalogikan dengan cerita lain,
Bejo, seorang anak kecil yang suka sepedaan. Seorang anak kecl biasanya masih belom tahu bahaya, masih belom hati-hati dalam melakukan sesuatu. Suatu hari, karena sepedaan dengan ngebut mencapai 100km/jam (lebay), akhirnya Bejo pun nabrak karena kurang hati-hati. Dia terbang. Dia terlempar hingga masuk kali. Sekujur badannya pun luka-luka. Pulang-pulang bejo dimarahin ibunya, "JOOOOO KAMU NGAPAIN AJA, KOK BISA ITEM SEMUA BAU TAI BADAN KAMU LAGI" Seketika itu, Bejo pun dijewer dan dimarahin. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah badan luka-luka, sepeda penyok, dimarahin dan dijewer ibunya lagi.. (kasian Bejo). Berawal dari situlah, keesokan harinya, Bejo lebih berhati-hati ketika sepedaan. Yah paling cuma 20km/jam aja kecepatannya.
Beginilah seharusnya, ketika orang sudah mendapatkan luka, seperti Bejo yang luka-luka atau bahkan tangan patah (misalnya), dia mengubah dirinya lebih berhati-hati dalam menyikapi sesuatu. Hal ini juga lah yang akhirnya membuat Bejo belajar. Belajar untuk menjadi dewasa dan belajar memiliki pemikiran yang logis dan mengerti akan bahaya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN BELAJAR DARI LUKA YANG DIDAPATNYA"
Kemudian, (lanjut cerita Bejo) Bejo ketika dirawat mengalami kesakitan yang luar biasa di sekujur badannya. Yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Karena dia sudah merasakannya dimana orang lain belum tentu pernah merasakannya, akan ada peningkatan di dalam diri Bejo. Entah di badannya, atau di tempat lain. Peningkatan yang dialami Bejo inilah yang akhirnya akan membuat dia menjadi lebih kuat. Seseorang, dimana dia merasakan kesakitan lebih dimana sebelumnya belum pernah merasakannya, lama-kelamaan rasa sakit lebih itu akan membuat dia biasa saja. Dan akhirnya dia menjadi lebih kuat daripada orang-orang biasa lainnya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN MENJADI KUAT DARI KESAKITAN YANG DIALAMINYA"
Jumat, 28 Mei 2010
Perspektif
perspektif, sebuah sudut pandang kita melihat sesuatu. bisa dari atas bawah belakang depan. Setiap orang yang melihat sesuatu dari tempat yang berbeda pasti punya pemikiran yang berbeda tentang apa yang dilihatnya. Beberapa minggu kemaren gue nonton tv. ada sebuah cerita yang menurut gue cukup menarik dan bisa dijadikan bahan pembelajaran. Begini ceritanya
Sam dan Nadine (sebut saja begitu), sudah berpacaran sangat lama, dulunya Sam hanyalah orang yang biasa-biasa saja, seseorang yang baik. Kemudian Sam mendapatkan kekayaan yang tiba-tiba. Dari sinilah Sam berubah menjadi orang yang mencintai uang dan beranggapan kalau semua bisa dibeli dengan uang. (Gue gak setuju, menurut gue, Uang tidak bisa membeli semuanya termasuk cinta, tapi uang bisa menimbulkan perasaan cinta). Sam jadi pujaan semua wanita, bahkan teman dekat Nadine yaitu Sarah pun tergila-gila padanya.
Uang tidak bisa membeli semuanya termasuk cinta, tapi uang bisa menimbulkan perasaan cinta
Suatu hari pada saat Nadine dan Sam makan malam. Sam melamar Nadine. Saat itu Sam memberi cincin yang sangat mahal sekali. Nadine menganggapnya itu yang salah, dia bilang, "Uang gak bisa membeli kebahagiaan". Dinner saat itu, Nadine pun menolak lamaran Sam yang bahkan agak memaksa untuk menerimanya.
Saat makan malam selanjutnya, bersamaan dengan ulang tahun Nadine.
Nadine, "Sam, aku mau ngomong sesuatu,"
Sam, "Iya apa ?"
Nadine, "Aku menerimanya"
Sam, "Menerima apa?" (gak ngerti dan bener-bener lupa)
Nadine dengan muka agak bete, "Menerima lamaranmu Sam :D"
Sam, "Ohh lamaran..... iyaa, maaf aku membatalkannya."
Nadine, "APAAA?? KENAPA?"
Sam, "Iya aku membatalkannya, aku tidak tertarik lagi kepadamu"
Nadine, "Sebaiknya aku pergi saja dari sini." (langsung cabut pulang)
Besoknya, masuk koran..
SAM DIPENJARA KARENA MELAKUKAN PENIPUAN
Bapake Nadine, "Oh tidak, Sam dipenjara!" (dikira Nadine sama Sam masih pacaran)
Nadine, "Ohhh, untung saja kemaren aku batal tunangan sama dia"
Bapake Nadine, "APA?? Apa kamu baik-baik saja nak?"
Nadine, "Iya, oke, sebaiknya tidak usah membicarakan dia lagi."
....................................
"Untung" aku batal tunangan.. inilah perspektif dari Nadine. Terkadang kaum hawa memikirkan sesuatu dari apa yang dia alami saja dan kebanyakan adalah perspektif negatif. Disinilah saat teman curhatnya mengatakan sesuatu yang lain dan dia baru menyadarinya. Bagaimana jika Sam pada saat itu berpikir, "wah gimana nih, kasusku udah mulai ketahuan nih, yaudah deh daripada aku membawa Nadine ke dalam masalah ini nanti nama dia dan keluarganya akan jelek dan dia tidak akan bahagia denganku jika aku masuk penjara, atau mungkin nanti dia akan meninggalkanku kalau aku dipenjara, yaudah deh aku batalin aja lamarannya." setelah mengetahui alasan ini mungkin nadine akan berubah pikiran, dia tidak lagi melihat Sam dari sudut negatif lagi bahkan mungkin berubah menjadi positif.
makanya komunikasi itu penting, kita butuh komunikasi buat ngurangin beban dengan cerita supaya orang tahu keadaan kita, bahkan kita bisa menyadari sesuatu yang diluar pikiran kita dengan mengomunikasikannya dengan orang lain. Komunikasi juga bisa membantu kita menyelesaikan masalah.
Jadi, janganlah melihat sesuatu dari satu sisi pemikiran saja, lihatlah dari segala sisi masalah itu, bisa saja sesuatu yang kita pandang negatif adalah sesuatu yang sebenernya positif, bahkan bisa sangat menguntungkan kita; sayangnya kita melihat dari sisi negatifnya saja.
Sam dan Nadine (sebut saja begitu), sudah berpacaran sangat lama, dulunya Sam hanyalah orang yang biasa-biasa saja, seseorang yang baik. Kemudian Sam mendapatkan kekayaan yang tiba-tiba. Dari sinilah Sam berubah menjadi orang yang mencintai uang dan beranggapan kalau semua bisa dibeli dengan uang. (Gue gak setuju, menurut gue, Uang tidak bisa membeli semuanya termasuk cinta, tapi uang bisa menimbulkan perasaan cinta). Sam jadi pujaan semua wanita, bahkan teman dekat Nadine yaitu Sarah pun tergila-gila padanya.
Uang tidak bisa membeli semuanya termasuk cinta, tapi uang bisa menimbulkan perasaan cinta
Suatu hari pada saat Nadine dan Sam makan malam. Sam melamar Nadine. Saat itu Sam memberi cincin yang sangat mahal sekali. Nadine menganggapnya itu yang salah, dia bilang, "Uang gak bisa membeli kebahagiaan". Dinner saat itu, Nadine pun menolak lamaran Sam yang bahkan agak memaksa untuk menerimanya.
Saat makan malam selanjutnya, bersamaan dengan ulang tahun Nadine.
Nadine, "Sam, aku mau ngomong sesuatu,"
Sam, "Iya apa ?"
Nadine, "Aku menerimanya"
Sam, "Menerima apa?" (gak ngerti dan bener-bener lupa)
Nadine dengan muka agak bete, "Menerima lamaranmu Sam :D"
Sam, "Ohh lamaran..... iyaa, maaf aku membatalkannya."
Nadine, "APAAA?? KENAPA?"
Sam, "Iya aku membatalkannya, aku tidak tertarik lagi kepadamu"
Nadine, "Sebaiknya aku pergi saja dari sini." (langsung cabut pulang)
Besoknya, masuk koran..
SAM DIPENJARA KARENA MELAKUKAN PENIPUAN
Bapake Nadine, "Oh tidak, Sam dipenjara!" (dikira Nadine sama Sam masih pacaran)
Nadine, "Ohhh, untung saja kemaren aku batal tunangan sama dia"
Bapake Nadine, "APA?? Apa kamu baik-baik saja nak?"
Nadine, "Iya, oke, sebaiknya tidak usah membicarakan dia lagi."
....................................
"Untung" aku batal tunangan.. inilah perspektif dari Nadine. Terkadang kaum hawa memikirkan sesuatu dari apa yang dia alami saja dan kebanyakan adalah perspektif negatif. Disinilah saat teman curhatnya mengatakan sesuatu yang lain dan dia baru menyadarinya. Bagaimana jika Sam pada saat itu berpikir, "wah gimana nih, kasusku udah mulai ketahuan nih, yaudah deh daripada aku membawa Nadine ke dalam masalah ini nanti nama dia dan keluarganya akan jelek dan dia tidak akan bahagia denganku jika aku masuk penjara, atau mungkin nanti dia akan meninggalkanku kalau aku dipenjara, yaudah deh aku batalin aja lamarannya." setelah mengetahui alasan ini mungkin nadine akan berubah pikiran, dia tidak lagi melihat Sam dari sudut negatif lagi bahkan mungkin berubah menjadi positif.
makanya komunikasi itu penting, kita butuh komunikasi buat ngurangin beban dengan cerita supaya orang tahu keadaan kita, bahkan kita bisa menyadari sesuatu yang diluar pikiran kita dengan mengomunikasikannya dengan orang lain. Komunikasi juga bisa membantu kita menyelesaikan masalah.
Jadi, janganlah melihat sesuatu dari satu sisi pemikiran saja, lihatlah dari segala sisi masalah itu, bisa saja sesuatu yang kita pandang negatif adalah sesuatu yang sebenernya positif, bahkan bisa sangat menguntungkan kita; sayangnya kita melihat dari sisi negatifnya saja.
Jumat, 02 April 2010
Sampel Jakarta Materialistis
suatu hari gue pergi sama Bapak, Ibu, dan kakak buat nyari lokasi tes kerja kakak gue di Cakung. Kami gak tahu lokasinya ada dimana. Kami cuma mengandalkan sebuah peta jakarta yang gue beli beberapa bulan sebelumnya.
Kami sudah sampai di jalan besar dimana ada jalan tol di sebelah kanan. Akan tetapi kami tidak tahu dimana lokasi tesnya. Kami jalan pelan-pelan melihat ke kiri dan perhatiin nama jalan. Ada sebuah nama jalan yang sama tapi nomornya berbeda dan jalan itu cukup besar. Kami pun belok kiri dengan keyakinan Bapak kalau jalannya benar. Eh tiba-tiba Bapak berhenti karena melihat beberapa orang tukang ojek sedang mangkal. Melihat mereka, Bapak berinisiatif untuk bertanya. Dibuka lah jendela dan kami pun bertanya. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa kami salah belok. Seharusnya kami lurus saja karena lokasinya berada di sebelah kiri jalan besar. Karena kami masih agak di belokan, Bapak memutuskan untuk mundur saja daripada puter arah, jauh gan muternya.
Mobil mundur perlahan. Tiba-tiba salah satu dari tukang ojek berlari kemudian bertingkah seperti pak ogah.
"Ayoo ayoo pak saya bantu mundur" katanya. Gue seneng nih ada orang bilang gitu, alhamdulillah ada yang mau bantu.
"Teruuus... Teruus... kosong pak."
Ketika sudah selesai. Bapak nyari-nyari uang seribuan, gak ketemu. Minta Ibu, ibu gak punya juga. Alhasil gak ada. Akhirnya Bapak cuma bilang, "terima kasih mas"
dengan muka sinis si tukang ojek item jelek bau bilang, "Yee.. makasih doang"
"What?" (dalam hati gue).. Anjiir ini manusia minta digaplok.. Kami pergi begitu saja setelah ia bilang itu.
Bapak bilang, "Ini Jakarta.. apa-apa pasti pake duit" (hati gue masih bergejolak)
Okee ini Jakarta, we can't live without money now. Tapi itu kan salah.. memberi pertolongan demi uang.. paling berapa sih? seribu? Setelah sekian detik berada pergi sama si abang itu. Gue mikir, bahkan rela deh ngeluarin uang 50 ribu rupiah asal sebelumnya gue ludahin tuh uang terus gue lipet.
Astaga.. eh tapi itu pantes buat dia, nolong kok demi uang, seribu lagi.
Inilah cerminan masyarakat modern. Yap, semua pasti butuh uang untuk tetap hidup. Tapi dimanakah nilai-nilai yang ditanamkan kepada mereka agar menolong dengan tulus ikhlas. Apakah mereka tidak diajarkan oleh orang tua mereka atau mereka adalah kaum menengah ke bawah yang memang tidak mendapat pendidikan yang layak sehingga yang mereka tahu hanyalah mencari uang dan makan. Ada juga yang sampai menjual anaknya yang baru lahir demi uang. Semua karena uang. Sampel itu sudah menunjukkan betapa kita diperbudak oleh uang. Menolong demi uang bukannya monolong dengan tulus ikhlas adalah salah.
Apa yang bisa kita dapat jika kita menolong demi seribu? sama saja harganya dengan ngemis. Sama saja dengan orang pipis. Paling buat apa sih itu uang, dalam sehari juga habis buat beli rokok. Sesungguhnya apabila kita menolong dengan ikhlas kita akan mendapat harga yang berkali-kali lipat lebih besar dari uang seratus seribu rupiah. Sebuah investasi yang hasilnya akan kita petik di hari akhir nanti. Yang mungkin akan menolong kita kelak. Sayang manusia sudah diperbudak oleh uang. Bukannya mendekatkan diri kepada sang Pencipta eh malah mendekatkan diri ke tanah kuburannya (ya iya lah, ngerokok gitu). Tidak ada pahala yang didapat kalau begitu. Kita lebih perduli kehidupan duniawi daripada hari akhir.
Sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata
Kami sudah sampai di jalan besar dimana ada jalan tol di sebelah kanan. Akan tetapi kami tidak tahu dimana lokasi tesnya. Kami jalan pelan-pelan melihat ke kiri dan perhatiin nama jalan. Ada sebuah nama jalan yang sama tapi nomornya berbeda dan jalan itu cukup besar. Kami pun belok kiri dengan keyakinan Bapak kalau jalannya benar. Eh tiba-tiba Bapak berhenti karena melihat beberapa orang tukang ojek sedang mangkal. Melihat mereka, Bapak berinisiatif untuk bertanya. Dibuka lah jendela dan kami pun bertanya. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa kami salah belok. Seharusnya kami lurus saja karena lokasinya berada di sebelah kiri jalan besar. Karena kami masih agak di belokan, Bapak memutuskan untuk mundur saja daripada puter arah, jauh gan muternya.
Mobil mundur perlahan. Tiba-tiba salah satu dari tukang ojek berlari kemudian bertingkah seperti pak ogah.
"Ayoo ayoo pak saya bantu mundur" katanya. Gue seneng nih ada orang bilang gitu, alhamdulillah ada yang mau bantu.
"Teruuus... Teruus... kosong pak."
Ketika sudah selesai. Bapak nyari-nyari uang seribuan, gak ketemu. Minta Ibu, ibu gak punya juga. Alhasil gak ada. Akhirnya Bapak cuma bilang, "terima kasih mas"
dengan muka sinis si tukang ojek item jelek bau bilang, "Yee.. makasih doang"
"What?" (dalam hati gue).. Anjiir ini manusia minta digaplok.. Kami pergi begitu saja setelah ia bilang itu.
Bapak bilang, "Ini Jakarta.. apa-apa pasti pake duit" (hati gue masih bergejolak)
Okee ini Jakarta, we can't live without money now. Tapi itu kan salah.. memberi pertolongan demi uang.. paling berapa sih? seribu? Setelah sekian detik berada pergi sama si abang itu. Gue mikir, bahkan rela deh ngeluarin uang 50 ribu rupiah asal sebelumnya gue ludahin tuh uang terus gue lipet.
Astaga.. eh tapi itu pantes buat dia, nolong kok demi uang, seribu lagi.
Inilah cerminan masyarakat modern. Yap, semua pasti butuh uang untuk tetap hidup. Tapi dimanakah nilai-nilai yang ditanamkan kepada mereka agar menolong dengan tulus ikhlas. Apakah mereka tidak diajarkan oleh orang tua mereka atau mereka adalah kaum menengah ke bawah yang memang tidak mendapat pendidikan yang layak sehingga yang mereka tahu hanyalah mencari uang dan makan. Ada juga yang sampai menjual anaknya yang baru lahir demi uang. Semua karena uang. Sampel itu sudah menunjukkan betapa kita diperbudak oleh uang. Menolong demi uang bukannya monolong dengan tulus ikhlas adalah salah.
Apa yang bisa kita dapat jika kita menolong demi seribu? sama saja harganya dengan ngemis. Sama saja dengan orang pipis. Paling buat apa sih itu uang, dalam sehari juga habis buat beli rokok. Sesungguhnya apabila kita menolong dengan ikhlas kita akan mendapat harga yang berkali-kali lipat lebih besar dari uang seratus seribu rupiah. Sebuah investasi yang hasilnya akan kita petik di hari akhir nanti. Yang mungkin akan menolong kita kelak. Sayang manusia sudah diperbudak oleh uang. Bukannya mendekatkan diri kepada sang Pencipta eh malah mendekatkan diri ke tanah kuburannya (ya iya lah, ngerokok gitu). Tidak ada pahala yang didapat kalau begitu. Kita lebih perduli kehidupan duniawi daripada hari akhir.
Sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata
Rabu, 20 Januari 2010
baru...
fiuuuh.. setelah dulu bikin blog dan gak keurus bahkan sampai gue hapus blog gue yang lama karena jadwal yang sibuk menghadapi ujian-ujian SMA akhirnya gue blogging lagi.
Kali ini gue bikin blog baru setelah melihat blog orang lain yang ciaaooo...
Dan sekarang gue bertekad gak menghapus blog gue dan akan terus menulis karena ada banyak pikiran di otak gue yang ingin gue share.
so enjoy it..
-Ban Kim Soon-
banyak belenggu yang menghambat kita melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Mulailah dari perubahan kecil dirimu karena sebuah perubahan kecil dapat menjadi sebuah perubahan yang besar.
Kali ini gue bikin blog baru setelah melihat blog orang lain yang ciaaooo...
Dan sekarang gue bertekad gak menghapus blog gue dan akan terus menulis karena ada banyak pikiran di otak gue yang ingin gue share.
so enjoy it..
-Ban Kim Soon-
Senin, 18 Januari 2010
Bus Transjakarta vs Motor
sebuah pengalaman yang membuat hati agak jengkel ketika melihat sepeda motor. Yap, mungkin hampir semua pengendara mobil akan mengatakan hal yang sama bahkan saya sendiri seorang pengendara sepeda motor pun terkadang harus menahan emosi ketika pengendara sepeda motor mengendarai kendaraannya dengan ugal-ugalan dan seenaknya. Hal ini tercermin jelas walaupun bukan semua pengendara sepeda motor seperti itu tetapi mayoritas bersikap seperti itu.
Saya beserta teman saya yaitu pendi dan aman pergi ke mal Taman Anggrek. Sepulangnya
dari Taman Anggrek kami menggunakan bus Transjakarta.
Bis pertama lewat begitu saja tanpa berhenti (dalem hati, "Lho kok gak berhenti." Kemudian saya berpikir kalo memang bukan jalurnya disitu, "ohh yaudah." dalam hati saya bergumam).
Bis kedua berhenti tapi cuma menurunkan penumpang saja. Saya bingung kok cuman menurunkan penumpang saja sedangkan ada penumpang di depan saya yang hendak masuk bis tetapi dihalangi oleh petugasnya dan sang penumpang disuruh mundur dengan halus oleh petugas. Kemudian bis kedua itu pergi begitu saja dengan keadaan kosong penumpang.
Bis ketiga selanjutnya lewat tanpa berhenti. Lama menunggu di shelter busway depan mal Taman Anggrek membuat keringat bercucuran. Ditambah teriknya cahaya matahari yang membuat penumpang di depan saya mengeluarkan dan membuka payungnya. Untung orang di depan saya bertubuh tinggi sehingga panasnya matahari tertutup oleh badannya. Tetapi itu tidak berpengaruh banyak, saya tetap merasakan cucuran keringat yang mengalir di belakang punggung saya.
Akhirnya bis keempat pun datang. petugas bis bilang, "lebak bulus lebak bulus". Dalam hati, "ohh ini bis saya." Saya masuk dengan bergerombol. Tempat duduk pun langsung penuh karena penumpang yang mengantri dari tadi juga banyak. Akhirnya saya berdiri dan memilih untuk ke depan karena di depan ada tiang untuk saya bersandar.
didepan, saya bisa melihat keadaan jalan di depan bis. Bis Transjakarta adalah bis yang memiliki jalur sendiri dan itu harus steril dari kendaraan lain. Bahkan masih ingat dalam ingatan saya wakil presiden Hamzah Haz dalam sebuah pemberitaan di media masa waktu itu saja tidak boleh masuk busway jalur bis Transjakarta bahkan beliau sampai meminta maaf karena telah masuk jalur busway. Nah sekarang ada banyak mobil butut sampe mobil mewah, motor butut sampe motor biasa, bis butut, truk butut. Lah kok bisa-bisanya masuk busway Transjakarta yang sudah diberi separator. Memangnya siapa mereka, anak sultan mana? anak presiden negara mana? anak raja siapa? BOOO! Inilah cermin masyarakat Indonesia (no offense) tetapi saya pun juga kecewa apalagi kalau lagi naik bis Transjakarta yang seharusnya bisa melaju mulus eh malah terkena macet juga. Sekali lagi bisa dikatakan inilah cermin masyarakat yang susah "dikandani". Aturan sudah ada bukannya mentaatinya eh malah dilanggar.
= Cermin perilaku suatu masyarakat terlihat dari perilaku masyarakatnya di jalan =
Dua kejadian yang terjadi berurutan terkait dengan sepeda motor.
Kejadian pertama,
di depan ada sebuah tempat untuk berputar arah (U-turn) dari arah sebaliknya. Supir bis sudah mengklakson berkali-kali agar mereka tahu dan berhenti dulu sejenak. Dua buah sepeda motor berhenti sebelum berbelok. Tiba-tiba sebuah sepeda motor dimana pengendaranya menggunakan helm putih main langsung putar saja. Padahal sang supir bis sudah mengklakson berkali-kali dari jauh bahkan sampai dekat masih di klakson. Sepeda motor main belok begitu saja tanpa melihat ke ke arah jalan dimana ia mau berbelok. Syukurlah sang supir bis Transjakarta dengan sabar dan mungkin gondok mengerem bisnya sehingga mengakibatkan penumpang seperti terpental ke depan. Dalam hati saya bergumam, "GOBLOK! Gak lihat apa ada bis bahkan sudah klakson berkali-kali, Lo kira diri lo kereta api apa gak bisa berhenti, eh tetep aja belok. Etikanya lo liat dulu jalannya. Baru kalau ada kesempatan berbelok baru belok." Si pengendara motor pun ketika diklakson bukannya berhenti eh malah menambah kecepatannya dan memaksakan jalan yang padahal tidak cukup. "BODOH!, meresikokan nyawa hanya karena malas menunggu 5 detik saja." Sang supir bis Transjakarta sampai geleng-geleng kepala menghadapi perilaku bermental kampung seperti itu.
Kejadian kedua,
Terjadi lagi di sebuah U-turn yang berbeda. Sebuah pengendara Vario biru, tidak memakai helm, dan menaruh anaknya di depan. Lampu rambu lalu-lintas sudah hijau untuk bis. Si pengendara Vario mau berputar. Sang supir bis Transjakarta sudah mengklakson agar si pengemudi berhenti. Si pengendara motor dengan sok nya mengklakson balik dan perlahan maju ke depan seakan-akan menantang bis. Lucu.. motor disenggol sedikit saja sudah jatuh. Ini kok berani-beraninya menantang bis. Sang pengemudi juga maju. si pengemudi motor juga maju. Akhirnya sang supir bis Transjakarta mengerem bisnya kembali. Sang pengendara motor yang sok berani kemudian membusungkan dadanya sambil jalan.
Dua kejadian diatas membuat hati saya bergejolak. Betapa tidak. Inilah cerminan perilaku masyarakat di jalan yang secara tidak langsung mencerminkan masyarakatnya. Satu hal yang dapat saya petik adalah bahwa banyak pengendara tidak memiliki etika berkendara di jalan. Entah apakah (menurut saya) kebanyakan pengendara motor adalah orang-orang yang tidak berpendidikan atau mereka adalah orang kampung yang langsung beli motor dan jalan begitu saja sehingga tidak mengenal yang namanya keselamatan berkendara, tidak perhitungan, gaya-gaya ugal-ugalan sehingga meyusahkan orang lain. Mereka tidak punya etika di jalan.
Tolonglah etika moral, bermental sesuai aturan dan disiplin berkendara dijunjung tinggi. Jika tidak, hal inilah yang menyebabkan banyaknya orang stress di jalan.
Saya beserta teman saya yaitu pendi dan aman pergi ke mal Taman Anggrek. Sepulangnya
dari Taman Anggrek kami menggunakan bus Transjakarta.
Bis pertama lewat begitu saja tanpa berhenti (dalem hati, "Lho kok gak berhenti." Kemudian saya berpikir kalo memang bukan jalurnya disitu, "ohh yaudah." dalam hati saya bergumam).
Bis kedua berhenti tapi cuma menurunkan penumpang saja. Saya bingung kok cuman menurunkan penumpang saja sedangkan ada penumpang di depan saya yang hendak masuk bis tetapi dihalangi oleh petugasnya dan sang penumpang disuruh mundur dengan halus oleh petugas. Kemudian bis kedua itu pergi begitu saja dengan keadaan kosong penumpang.
Bis ketiga selanjutnya lewat tanpa berhenti. Lama menunggu di shelter busway depan mal Taman Anggrek membuat keringat bercucuran. Ditambah teriknya cahaya matahari yang membuat penumpang di depan saya mengeluarkan dan membuka payungnya. Untung orang di depan saya bertubuh tinggi sehingga panasnya matahari tertutup oleh badannya. Tetapi itu tidak berpengaruh banyak, saya tetap merasakan cucuran keringat yang mengalir di belakang punggung saya.
Akhirnya bis keempat pun datang. petugas bis bilang, "lebak bulus lebak bulus". Dalam hati, "ohh ini bis saya." Saya masuk dengan bergerombol. Tempat duduk pun langsung penuh karena penumpang yang mengantri dari tadi juga banyak. Akhirnya saya berdiri dan memilih untuk ke depan karena di depan ada tiang untuk saya bersandar.
didepan, saya bisa melihat keadaan jalan di depan bis. Bis Transjakarta adalah bis yang memiliki jalur sendiri dan itu harus steril dari kendaraan lain. Bahkan masih ingat dalam ingatan saya wakil presiden Hamzah Haz dalam sebuah pemberitaan di media masa waktu itu saja tidak boleh masuk busway jalur bis Transjakarta bahkan beliau sampai meminta maaf karena telah masuk jalur busway. Nah sekarang ada banyak mobil butut sampe mobil mewah, motor butut sampe motor biasa, bis butut, truk butut. Lah kok bisa-bisanya masuk busway Transjakarta yang sudah diberi separator. Memangnya siapa mereka, anak sultan mana? anak presiden negara mana? anak raja siapa? BOOO! Inilah cermin masyarakat Indonesia (no offense) tetapi saya pun juga kecewa apalagi kalau lagi naik bis Transjakarta yang seharusnya bisa melaju mulus eh malah terkena macet juga. Sekali lagi bisa dikatakan inilah cermin masyarakat yang susah "dikandani". Aturan sudah ada bukannya mentaatinya eh malah dilanggar.
= Cermin perilaku suatu masyarakat terlihat dari perilaku masyarakatnya di jalan =
Dua kejadian yang terjadi berurutan terkait dengan sepeda motor.
Kejadian pertama,
di depan ada sebuah tempat untuk berputar arah (U-turn) dari arah sebaliknya. Supir bis sudah mengklakson berkali-kali agar mereka tahu dan berhenti dulu sejenak. Dua buah sepeda motor berhenti sebelum berbelok. Tiba-tiba sebuah sepeda motor dimana pengendaranya menggunakan helm putih main langsung putar saja. Padahal sang supir bis sudah mengklakson berkali-kali dari jauh bahkan sampai dekat masih di klakson. Sepeda motor main belok begitu saja tanpa melihat ke ke arah jalan dimana ia mau berbelok. Syukurlah sang supir bis Transjakarta dengan sabar dan mungkin gondok mengerem bisnya sehingga mengakibatkan penumpang seperti terpental ke depan. Dalam hati saya bergumam, "GOBLOK! Gak lihat apa ada bis bahkan sudah klakson berkali-kali, Lo kira diri lo kereta api apa gak bisa berhenti, eh tetep aja belok. Etikanya lo liat dulu jalannya. Baru kalau ada kesempatan berbelok baru belok." Si pengendara motor pun ketika diklakson bukannya berhenti eh malah menambah kecepatannya dan memaksakan jalan yang padahal tidak cukup. "BODOH!, meresikokan nyawa hanya karena malas menunggu 5 detik saja." Sang supir bis Transjakarta sampai geleng-geleng kepala menghadapi perilaku bermental kampung seperti itu.
Kejadian kedua,
Terjadi lagi di sebuah U-turn yang berbeda. Sebuah pengendara Vario biru, tidak memakai helm, dan menaruh anaknya di depan. Lampu rambu lalu-lintas sudah hijau untuk bis. Si pengendara Vario mau berputar. Sang supir bis Transjakarta sudah mengklakson agar si pengemudi berhenti. Si pengendara motor dengan sok nya mengklakson balik dan perlahan maju ke depan seakan-akan menantang bis. Lucu.. motor disenggol sedikit saja sudah jatuh. Ini kok berani-beraninya menantang bis. Sang pengemudi juga maju. si pengemudi motor juga maju. Akhirnya sang supir bis Transjakarta mengerem bisnya kembali. Sang pengendara motor yang sok berani kemudian membusungkan dadanya sambil jalan.
Dua kejadian diatas membuat hati saya bergejolak. Betapa tidak. Inilah cerminan perilaku masyarakat di jalan yang secara tidak langsung mencerminkan masyarakatnya. Satu hal yang dapat saya petik adalah bahwa banyak pengendara tidak memiliki etika berkendara di jalan. Entah apakah (menurut saya) kebanyakan pengendara motor adalah orang-orang yang tidak berpendidikan atau mereka adalah orang kampung yang langsung beli motor dan jalan begitu saja sehingga tidak mengenal yang namanya keselamatan berkendara, tidak perhitungan, gaya-gaya ugal-ugalan sehingga meyusahkan orang lain. Mereka tidak punya etika di jalan.
Tolonglah etika moral, bermental sesuai aturan dan disiplin berkendara dijunjung tinggi. Jika tidak, hal inilah yang menyebabkan banyaknya orang stress di jalan.
Langganan:
Komentar (Atom)