Selasa, 11 September 2012
Bunga Bank Tidak Semudah Babi
Bunga bank tidak semudah babi.
Sejak kecil saya dicekoki bahwa babi adalah haram.
Haram itu memberi kita dosa.
Dosa itu mengurangi timbangan pahala kita.
Jika dosa lebih banyak dari pahala, ujungnya masuk neraka titik dan selesai.
Orang tua saya pun sampai jijik jika melihat babi.
Oleh karena itu, dengan alasan apapun, saya tidak mau makan babi. Menyentuhnya pun tidak. Begitu kentalnya doktrin dari orang tua saya, membuat saya berpikir tidak ada sisi positif dari babi.
Jikalau kita ubah konteksnya menjadi bunga bank
Bunga bank itu riba
riba itu haram
haram menambah dosa
ujung-ujungnya neraka.
Mudah sekali untuk menolak babi dan memakan babi. Tapi bunga bank merupakan hal yang sulit.
Kenyataannya masih banyak orang yang memakan riba. Banyak sekali orang tidak jijik sama riba, bahkan dengan senang hati memakannya. Mengambil uang bunga bank, untuk kemudian dibelikan makanan, kemudian makanan itu kita makan. Saya yang sedikit mendapat pencerahan justru kasihan. Uang riba jika kita makan membuat badan kita juga kotor. Bukan dalam konteks higienitas makanan, tapi semacam chakra negatif yang kita makan.
"Apa yang kita makan seharusnya berasal dari yang baik-baik, dari yang halal, itu akan membuat badan kita juga baik."
Orang yang tidak mengerti dengan mudah mengatakan "ditabung saja di bank, kan enak dapat bunga." Bunga bank itu enak? Kalo tiba-tiba dapat penyakit yang gak tahu darimana asalnya, mungkin saja itu dari riba yang dimakan.
Ada juga yang bilang, "Saya punya uang sekian nih, saya deposito-kan saja ah, nanti saya hidup tinggal ambil bunga dari deposito-nya." Anda bisa menilai sendiri akan seperti apa. ENAK? IYA. Tapi cuma enak di dunia. Hidup cuma sementara kok, bagaikan jeda antara azan/komat sampai solat(disolatkan). Masih ada hidup yang kekal abadi nanti.
Memang kalau mengkaitkan dengan ekonomi, akan menjadi susah. Intinya, bunga bank itu akan menambah kekayaan kita. Di belahan manusia manapun pasti mau kekayaannya bertambah tanpa harus kerja dan tanpa risiko. Oleh karena itu, bunga bank menjadi favorable.
Senin, 23 Juli 2012
semua butuh proses
Ada iklan di TVsatu. Seorang mahasiswa bilang, "skrg IPK gue 2,75, pokoknya bulan depan, gue harus cumlaude". Dalem hati gue, "Gilak lu yak!"
Sebenernya bukan hal yang mustahil mau cumlaude, (di kampus gue cumlaude = IPK diatas 3,5, gak pernah gagal di satu mata kuliah apapun, dan lulus tepat waktu (4tahun)). Cuma semua hal yang bagus itu butuh proses. Gak ada yang instant besok IP 4.00 pun belum bisa mencapai IPK 3,5.
SEMUA BUTUH PROSES
Walaupun dapet secara instan, beda sama kita usaha sendiri sampai nangis darah, pasti akan ada rasa kepuasan yang sangat puas kalo kita dapet dari usaha kita sendiri.
Dalem ngejalanin proses juga gak bisa sembarangan. Perlu ada yg namanya strategi. Contoh, kita mau cumlaude. Cumlaude itu perlu nilai-nilai yang bagus. So gak bisa kita belajar instan H-1 (alias H-12 jam baru belajar). Minimal strategi dasar yg bisa digunain adalah belajar dari jauh-jauh hari. Jadi H-1 tinggal reviu.
Nah ngejalanin strategi juga pake yang namanya manajemen. belajar dari jauh-jauh hari juga diatur, misalnya hari ini minimal baca 1 bab. Besok mata pelajaran lain juga minimal 1 bab. Gak mau kan yg dapet A cuma 1 matkul, tapi sisanya C-.
Jangan jadi manusia lemah. Gak mau usaha tapi pengen bagus. Mau kurus tapi gak mau olahraga dan diet. Ngejalanin proses itu emang nyakitin. Tapi hal yang nyakitin itu yg buat kita kuat. Proses yg nyakitin itulah jalan paling terbaik dari segala jalan.
Inget kan film Rocky Balboa. Supaya jadi petinju yang kuat dan tak terkalahkan, ada proses yang nyakitin untuk menjadi kuat. Lari sekian kilometer, naik tangga ratusan anak tangga, minum telur mentah, latihan keras sampai hampir pingsan. Dengan proses yang gak enak kayak gitu, itulah yang ngebuat kita mendapat hasil terbaik dan kokoh berada diatasnya.
Kamis, 19 April 2012
Akan seperti apa gue di masa depan
Sekarang sudah tanggal 20 April 2012, hal pertama yg gue lakukan adalah ngasih selamet karena hari ini adalah hari jadi gue dan dia yg ke-26. Ihiyyy, senangnya :).
Tapi masalahnya bukan itu, sebelum tanggal 20 ini, beberapa jam sebelumnya gue lagi baca-baca buku Sistem Pengendalian Manajemen, yang gue targetin malem ini, harus selesai gue baca chapter 10. Setelah itu, gue harus baca kasus yg akan dipresentasiin kelompok temen gue. Semua itu terpaksa gue lakuin karena dosennya selalu ngomong hal yang 'ngena' di hati.
Seharusnya sih gue baca-baca buku itu, eh karena gatel akhirnya gue nulis deh disini.
Beberapa hari yang lalu gue main ke labkom. Tujuannya sih mau baca kasus buat hari ini, eh tiba-tiba kepikiran untuk membuka yang lain. Hari itu juga bertepatan dengan adanya tes magang di sebuah KAP Big 4 di kampus gue. Karena kepikiran tes itu (yg gue gak ikutan), gue jadi kepikiran beberapa hal.
Pertama, apa aja ya skill yg harus gue miliki sebelum gue terjun ke dunia kerja.
Mulailah gue browsing les brevet dan kursus appraisals. Voila! ketemu! tapi pertanyaannya kapan gue mulai? Alhasil setelah berpikir pendek, gue udah mutusin gue akan les setelah proyek marching band ke Thailand ini telah lewat.
Kedua, dimana gue akan mulai karir.
Hmmhh awalnya gue pengen masuk KAP Big 4 yg TIGA dosen gue berasal dari KAP itu. Itulah KAP yg hurufnya ada delapan. Ya tau sendiri lah yaa.. Entah kenapa gue gak minat masuk KAP yg lain. SIAL... KAYAKNYA KEPALA GUE UDAH DIRACUNI DOSEN-DOSEN AUDIT GUE NIH. Apalagi dosen terakhir yg dengan bangga memamerkan software buatan kantornya di kelas. Dia juga sering promosi kantornya pas ngajar kelas. GUE KENA RACUN MEREKA NIH! Ataupun kemudian gue juga mikir hmmh kayaknya masuk second-tier seru juga. Entah kenapa gue ngerasa gak seru aja kalo lulus tapi langsung kerja di tempat bagus. Gak ada challenge-nya cuk. Intinya sih, gue pengen ngerasain yg namanya karir menanjak.
Ketiga, gue mikir setelah KAP, perusahaan migas mana ya yg akan gue masukin (ngayal gile gue)
Iya, tapi memang itulah tujuan akhir gue. Gue pengen masuk perusahaan migas. (Ya iyalah, gajinya gede buanget gitu). Selain itu gue juga pengen usaha sampingan. Siapa tahu bisa bermanfaat buat orang lain.
Terakhir. Setelah semua diatas. Gue dan PDS akan punya rumah seperti apa dan dimana yaa. Salah satu keinginan gue ya di Lombok supaya deket sama saudara dari emak.
Itulah khayalan-khayalan gue yg bahkan sekarang aja lagi ngetik ini masih ngayal. Nyambung ke pelajaran gue di Sistem Pengendalian Manajemen. Kita udah merencanakan dengan sangat baik tapi belum tentu apa yang terjadi di masa depan akan sama dengan rencana kita. Dan sekarang yg paling penting adalah USAHA supaya itu semua bisa terjadi. Sekarang harus belajar yang gak cuma tahu banyak, tapi harus ngerti.
Tapi masalahnya bukan itu, sebelum tanggal 20 ini, beberapa jam sebelumnya gue lagi baca-baca buku Sistem Pengendalian Manajemen, yang gue targetin malem ini, harus selesai gue baca chapter 10. Setelah itu, gue harus baca kasus yg akan dipresentasiin kelompok temen gue. Semua itu terpaksa gue lakuin karena dosennya selalu ngomong hal yang 'ngena' di hati.
Seharusnya sih gue baca-baca buku itu, eh karena gatel akhirnya gue nulis deh disini.
Beberapa hari yang lalu gue main ke labkom. Tujuannya sih mau baca kasus buat hari ini, eh tiba-tiba kepikiran untuk membuka yang lain. Hari itu juga bertepatan dengan adanya tes magang di sebuah KAP Big 4 di kampus gue. Karena kepikiran tes itu (yg gue gak ikutan), gue jadi kepikiran beberapa hal.
Pertama, apa aja ya skill yg harus gue miliki sebelum gue terjun ke dunia kerja.
Mulailah gue browsing les brevet dan kursus appraisals. Voila! ketemu! tapi pertanyaannya kapan gue mulai? Alhasil setelah berpikir pendek, gue udah mutusin gue akan les setelah proyek marching band ke Thailand ini telah lewat.
Kedua, dimana gue akan mulai karir.
Hmmhh awalnya gue pengen masuk KAP Big 4 yg TIGA dosen gue berasal dari KAP itu. Itulah KAP yg hurufnya ada delapan. Ya tau sendiri lah yaa.. Entah kenapa gue gak minat masuk KAP yg lain. SIAL... KAYAKNYA KEPALA GUE UDAH DIRACUNI DOSEN-DOSEN AUDIT GUE NIH. Apalagi dosen terakhir yg dengan bangga memamerkan software buatan kantornya di kelas. Dia juga sering promosi kantornya pas ngajar kelas. GUE KENA RACUN MEREKA NIH! Ataupun kemudian gue juga mikir hmmh kayaknya masuk second-tier seru juga. Entah kenapa gue ngerasa gak seru aja kalo lulus tapi langsung kerja di tempat bagus. Gak ada challenge-nya cuk. Intinya sih, gue pengen ngerasain yg namanya karir menanjak.
Ketiga, gue mikir setelah KAP, perusahaan migas mana ya yg akan gue masukin (ngayal gile gue)
Iya, tapi memang itulah tujuan akhir gue. Gue pengen masuk perusahaan migas. (Ya iyalah, gajinya gede buanget gitu). Selain itu gue juga pengen usaha sampingan. Siapa tahu bisa bermanfaat buat orang lain.
Terakhir. Setelah semua diatas. Gue dan PDS akan punya rumah seperti apa dan dimana yaa. Salah satu keinginan gue ya di Lombok supaya deket sama saudara dari emak.
Itulah khayalan-khayalan gue yg bahkan sekarang aja lagi ngetik ini masih ngayal. Nyambung ke pelajaran gue di Sistem Pengendalian Manajemen. Kita udah merencanakan dengan sangat baik tapi belum tentu apa yang terjadi di masa depan akan sama dengan rencana kita. Dan sekarang yg paling penting adalah USAHA supaya itu semua bisa terjadi. Sekarang harus belajar yang gak cuma tahu banyak, tapi harus ngerti.
Senin, 12 Maret 2012
Hidup buat apa sih?
Diiringi dengan lagu yang sedang gue putar, "Thank's God It's Friday" nya RAN. Mungkin gue ga begitu ngerti maksud lagu RAN. Tapi ada satu hal yang gue ngerti hanya dari judulnya. Pertama bersyukur kepada Tuhan. Kedua hari Jumat, hari yang menurut agama gue adalah hari terbaik. Trus?. Iya, generalisirnya adalah terima kasih gue bisa diberi kesempatan lagi untuk beribadah dan memohon ampunan kepada Tuhan YME. Karena Dialah gue masih bisa bernafas hingga detik ini.
Satu gelas kopi besar udah gue habisin. Awalnya niat mau baca buku Godfrey, alias Teori Akuntansi Keuangan yang udah masuk ilmu dewa. Eh gue malah chat sama doi dan buka-buka youtube. Dimulai dari dengerin lagu Enggo Lari-nya Yopie Latul sampai RAN (lagi). Dan ketika gue buka Thanks God It'ds Friday, gue jadi pengen nulis. Menulis di blog ini tentang sesuatu yang bahkan bukan guru agama yang ngajarin. Tapi justru dosen senior yang top banget. Bukan mata kuliah agama melainkan mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen.
Awalnya beliau hanya bercerita tentang seorang direktur utama pt xxx. Perusahaan yang memproduksi rokok di Indonesia. Beliau menceritakan bahwa sang direktur gak mau urusan sama hal-hal yang nilainya dibawah satu juta US dollar. Begini kata-kata sang direktur, "If you talk about less than one million dollar, go find other person. Dont discuss it with me". Gila!, arogan juga ini direktur. Mungkin itu ekspresi yang dikeluarkan dosen gue. Tapi mulailah ada rasionalisasi-nya. Iya juga ya, kan perusahaannya dapet laba bruto sekitar 40 triliunan rupiah. Kalo ngurusin dibawah 1 juta dollar pasti akan banyak banget urusannya sedangkan waktunya terbatas.
Lanjut cerita dosen gue menceritakan temannya yang lain. Seorang temannya dalam sebulan bisa menghasilkan nilai triliunan juga. Dosen gue cerita gini,
"Kemaren saya ketemu teman saya, dia bilang kita hidup ini buat apa sih."
"Kita kaya toh juga gak dibawa ke akhirat."
"Wah ini orang badannya masih disini tapi jiwanya udah di San Diego hills kali ya (dalem hati dosen gue)"
"Wah ini orang sekarang bisa ngomong kayak gini karena emang udah kaya banget. Udah gak mikirin duit. Saya yakin pas masih muda pasti prioritas 1 uang, prioritas 2 uang, prioritas 3 juga uang. Bahkan kalo ditanya prioritas 10 juga masih uang kali tuh."
Selain itu
Gue keinget hari minggu. Gue lagi duduk mendengar pembicaraan dua wanita. Mereka lagi ngomongin satu alumni cewek yang udah tua. Cewek itu tajirnya gatau berapa. Yang pasti kayaknya tajir banget. Satu bilang, wah dia tajir banget sampai punya perkumpulan. Perkumpulan itu temen-temennya ada dari India, dan negara lainnya. Dia udah jalan ke Eropa, Irak, di Indonesia pun semua tempat udah didatengin. Kayak pantai yang bagus banget di papua itu, apa namanya? Yang satu lagi menjawab, "Raja Ampat". Iya, Raja Ampat juga pernah didatengin. Duh enak banget deh tajir.
Gue hanya bisa termenung mendengar pembicaraan kedua orang itu. Disaat itu teringet pembicaraan dosen gue mengenai temannya yang jiwanya udah di San Diego Hills.
Ketika muda pasti kita ngejar duniawi banget. Tapi kalo udah tua baru inget Tuhan. Soal Try Out pas SMA juga mengingatkan cerita tentang Umar Kayam. Isinya kalo gak salah tentang masa muda mengejar harta namun setelah pensiun barulah kita mulai rajin sembahyang. Apa bener ya, preferensi ingat Tuhan ketika udah tajir dan udah tua.
Tapi itu salah deh.
Waktu muda, kalo udah diisi dengan ibadah akan lebih baik daripada ibadah ketika udah tua. Mumpung masih dikasi kesempatan memperberat amal kebaikan kenapa gak dilakuin dari muda. Ibadah udah kayak nabung di bank. Kalo dari muda udah rajin nabung, akan berapa besar pas udah tua. Beda halnya dengan orang yang mulai ibadah pas udah tua. Pastinya tua akan kalah kuantitas tabungannya dengan yang masih muda. Beruntung sekali orang-orang yang di masa mudanya sudah beribadah dengan kualitas yang baik.
Sebuah riwayat, "orang yang cerdas adalah orang yang dimasa hidupnya sering mengingat akhirat dan menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk akhirat.
Sebuah ayat, "Namun hanya sedikit dari kamu yang pandai bersyukur."
Jangan sampai ketika hari akhir datang kita akan berkata, "Aduhai celakalah kami. Sesungguhnya kami telah mendustakan Allah. Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zalim"
atau, "mereka berkata, jika kami dihidupkan kembali ke muka bumi. Pastilah kami akan rajin-rajin beribadah kepada Allah. Namun jika mereka kembali dihidupkan, mereka kemudian akan ingkar terhadap janjinya dan melupakan Allah. Dan setelah mereka dimatikan kembali, mereka akan berkata celakalah kami. Apa saja yang telah kami perbuat di dunia sehingga kami lupa beribadah. Dan mereka meminta kesempatan diberi kesempatan lagi dihidupkan. Namun itu semua sudah telambat.
nb: riwayat dan ayat adalah seinget gue. Kata-katanya gak sama persis tapi intinya seperti itu.
Mencari rejeki itu diwajibin dalam agama, tapi juga harus diimbangi dengan ibadah. Akan lebih baik lagi kalo rejeki yang melimpah juga digunakan untuk membantu sesama. Dan juga rejeki yang melimpah digunakan untuk hal-hal yang membantu ibadah.
Ketika kita sudah diatas jangan lupa darimana asal kita
--- the end---
Satu gelas kopi besar udah gue habisin. Awalnya niat mau baca buku Godfrey, alias Teori Akuntansi Keuangan yang udah masuk ilmu dewa. Eh gue malah chat sama doi dan buka-buka youtube. Dimulai dari dengerin lagu Enggo Lari-nya Yopie Latul sampai RAN (lagi). Dan ketika gue buka Thanks God It'ds Friday, gue jadi pengen nulis. Menulis di blog ini tentang sesuatu yang bahkan bukan guru agama yang ngajarin. Tapi justru dosen senior yang top banget. Bukan mata kuliah agama melainkan mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen.
Awalnya beliau hanya bercerita tentang seorang direktur utama pt xxx. Perusahaan yang memproduksi rokok di Indonesia. Beliau menceritakan bahwa sang direktur gak mau urusan sama hal-hal yang nilainya dibawah satu juta US dollar. Begini kata-kata sang direktur, "If you talk about less than one million dollar, go find other person. Dont discuss it with me". Gila!, arogan juga ini direktur. Mungkin itu ekspresi yang dikeluarkan dosen gue. Tapi mulailah ada rasionalisasi-nya. Iya juga ya, kan perusahaannya dapet laba bruto sekitar 40 triliunan rupiah. Kalo ngurusin dibawah 1 juta dollar pasti akan banyak banget urusannya sedangkan waktunya terbatas.
Lanjut cerita dosen gue menceritakan temannya yang lain. Seorang temannya dalam sebulan bisa menghasilkan nilai triliunan juga. Dosen gue cerita gini,
"Kemaren saya ketemu teman saya, dia bilang kita hidup ini buat apa sih."
"Kita kaya toh juga gak dibawa ke akhirat."
"Wah ini orang badannya masih disini tapi jiwanya udah di San Diego hills kali ya (dalem hati dosen gue)"
"Wah ini orang sekarang bisa ngomong kayak gini karena emang udah kaya banget. Udah gak mikirin duit. Saya yakin pas masih muda pasti prioritas 1 uang, prioritas 2 uang, prioritas 3 juga uang. Bahkan kalo ditanya prioritas 10 juga masih uang kali tuh."
Selain itu
Gue keinget hari minggu. Gue lagi duduk mendengar pembicaraan dua wanita. Mereka lagi ngomongin satu alumni cewek yang udah tua. Cewek itu tajirnya gatau berapa. Yang pasti kayaknya tajir banget. Satu bilang, wah dia tajir banget sampai punya perkumpulan. Perkumpulan itu temen-temennya ada dari India, dan negara lainnya. Dia udah jalan ke Eropa, Irak, di Indonesia pun semua tempat udah didatengin. Kayak pantai yang bagus banget di papua itu, apa namanya? Yang satu lagi menjawab, "Raja Ampat". Iya, Raja Ampat juga pernah didatengin. Duh enak banget deh tajir.
Gue hanya bisa termenung mendengar pembicaraan kedua orang itu. Disaat itu teringet pembicaraan dosen gue mengenai temannya yang jiwanya udah di San Diego Hills.
Ketika muda pasti kita ngejar duniawi banget. Tapi kalo udah tua baru inget Tuhan. Soal Try Out pas SMA juga mengingatkan cerita tentang Umar Kayam. Isinya kalo gak salah tentang masa muda mengejar harta namun setelah pensiun barulah kita mulai rajin sembahyang. Apa bener ya, preferensi ingat Tuhan ketika udah tajir dan udah tua.
Tapi itu salah deh.
Waktu muda, kalo udah diisi dengan ibadah akan lebih baik daripada ibadah ketika udah tua. Mumpung masih dikasi kesempatan memperberat amal kebaikan kenapa gak dilakuin dari muda. Ibadah udah kayak nabung di bank. Kalo dari muda udah rajin nabung, akan berapa besar pas udah tua. Beda halnya dengan orang yang mulai ibadah pas udah tua. Pastinya tua akan kalah kuantitas tabungannya dengan yang masih muda. Beruntung sekali orang-orang yang di masa mudanya sudah beribadah dengan kualitas yang baik.
Sebuah riwayat, "orang yang cerdas adalah orang yang dimasa hidupnya sering mengingat akhirat dan menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk akhirat.
Sebuah ayat, "Namun hanya sedikit dari kamu yang pandai bersyukur."
Jangan sampai ketika hari akhir datang kita akan berkata, "Aduhai celakalah kami. Sesungguhnya kami telah mendustakan Allah. Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zalim"
atau, "mereka berkata, jika kami dihidupkan kembali ke muka bumi. Pastilah kami akan rajin-rajin beribadah kepada Allah. Namun jika mereka kembali dihidupkan, mereka kemudian akan ingkar terhadap janjinya dan melupakan Allah. Dan setelah mereka dimatikan kembali, mereka akan berkata celakalah kami. Apa saja yang telah kami perbuat di dunia sehingga kami lupa beribadah. Dan mereka meminta kesempatan diberi kesempatan lagi dihidupkan. Namun itu semua sudah telambat.
nb: riwayat dan ayat adalah seinget gue. Kata-katanya gak sama persis tapi intinya seperti itu.
Mencari rejeki itu diwajibin dalam agama, tapi juga harus diimbangi dengan ibadah. Akan lebih baik lagi kalo rejeki yang melimpah juga digunakan untuk membantu sesama. Dan juga rejeki yang melimpah digunakan untuk hal-hal yang membantu ibadah.
Ketika kita sudah diatas jangan lupa darimana asal kita
--- the end---
Senin, 27 Februari 2012
Muak presentasi
Presentasi, sebuah hal yang baru gue ngerti dan gue lakuan pertama kali sewaktu SMP. Bahkan sampai sekarang gue di bangku kuliah, hampir tiap kelas ada presentasi.
Dahulu kala sejak gue masih duduk di bangku SMP, sebuah pelajaran yang gue diambil bahwa penilaian presentasi di kelas ialah per individu. Setiap individu yang mempresentasikan sesuatu hal dinilai dari cara berdiri, suara, pakaian, bahasa, kejelasan penyampaian dan lain sebagainya per individu. Pernah sebuah kelompok pelajaran Geografi mempresentasikan sesuatu. Hanya ada satu orang yang berbicara dari awal sampai akhir, namun kemudian ditegur oleh guru gue karena yang lain tidak mendapat nilai. Apakah presentasi harus bergantian?
Saat ini gue sedang duduk di bangku kuliah, hampir setiap mata kuliah yang gue ambil pasti ada presentasi di dalamnya. Namun seringkali gue muak dengan presentasi. Seringkali ada individu-individu tidak bisa menyampaikan dengan jelas maksud dan tujuannya. Alhasil gue jadi ga ngerti, presenter sebenernya ngomong apa sih. Masalahnya ialah, kenapa presentasi harus bergantian? Kenapa tidak satu orang saja yang paling mengerti tentang bahan presentasi dan yang paling bisa menyampaikan dengan jelas yang menjadi juru bicara? Walaupun pasti ada jawaban politis yaitu untuk melatih individu bisa dan berani melakukan presentasi. Menurut gue tujuan utama presentasi yang paling utama ialah membuat orang lain mengerti.
Di dalam realita, sering gue mikir. Kalo nanti di dunia kerja? Apa iya presentasi bergantian? Kalau ada yang 'gak bisa ngomong' mungkin investor akan bosen dan cabut. Pastinya kalau presentasi nanti, juru bicara lah yang berbicara, ya gak sih?
Perwakilan perguruan tinggi yang terletak di kuningan, bahkan gue lupa namanya apa, pernah datang ke sekolah gue dan melakukan presentasi. Mereka terdiri dari beberapa mahasiswa dan satu orang lebih tua (mungkin dosen). Gue tertegun dengan cara Ibu itu berbicara, bahasa yang digunakan, dan bagaimana ia menegur temen gue yang lagi main hape (menguasai kelas). Apa yang dibicarakannya memiliki konstruksi deduktif. Berbicara dari awal kemudian mengerucut ke akhir. Dari kata akhirnya, kami bisa menyimpulkan maksud dan tujuannya. Untuk sebuah universitas yang gak punya nama tapi mungkin mahal karena mereka datang dengan pakaian yang rapi sehingga persepsi pertama kali ialah mereka orang yang elegan. Sebagai tambahan saja, entah kenapa, gue serius dengerin mereka dari awal sampai akhir.
Presentasi lazim menggunakan power point. Kata dosen gue, power of point, jadi yang hanya ditulis hanya point-point saja sisanya berbicara. Mungkin itu benar. Tapi power point adalah alat bantu untuk mengerti. Temen gue kemaren berbicara sangat panjang hanya dengan satu slide dan di satu slide itu hanya sub-judulnya saja. Well, ketika gue membaca handoutnya, pastinya gue gak akan paham dengan maksudnya. Kalau memang dirasa bisa membuat lebih mengerti, akan lebih baik kan kalo slide menampilkan hal yang bisa memberi ilustrasi yang membuat kita lebih mengerti dengan slide yang lebih banyak.
Yasudahlah, mungkin buat mereka yang ngomong gak jelas dan menyampaikan presentasi ngalor ngidul, pelit slide, semoga kalian bisa lebih baik.
Dahulu kala sejak gue masih duduk di bangku SMP, sebuah pelajaran yang gue diambil bahwa penilaian presentasi di kelas ialah per individu. Setiap individu yang mempresentasikan sesuatu hal dinilai dari cara berdiri, suara, pakaian, bahasa, kejelasan penyampaian dan lain sebagainya per individu. Pernah sebuah kelompok pelajaran Geografi mempresentasikan sesuatu. Hanya ada satu orang yang berbicara dari awal sampai akhir, namun kemudian ditegur oleh guru gue karena yang lain tidak mendapat nilai. Apakah presentasi harus bergantian?
Saat ini gue sedang duduk di bangku kuliah, hampir setiap mata kuliah yang gue ambil pasti ada presentasi di dalamnya. Namun seringkali gue muak dengan presentasi. Seringkali ada individu-individu tidak bisa menyampaikan dengan jelas maksud dan tujuannya. Alhasil gue jadi ga ngerti, presenter sebenernya ngomong apa sih. Masalahnya ialah, kenapa presentasi harus bergantian? Kenapa tidak satu orang saja yang paling mengerti tentang bahan presentasi dan yang paling bisa menyampaikan dengan jelas yang menjadi juru bicara? Walaupun pasti ada jawaban politis yaitu untuk melatih individu bisa dan berani melakukan presentasi. Menurut gue tujuan utama presentasi yang paling utama ialah membuat orang lain mengerti.
Di dalam realita, sering gue mikir. Kalo nanti di dunia kerja? Apa iya presentasi bergantian? Kalau ada yang 'gak bisa ngomong' mungkin investor akan bosen dan cabut. Pastinya kalau presentasi nanti, juru bicara lah yang berbicara, ya gak sih?
Perwakilan perguruan tinggi yang terletak di kuningan, bahkan gue lupa namanya apa, pernah datang ke sekolah gue dan melakukan presentasi. Mereka terdiri dari beberapa mahasiswa dan satu orang lebih tua (mungkin dosen). Gue tertegun dengan cara Ibu itu berbicara, bahasa yang digunakan, dan bagaimana ia menegur temen gue yang lagi main hape (menguasai kelas). Apa yang dibicarakannya memiliki konstruksi deduktif. Berbicara dari awal kemudian mengerucut ke akhir. Dari kata akhirnya, kami bisa menyimpulkan maksud dan tujuannya. Untuk sebuah universitas yang gak punya nama tapi mungkin mahal karena mereka datang dengan pakaian yang rapi sehingga persepsi pertama kali ialah mereka orang yang elegan. Sebagai tambahan saja, entah kenapa, gue serius dengerin mereka dari awal sampai akhir.
Presentasi lazim menggunakan power point. Kata dosen gue, power of point, jadi yang hanya ditulis hanya point-point saja sisanya berbicara. Mungkin itu benar. Tapi power point adalah alat bantu untuk mengerti. Temen gue kemaren berbicara sangat panjang hanya dengan satu slide dan di satu slide itu hanya sub-judulnya saja. Well, ketika gue membaca handoutnya, pastinya gue gak akan paham dengan maksudnya. Kalau memang dirasa bisa membuat lebih mengerti, akan lebih baik kan kalo slide menampilkan hal yang bisa memberi ilustrasi yang membuat kita lebih mengerti dengan slide yang lebih banyak.
Yasudahlah, mungkin buat mereka yang ngomong gak jelas dan menyampaikan presentasi ngalor ngidul, pelit slide, semoga kalian bisa lebih baik.
Selasa, 14 Februari 2012
Kearifan Pak Theo
Semester 5.
Hari Jumat adalah hari dimana gue mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan membaca sampai mengerti materi kuliah sebelum kuliah dimulai.
Hari jumat selalu membuat jantung gue berdebar kencang.
Jam 2 merupakan jam yang kurang menyenangkan buat gue.
Jam 2 kelas Pengauditan 1 dimulai.
Sebuah kelas yang diajar oleh dosen senior yang sudah mengajar lebih dari 40 tahun.
Seorang professional auditor yang sudah pensiun dari CEO sebuah Big Four. Ketika ia datang, semua terdiam.
Ia ditemani oleh supirnya yang juga sudah tua. Supirnya berbadan bungkuk namun terlihat bersemangat menemani beliau. Setelah menaruh tas. Dosen gue membuka laptopnya.
Seperti biasa, ketika masuk kelas ia hanya memastikan, "Hari ini materi kuliahnya tentang ... ya?"
"Ada yang mau ditanyakan dari materi itu?" lanjutnya. "Kalau tidak ada saya pulang nih."
30 menit pun berlalu, dan tidak ada seorang pun yang berani mengajukan pertanyaan.
Kemudian ia membaca sebuah berita tentang pidato terakhir mengenai kematian yang diucapkan Steve Jobs (ketika itu, Steve Jobs baru saja meninggal).
Beliau membacakan pidato terakhir Steve Jobs di depan semua mahasiswa di kelas.
Pidato tersebut berisi tentang kehidupan kita dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita karena setelah kita meninggal, kita tidak membawa apapun.
Itu adalah satu pelajaran hidup yang diambil oleh beliau dari internet.
Andaikan dalam sehari saja kita mengambil satu pelajaran hidup. Sudah berapa banyak pelajaran yang kita miliki dalam menjalani hidup ini?
Pantaslah beliau menjadi orang yang arif karena beliau banyak mengambil pelajaran hidup untuk kemudian menjadi hikmah bagi kehidupannya. Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi orang yang arif seperti beliau?
Hari Jumat adalah hari dimana gue mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan membaca sampai mengerti materi kuliah sebelum kuliah dimulai.
Hari jumat selalu membuat jantung gue berdebar kencang.
Jam 2 merupakan jam yang kurang menyenangkan buat gue.
Jam 2 kelas Pengauditan 1 dimulai.
Sebuah kelas yang diajar oleh dosen senior yang sudah mengajar lebih dari 40 tahun.
Seorang professional auditor yang sudah pensiun dari CEO sebuah Big Four. Ketika ia datang, semua terdiam.
Ia ditemani oleh supirnya yang juga sudah tua. Supirnya berbadan bungkuk namun terlihat bersemangat menemani beliau. Setelah menaruh tas. Dosen gue membuka laptopnya.
Seperti biasa, ketika masuk kelas ia hanya memastikan, "Hari ini materi kuliahnya tentang ... ya?"
"Ada yang mau ditanyakan dari materi itu?" lanjutnya. "Kalau tidak ada saya pulang nih."
30 menit pun berlalu, dan tidak ada seorang pun yang berani mengajukan pertanyaan.
Kemudian ia membaca sebuah berita tentang pidato terakhir mengenai kematian yang diucapkan Steve Jobs (ketika itu, Steve Jobs baru saja meninggal).
Beliau membacakan pidato terakhir Steve Jobs di depan semua mahasiswa di kelas.
Pidato tersebut berisi tentang kehidupan kita dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita karena setelah kita meninggal, kita tidak membawa apapun.
Itu adalah satu pelajaran hidup yang diambil oleh beliau dari internet.
Andaikan dalam sehari saja kita mengambil satu pelajaran hidup. Sudah berapa banyak pelajaran yang kita miliki dalam menjalani hidup ini?
Pantaslah beliau menjadi orang yang arif karena beliau banyak mengambil pelajaran hidup untuk kemudian menjadi hikmah bagi kehidupannya. Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi orang yang arif seperti beliau?
Rabu, 11 Januari 2012
kiat ESEMKA - KITA SEHARUSNYA NARSIS
Beberapa hari ini pemberitaan ramai dengan mobil rakitan dalam negeri yang berasal dari wilayah dekat Surakarta alias Solo. Itulah mobil yang dibuat oleh teman-teman kita dari SMK yang bernama kiat Esemka. Bangga? pasti! Tapi bukan kebanggaan yang gue pengen. Gue pengen industri otomotif ini tetap eksis bahkan bisa mendunia.
Pemberitaan media massa pernah memuat berita dengan judul Djowi Jangan Narsis. Sekilas memang bikin miris. Gimana enggak, ini industri dalam negeri. Percaya gak percaya, industri ini bisa memberi pendapatan yang sangat besar bagi wilayahnya, menyerap ratusan ribu tenaga kerja jika perusahaan sudah besar, banyak pihak yang akan diuntungkan. Pada akhirnya, pendapatan yang masuk negara pun bisa meningkat. Jika dikelola dengan baik, maka kemakmuran masyarakat akan meningkat karena uang itu akan didstribusikan kembali ke masyarakat terutama ke kaum miskin.
Harapan gue, kita harus mendukung industri dalam negeri. Seperti yang pernah diserukan mantan presiden kita yang pernah ditakuti dunia, bung Karno. Berdikari - Berdiri Diatas Kaki Sendiri tidak tergantung pada negara lain. Minimal dengan membelinya bahkan bernarsis ria dengan mobil dalam negeri ini. bisa kan dibawa jalan-jalan keluar kota pamer ke daerah lain pamer mobil Esemka. Bahkan kalo bisa dibawa mejeng sampe ke luar negeri.
Harapan gue, semoga RI 1 juga memakainya. Kebangaan Presiden, kebanggaan rakyatnya. Yah pastinya mesti dikustomisasi sedikit, misalnya dilapis baja anti peluru, kaca anti peluru, ban anti tembak dan lain sebagainya kayak mobilnya Om Obama. Bahkan mobil yang milyaran yang dipake RI sekian, diganti aja sama mobil Esemka. Katanya mau majuin negeri. Buktiin dong dengan mobil Esemka dan memakainya jangan pake yg mahal itu. Kalo begitu kan berarti memang Anda ikut meningkatkan perekonomian negara bukan cuma nyanyi pas kampanye.
Semoga saja tidak ada pihak yang ingin menjatuhkan industri ini. Jangan sampai seperti ketika PT Dirgantara Indonesia sedang jaya, ada yang bilang, "kita gak butuh mainan pesawat-pesawatan yang kita butuhkan nasi supaya petani makmur." Hmmh kalo gue tahu siapa yang ngomong itu, pengen banget gue datengin dan gue teriakin persis 2cm di muke dia, "GOBLOK LU!". Sekali lagi, jika industri ini maju dan gue berandai-andai seperti Boeing saja. WOOWW AKAN BETAPA MAKMURNYA BUMI PERTIWI KITA INI. DAN GUE RASA PETANI PUN AKAN TERANGKAT KARENA DAYA BELI MASYARAKAT NAIK DAN MAMPU MEMBELI PADI DENGAN HARGA YANG LEBIH MAHAL. Lihat kan efeknya secara makro gede. Kalo kata dosen gue bukan gede lagi, GUEEEDEEE BUAANGEEET. Jadi buat orang-orang yang tak berisi otaknya. Jangan sampai ada statement aneh-aneh yang memundurkan industri yang mungkin akan jadi kebanggan negara kita ini. Terbukti dengan perkataan mainan pesawat-pesawatan kalian, kalian tidak mendukung industri negeri ini. Kalian tidak memihak rakyat. Tidak pantas kalian ada untuk mewakili kami. Banyak orang-orang pintar dan jenius kita pergi ke luar karena muak sama kalian.
Sekian. Gue harap beberapa dekade ke depan. Industri otomotif karya anak bangsa bahkan sudah ada di event internasional dengan membanggakan.
Pemberitaan media massa pernah memuat berita dengan judul Djowi Jangan Narsis. Sekilas memang bikin miris. Gimana enggak, ini industri dalam negeri. Percaya gak percaya, industri ini bisa memberi pendapatan yang sangat besar bagi wilayahnya, menyerap ratusan ribu tenaga kerja jika perusahaan sudah besar, banyak pihak yang akan diuntungkan. Pada akhirnya, pendapatan yang masuk negara pun bisa meningkat. Jika dikelola dengan baik, maka kemakmuran masyarakat akan meningkat karena uang itu akan didstribusikan kembali ke masyarakat terutama ke kaum miskin.
Harapan gue, kita harus mendukung industri dalam negeri. Seperti yang pernah diserukan mantan presiden kita yang pernah ditakuti dunia, bung Karno. Berdikari - Berdiri Diatas Kaki Sendiri tidak tergantung pada negara lain. Minimal dengan membelinya bahkan bernarsis ria dengan mobil dalam negeri ini. bisa kan dibawa jalan-jalan keluar kota pamer ke daerah lain pamer mobil Esemka. Bahkan kalo bisa dibawa mejeng sampe ke luar negeri.
Harapan gue, semoga RI 1 juga memakainya. Kebangaan Presiden, kebanggaan rakyatnya. Yah pastinya mesti dikustomisasi sedikit, misalnya dilapis baja anti peluru, kaca anti peluru, ban anti tembak dan lain sebagainya kayak mobilnya Om Obama. Bahkan mobil yang milyaran yang dipake RI sekian, diganti aja sama mobil Esemka. Katanya mau majuin negeri. Buktiin dong dengan mobil Esemka dan memakainya jangan pake yg mahal itu. Kalo begitu kan berarti memang Anda ikut meningkatkan perekonomian negara bukan cuma nyanyi pas kampanye.
Semoga saja tidak ada pihak yang ingin menjatuhkan industri ini. Jangan sampai seperti ketika PT Dirgantara Indonesia sedang jaya, ada yang bilang, "kita gak butuh mainan pesawat-pesawatan yang kita butuhkan nasi supaya petani makmur." Hmmh kalo gue tahu siapa yang ngomong itu, pengen banget gue datengin dan gue teriakin persis 2cm di muke dia, "GOBLOK LU!". Sekali lagi, jika industri ini maju dan gue berandai-andai seperti Boeing saja. WOOWW AKAN BETAPA MAKMURNYA BUMI PERTIWI KITA INI. DAN GUE RASA PETANI PUN AKAN TERANGKAT KARENA DAYA BELI MASYARAKAT NAIK DAN MAMPU MEMBELI PADI DENGAN HARGA YANG LEBIH MAHAL. Lihat kan efeknya secara makro gede. Kalo kata dosen gue bukan gede lagi, GUEEEDEEE BUAANGEEET. Jadi buat orang-orang yang tak berisi otaknya. Jangan sampai ada statement aneh-aneh yang memundurkan industri yang mungkin akan jadi kebanggan negara kita ini. Terbukti dengan perkataan mainan pesawat-pesawatan kalian, kalian tidak mendukung industri negeri ini. Kalian tidak memihak rakyat. Tidak pantas kalian ada untuk mewakili kami. Banyak orang-orang pintar dan jenius kita pergi ke luar karena muak sama kalian.
Sekian. Gue harap beberapa dekade ke depan. Industri otomotif karya anak bangsa bahkan sudah ada di event internasional dengan membanggakan.
Senin, 20 Juni 2011
Eh kejadian lagi
Jumat, 20 November 2010, Saya pernah menulis blog tentang TKW yang meninggal di luar negeri karena disiksa majikan.
hari sabtu yang lalu 18 Juni 2011, terdapat sebuah berita lagi bahwa TKW Indonesia meninggal dipancung di luar negeri karena membantuk majikan. (eh kejadian lagi).
Saya rasa pasti akan terjadi lagi kejadian yang sama selama pemerintah tidak melakukan perubahan, entah itu beberapa bulan lagi, entah itu beberapa tahun lagi di depan.
Masih belum tertampar juga ya? Apa kisah Manohara tidak menampar bagaimana saat dibutuhkan pemerintah malah tidak ada. Saat Manohara menelepon kedubes dan mengatakan bahwa ini emergency. Tapi apa yang didapat? Dengan seenak jidad operator mengatakan, maaf mbak kami sudah tutup, nanti silahkan telepon lagi. Untungnya dia memiliki kewarganegaraan US, kemudian dia menelpon kedubes itu dan beberapa menit kemudian petugas yang berwenang datang. Apa kita bisa melakukan pelayanan publik seperti itu, secepat itu?
lantas saya jadi mikir, kalau saya keluar negeri dan bekerja disana, apa saya perlu untuk berkewarga-negaraan di negara itu agar saya aman?
hari sabtu yang lalu 18 Juni 2011, terdapat sebuah berita lagi bahwa TKW Indonesia meninggal dipancung di luar negeri karena membantuk majikan. (eh kejadian lagi).
Saya rasa pasti akan terjadi lagi kejadian yang sama selama pemerintah tidak melakukan perubahan, entah itu beberapa bulan lagi, entah itu beberapa tahun lagi di depan.
Masih belum tertampar juga ya? Apa kisah Manohara tidak menampar bagaimana saat dibutuhkan pemerintah malah tidak ada. Saat Manohara menelepon kedubes dan mengatakan bahwa ini emergency. Tapi apa yang didapat? Dengan seenak jidad operator mengatakan, maaf mbak kami sudah tutup, nanti silahkan telepon lagi. Untungnya dia memiliki kewarganegaraan US, kemudian dia menelpon kedubes itu dan beberapa menit kemudian petugas yang berwenang datang. Apa kita bisa melakukan pelayanan publik seperti itu, secepat itu?
lantas saya jadi mikir, kalau saya keluar negeri dan bekerja disana, apa saya perlu untuk berkewarga-negaraan di negara itu agar saya aman?
prihatin mencontek massal
Bulan juni merupakan waktu yang sangat menegangkan bagi murid sekolah. Mereka yang duduk di tingkat akhir seperti kelas enam SD, kelas tiga SMP, kelas tiga SMA, merasakan bahwa di bulan inilah saat-saat paling berat dan menakutkan dalam hidup mereka. Iya; karena di bulan Juni diadakan Ujian Nasional yang menentukan nasib mereka. Enam tahun belajar di Sekolah Dasar atau tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama atau Sekolah Menengah Atas (SMA) ditentukan dalam beberapa hari.
Ujian Nasional memang menguji beberapa mata pelajaran tetapi juga menguji ketahanan siswa mental menghadapi tekanan yang berat.
Bulan Juni 2011, terjadi peristiwa yang memilukan untuk saya pribadi, mungkin juga memilukan bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa? Di sebuah Sekolah Dasar di Surabaya, seseorang orang tua murid mengadukan kepada walikota bahwa di sekolah anaknya terjadi kecurangan Ujian Nasional dimana anaknya disuruh memberitahukan jawaban ujian kepada semua temannya di kelas. Beberapa waktu kemudian, terdapat aduan lain di kota besar Indonesia lainnya bahwa terdapat aksi yang sama. Hebatnya di kota besar lainnya siswa-siswi disuruh menanda-tangani di atas kertas bahwa mereka akan merahasiakan peristiwa mencontek di kelas. Betapa sebuah kecurangan terorganisir.
Orang tua murid yang melaporkan kejadian tersebut justru dimusuhi oleh warga rumahnya. Apakah karena dianggap tidak kooperatif dan merasa terancam oleh aduan sang pelapor? Warga pun menghardik, mengusirnya dari tempat tinggalnya, mengancam akan membakar rumahnya. Ironis, seseorang yang menyuarakan kejujuran malah dimusuhi oleh banyak orang sehingga tidak berkutik. Inikah potret masyarakat kita? Bagaimana dengan kejadian lain? misalnya skandal yang pernah heboh di senayan?
Ujian Nasional merupakan suatu sistem pendidikan di Indonesia yang dibuat pemerintah. Kejadian kecurangan ujian seharusnya menyatakan bahwa bukan sistemnya yang salah melainkan lemahnya mental kita yang salah. Mental yang tidak kuat akan mencari-cari kelemahan dan menyiasati agar lolos dari sistem bukannya bekerja keras agar melewati sistem dengan benar. Ditambah lagi dukungan dari pihak dalam semakin memperkeruh sistem karena adanya insentif bagi sekolah-sekolah jika mendapatkan hasil Ujian Nasional yang bagus. Kerja keras pun sering dibuai oleh mudahnya melakukan kongkalikong. Mental yang lemah akan menarik-narik mereka agar melakukan kongkalikong.
Yang membuat saya sangat prihatin ialah generasi muda bangsa. Yang seharusnya diajarkan untuk jujur, bermental kuat, dan tangguh ternyata justru orang tua mereka sendiri yang mengajarkan untuk tidak jujur. Wajar saja jika keadaan kita saat ini carut marut. Lantas bagaimana dengan kondisi di masa depan?
Tentu saja perlu tindakan kongkret untuk merubahnya, jika tidak maka keinginan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, jujur, tangguh hanyalah mimpi.
Ujian Nasional memang menguji beberapa mata pelajaran tetapi juga menguji ketahanan siswa mental menghadapi tekanan yang berat.
Bulan Juni 2011, terjadi peristiwa yang memilukan untuk saya pribadi, mungkin juga memilukan bagi seluruh rakyat Indonesia. Mengapa? Di sebuah Sekolah Dasar di Surabaya, seseorang orang tua murid mengadukan kepada walikota bahwa di sekolah anaknya terjadi kecurangan Ujian Nasional dimana anaknya disuruh memberitahukan jawaban ujian kepada semua temannya di kelas. Beberapa waktu kemudian, terdapat aduan lain di kota besar Indonesia lainnya bahwa terdapat aksi yang sama. Hebatnya di kota besar lainnya siswa-siswi disuruh menanda-tangani di atas kertas bahwa mereka akan merahasiakan peristiwa mencontek di kelas. Betapa sebuah kecurangan terorganisir.
Orang tua murid yang melaporkan kejadian tersebut justru dimusuhi oleh warga rumahnya. Apakah karena dianggap tidak kooperatif dan merasa terancam oleh aduan sang pelapor? Warga pun menghardik, mengusirnya dari tempat tinggalnya, mengancam akan membakar rumahnya. Ironis, seseorang yang menyuarakan kejujuran malah dimusuhi oleh banyak orang sehingga tidak berkutik. Inikah potret masyarakat kita? Bagaimana dengan kejadian lain? misalnya skandal yang pernah heboh di senayan?
Ujian Nasional merupakan suatu sistem pendidikan di Indonesia yang dibuat pemerintah. Kejadian kecurangan ujian seharusnya menyatakan bahwa bukan sistemnya yang salah melainkan lemahnya mental kita yang salah. Mental yang tidak kuat akan mencari-cari kelemahan dan menyiasati agar lolos dari sistem bukannya bekerja keras agar melewati sistem dengan benar. Ditambah lagi dukungan dari pihak dalam semakin memperkeruh sistem karena adanya insentif bagi sekolah-sekolah jika mendapatkan hasil Ujian Nasional yang bagus. Kerja keras pun sering dibuai oleh mudahnya melakukan kongkalikong. Mental yang lemah akan menarik-narik mereka agar melakukan kongkalikong.
Yang membuat saya sangat prihatin ialah generasi muda bangsa. Yang seharusnya diajarkan untuk jujur, bermental kuat, dan tangguh ternyata justru orang tua mereka sendiri yang mengajarkan untuk tidak jujur. Wajar saja jika keadaan kita saat ini carut marut. Lantas bagaimana dengan kondisi di masa depan?
Tentu saja perlu tindakan kongkret untuk merubahnya, jika tidak maka keinginan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, jujur, tangguh hanyalah mimpi.
Jumat, 19 November 2010
TKW oh TKW
Yak, untuk ke-puluhan atau mungkin ratusan kalinya ada kabar bahwa TKI tewas di luar negeri. Banyak alasan mengapa mereka tewas dan salah satu yang paling umum adalah disiksa majikan.
PINTAR SEKALI MEDIA MASA, mereka mencari alasan-alasan lain seperti kurang keterampilan dan lainnya lah.
dan melupakan alasan utama dan paling penting.
KARENA TKW HANYALAH PEMBANTU !
lupa ya, bahwa di negara islam, yang namanya pembantu itu sama saja dengan budak (kata dosen saya), mau disiksa kek, diapain kek, sah-sah aja. Namanya juga budak.
STOP PENGIRIMAN PEMBANTU KE LUAR NEGERI
KIRIM ORANG-ORANG TEREDUKASI DAN TERLATIH
PINTAR SEKALI MEDIA MASA, mereka mencari alasan-alasan lain seperti kurang keterampilan dan lainnya lah.
dan melupakan alasan utama dan paling penting.
KARENA TKW HANYALAH PEMBANTU !
lupa ya, bahwa di negara islam, yang namanya pembantu itu sama saja dengan budak (kata dosen saya), mau disiksa kek, diapain kek, sah-sah aja. Namanya juga budak.
STOP PENGIRIMAN PEMBANTU KE LUAR NEGERI
KIRIM ORANG-ORANG TEREDUKASI DAN TERLATIH
Sabtu, 16 Oktober 2010
salah mengeluarkan kata = kerugian besar
Ini adalah sebuah cerita fakta yang saya alami. Seperti waktu-waktu sebelum UTS atau UAS, pasti tempat fotokopian penuh diserbu orang-orang yang mau fotokopi catatan atau bahkan bukunya. Saya tidak punya buku teks berbahasa Indonesia dan buku yang saya pegang sekarang berbahasa Inggris, hufh agak sulit untuk mengerti apalagi pelajaran hafalan, akhirnya saya memfotokopi buku berbahasa Indonesia.
Saya pergi ke perpustakaan lantai bawah di kampus, dimana ada tempat fotokopian yang biasanya sepi dan kualitasnya cukup dibandingkan fotokopian di lobby yang suka salah halamannya, bahkan kadang sudah tebal tapi yang difotokopi lain.
Sudah ada 3 atau 4 orang menunggu. Karena saya baru datang, saya juga menunggu sebentar. Biasanya mas-mas di fotokopian kalo fotokopi banyak minta ditulis di secarik kertas biar inget bagian-bagian mana yang harus difotokopi. Saya pun ingat akan hal itu dan akhirnya menulis "Bab 1--8".
Mas-mas fotokopian ada dua. Yang satu hendak keluar entah kemana, seketika itu saya mengatakan, "mas fotokopi dong, bab 1 - 8."
Tapi mas-mas yang satu ini malah bilang sambil keluar dengan memegang kepala dan rambutnya, "wah gabisa mas, lagi penuh."
Yang bikin saya kesel bukan karena jawabannya yang tidak memuaskan, tetapi sikapnya yang berbicara santai keluar dan seolah-olah menganggap saya tidak penting.
Hmmh satu evaluasi dari mas ini, jangan buat konsumen kecewa. Buat semua konsumen seakan-akan mereka adalah konsumen yang penting. Satu pun konsumen adalah 'uang' atau pemasukan bagi usaha kecil itu. Sayang sekali dia tidak memiliki sikap ramah. Bagaimanapun juga, satu pun konsumen harus dilayani dengan baik karena akan mempengaruhi hubungan jangka panjang usaha itu dan konsumen. Sekali dikecewakan, mungkin konsumen tidak akan kembali lagi sampai kapan pun juga ke tempat itu. Seperti pengalaman saya pada fotokopian di lobby yang suka salah halaman dan bahkan banyak kesalahannya yang membuat saya enggan untuk kembali. Jika konsumen dilayani dengan baik dengan tutur kata yang ramah dan sikap yang ramah, keesokannya konsumen akan kembali lagi dan lagi.
Agak kesal dengan sikap dan cara mas-mas yang pertama berbicara dan cara menguasai konsumen yang kurang baik. Akhirnya saya menunggu sebentar dan berharap jawaban berbeda akan diberi mas-mas kedua.
Mas-mas kedua mendekat karena job order salah satu konsumen sudah selesai. Saya mengatakan lagi, "mas fotokopi dong bab 1 sampai 8". Jawaban mas kedua walaupun mengecewakan juga, tetapi sedikit memberi harapan. "Wah gabisa hari ini mas, ini pada penuh fotokopi semua." Saya juga masih lama membutuhkannya dan akhirnya saya bilang, "kalau besok bisa selesai mas?" Mas-mas kedua pun mengangguk dan menjawab, "bisa."
Fiuuuh, selesai juga.
Memang sebagai seorang akademisi saya bisa toleran dengan kedua mas-mas itu. Mereka hanyalah tenaga terlatih, cuma terlatih untuk mengerjakan order. Tapi mereka melupakan hal yang penting, yaitu konsumen. Konsumen harus dilayani dengan baik pada saat menerima order dan memberi hasil. Karena jika konsumen senang, mereka akan kembali 'dengan membawa uang untuk usaha kecil itu'.
Menerima order :
Inget kesan pertama akan menentukan kelanjutannya. Dalam kasus di atas, apabila frontliner bersikap jutek. Coba pikir bagaimana perasaan pelanggan, kejadian yang ekstrem adalah pelanggan langsung pergi karena tidak puas akan pelayanannya. Pelanggan akan enggan untuk melakukan pembelian ulang akan produk yang dijual di tempat itu.
Yang harus dilakukan adalah membuat pelanggan nyaman, menguasai emosi mereka walaupun hasilnya kurang baik. Misal dalam kasus di atas, bagaimana jika si mas-mas bilang ke pelanggan dengan tersenyum dan bertutur halus dan berkata, "mas, ini fotokopian kami lagi penuh, kalau mas tetep mau fotokopi ini, paling besok baru selesai, gimana mas?" Kalau pelanggan memang butuh secepatnya, mereka akan pergi dan mencari tempat fotokopi lain, tapi dengan keramahan yang telah diberikan mas-mas tadi, kemungkinan mereka untuk kembali pasti tetap ada dan tetap besar. Bandingkan dengan kasus diatas! Sang pelanggan malah jadi enggan untuk kembali.
Contoh lain adalah pada sebuah toko. Seorang pelanggan datang ingin membeli produk X. Kebetulan toko itu tidak menjual barang X. Ada dua pilihan yang bisa dikatakan:
pertama : wah kami gak jual.
jawaban ini akan membuat pelanggan tidak akan kembali lagi karena tahu toko itu tidak menjual barang X.
kedua : wah lagi kosong mas.
strategi ini baik karena memberi harapan kalau toko itu menjual barang walaupun pada kenyataanya tidak. Toko bisa membeli barang X dan kemudian menjualnya. Suatu hari konsumen tadi akan kembali lagi dan menanyakan barang X, dengan hasil yang berbeda karena sekarang barang X tersedia.
Hal penting kedua adalah hasil.
Seorang konsumen akan puas jika hasilnya pun juga baik. Fotokopian yang cepat, tulisannya kelihatan jelas dan tidak buram akan memberi manfaat lebih ke konsumen. Apabila hasil baik, dipastikan konsumen akan kembali membeli produk tersebut.
Itu adalah sedikit gambaran bagaimana salah mengeluarkan kata bisa menyinggung hati konsumen. Semoga bermanfaat untuk produsen.
Saya pergi ke perpustakaan lantai bawah di kampus, dimana ada tempat fotokopian yang biasanya sepi dan kualitasnya cukup dibandingkan fotokopian di lobby yang suka salah halamannya, bahkan kadang sudah tebal tapi yang difotokopi lain.
Sudah ada 3 atau 4 orang menunggu. Karena saya baru datang, saya juga menunggu sebentar. Biasanya mas-mas di fotokopian kalo fotokopi banyak minta ditulis di secarik kertas biar inget bagian-bagian mana yang harus difotokopi. Saya pun ingat akan hal itu dan akhirnya menulis "Bab 1--8".
Mas-mas fotokopian ada dua. Yang satu hendak keluar entah kemana, seketika itu saya mengatakan, "mas fotokopi dong, bab 1 - 8."
Tapi mas-mas yang satu ini malah bilang sambil keluar dengan memegang kepala dan rambutnya, "wah gabisa mas, lagi penuh."
Yang bikin saya kesel bukan karena jawabannya yang tidak memuaskan, tetapi sikapnya yang berbicara santai keluar dan seolah-olah menganggap saya tidak penting.
Hmmh satu evaluasi dari mas ini, jangan buat konsumen kecewa. Buat semua konsumen seakan-akan mereka adalah konsumen yang penting. Satu pun konsumen adalah 'uang' atau pemasukan bagi usaha kecil itu. Sayang sekali dia tidak memiliki sikap ramah. Bagaimanapun juga, satu pun konsumen harus dilayani dengan baik karena akan mempengaruhi hubungan jangka panjang usaha itu dan konsumen. Sekali dikecewakan, mungkin konsumen tidak akan kembali lagi sampai kapan pun juga ke tempat itu. Seperti pengalaman saya pada fotokopian di lobby yang suka salah halaman dan bahkan banyak kesalahannya yang membuat saya enggan untuk kembali. Jika konsumen dilayani dengan baik dengan tutur kata yang ramah dan sikap yang ramah, keesokannya konsumen akan kembali lagi dan lagi.
Agak kesal dengan sikap dan cara mas-mas yang pertama berbicara dan cara menguasai konsumen yang kurang baik. Akhirnya saya menunggu sebentar dan berharap jawaban berbeda akan diberi mas-mas kedua.
Mas-mas kedua mendekat karena job order salah satu konsumen sudah selesai. Saya mengatakan lagi, "mas fotokopi dong bab 1 sampai 8". Jawaban mas kedua walaupun mengecewakan juga, tetapi sedikit memberi harapan. "Wah gabisa hari ini mas, ini pada penuh fotokopi semua." Saya juga masih lama membutuhkannya dan akhirnya saya bilang, "kalau besok bisa selesai mas?" Mas-mas kedua pun mengangguk dan menjawab, "bisa."
Fiuuuh, selesai juga.
Memang sebagai seorang akademisi saya bisa toleran dengan kedua mas-mas itu. Mereka hanyalah tenaga terlatih, cuma terlatih untuk mengerjakan order. Tapi mereka melupakan hal yang penting, yaitu konsumen. Konsumen harus dilayani dengan baik pada saat menerima order dan memberi hasil. Karena jika konsumen senang, mereka akan kembali 'dengan membawa uang untuk usaha kecil itu'.
Menerima order :
Inget kesan pertama akan menentukan kelanjutannya. Dalam kasus di atas, apabila frontliner bersikap jutek. Coba pikir bagaimana perasaan pelanggan, kejadian yang ekstrem adalah pelanggan langsung pergi karena tidak puas akan pelayanannya. Pelanggan akan enggan untuk melakukan pembelian ulang akan produk yang dijual di tempat itu.
Yang harus dilakukan adalah membuat pelanggan nyaman, menguasai emosi mereka walaupun hasilnya kurang baik. Misal dalam kasus di atas, bagaimana jika si mas-mas bilang ke pelanggan dengan tersenyum dan bertutur halus dan berkata, "mas, ini fotokopian kami lagi penuh, kalau mas tetep mau fotokopi ini, paling besok baru selesai, gimana mas?" Kalau pelanggan memang butuh secepatnya, mereka akan pergi dan mencari tempat fotokopi lain, tapi dengan keramahan yang telah diberikan mas-mas tadi, kemungkinan mereka untuk kembali pasti tetap ada dan tetap besar. Bandingkan dengan kasus diatas! Sang pelanggan malah jadi enggan untuk kembali.
Contoh lain adalah pada sebuah toko. Seorang pelanggan datang ingin membeli produk X. Kebetulan toko itu tidak menjual barang X. Ada dua pilihan yang bisa dikatakan:
pertama : wah kami gak jual.
jawaban ini akan membuat pelanggan tidak akan kembali lagi karena tahu toko itu tidak menjual barang X.
kedua : wah lagi kosong mas.
strategi ini baik karena memberi harapan kalau toko itu menjual barang walaupun pada kenyataanya tidak. Toko bisa membeli barang X dan kemudian menjualnya. Suatu hari konsumen tadi akan kembali lagi dan menanyakan barang X, dengan hasil yang berbeda karena sekarang barang X tersedia.
Hal penting kedua adalah hasil.
Seorang konsumen akan puas jika hasilnya pun juga baik. Fotokopian yang cepat, tulisannya kelihatan jelas dan tidak buram akan memberi manfaat lebih ke konsumen. Apabila hasil baik, dipastikan konsumen akan kembali membeli produk tersebut.
Itu adalah sedikit gambaran bagaimana salah mengeluarkan kata bisa menyinggung hati konsumen. Semoga bermanfaat untuk produsen.
Selasa, 07 September 2010
you must have identity
29 Agustus 2010
Ada seminar dari pak Adiwarman Karim, seorang ahli syariah. Ceritanya kocak abis, dia cerita IP 2.5. Pernah jadi DJ. Kuliah di dua tempat. Di luar negeri juga kuliah di dua tempat.
Ada sebuah cerita yang pengen gue share
Dia kerja di Amerika dulunya, kemudian Indonesia buat bank Muamalat. Sepertinya pionir bank syariah di Indonesia. Kemudian beliau cerita, karena kuliah di Amerika dan bekerja disana, dia langsung diterima.
Kemudian pak bos bilang, "kamu diterima asal jenggot kamu dipotong yak"
Dengan tegas pak Adi bilang, "Oh sorry, kalo ini tidak bisa. Lebih baik saya tidak jadi kerja disini kalo ini dipotong."
Pak bos bilang, "Okey okey fine, dipendekin aja yah."
Kemudian beliau berkata, kamu itu.. jadi orang harus punya style. just be yourself. kamu harus punya sesuatu yang bisa diidentikkan dengan kamu.
seperti pak Adiwarman yang punya jenggot tebel dan panjang, kalian juga harus punya sesuatu yang mencirikan kalian. Misalnya yang nulis punya jambang.
Ada seminar dari pak Adiwarman Karim, seorang ahli syariah. Ceritanya kocak abis, dia cerita IP 2.5. Pernah jadi DJ. Kuliah di dua tempat. Di luar negeri juga kuliah di dua tempat.
Ada sebuah cerita yang pengen gue share
Dia kerja di Amerika dulunya, kemudian Indonesia buat bank Muamalat. Sepertinya pionir bank syariah di Indonesia. Kemudian beliau cerita, karena kuliah di Amerika dan bekerja disana, dia langsung diterima.
Kemudian pak bos bilang, "kamu diterima asal jenggot kamu dipotong yak"
Dengan tegas pak Adi bilang, "Oh sorry, kalo ini tidak bisa. Lebih baik saya tidak jadi kerja disini kalo ini dipotong."
Pak bos bilang, "Okey okey fine, dipendekin aja yah."
Kemudian beliau berkata, kamu itu.. jadi orang harus punya style. just be yourself. kamu harus punya sesuatu yang bisa diidentikkan dengan kamu.
seperti pak Adiwarman yang punya jenggot tebel dan panjang, kalian juga harus punya sesuatu yang mencirikan kalian. Misalnya yang nulis punya jambang.
mana rasa syukurmu
jejaring sosial, entah facebook, twitter, dan lainnya
sering gue liat status:
"arrrgh males kuliah"
"yah besok udah kuliah, males"
"males masuk pagi"
"yah hari ini masuk sampe sore"
"bete di kelas"
"cabut kuliah"
"stress kuliah"
tiba-tiba pas mereka ujian:
"mampus, UTS gue gak ngerti apa-apa"
"ini pelajaran susah banget"
KENAPA??
KENAPA??
KENAPA??
mental akademisi kayak gini kebanyakan.
Inikah calon pemimpin bangsa negeri ini di masa depan?
Dimana rasa syukur mereka
Rasa syukur bisa mengenyam pendidikan tinggi
Rasa syukur, setidaknya mereka kerja dengan gaji yang cukup untuk hidup nantinya
Pernahkah mereka melihat orang dibawah
Yang bahkan untuk masuk SMA aja was-was karena takut biaya mahal
Yang bahkan sudah diterima di sekolah terbaik tapi mesti resign karena tidak memiliki biaya
kawan..
tetap semangat
jangan bermental lemah seperti mereka!
bersyukurlah dengan giat belajar, tekun, tanpa kenal lelah
dan jangan lupa bersyukur kepada Yang Maha Kuasa
sering gue liat status:
"arrrgh males kuliah"
"yah besok udah kuliah, males"
"males masuk pagi"
"yah hari ini masuk sampe sore"
"bete di kelas"
"cabut kuliah"
"stress kuliah"
tiba-tiba pas mereka ujian:
"mampus, UTS gue gak ngerti apa-apa"
"ini pelajaran susah banget"
KENAPA??
KENAPA??
KENAPA??
mental akademisi kayak gini kebanyakan.
Inikah calon pemimpin bangsa negeri ini di masa depan?
Dimana rasa syukur mereka
Rasa syukur bisa mengenyam pendidikan tinggi
Rasa syukur, setidaknya mereka kerja dengan gaji yang cukup untuk hidup nantinya
Pernahkah mereka melihat orang dibawah
Yang bahkan untuk masuk SMA aja was-was karena takut biaya mahal
Yang bahkan sudah diterima di sekolah terbaik tapi mesti resign karena tidak memiliki biaya
kawan..
tetap semangat
jangan bermental lemah seperti mereka!
bersyukurlah dengan giat belajar, tekun, tanpa kenal lelah
dan jangan lupa bersyukur kepada Yang Maha Kuasa
Jumat, 03 September 2010
#rofiinmemoriam
masih inget lo panik karena lo masuk lewat snmptn dan tiba-tiba tugas bejibun
masih inget kita ngerjain name tag & goody bag bareng-bareng di asrama UI
masih inget kita makan bareng di asrama
masih inget banget lo bikin cerita cakar manohara dengan tengilnya
masih inget kita ketawa ketiwi sekelompok mentor 9, opportunity cost, karena lo
masih inget waktu OPK lo telat dan lo sms gue, lo takut sekelompok kena gara-gara lo telat
masih inget lo dipanggil komdis dan kena scl (special case lanjutan)dan waktu itu gue dimarahin komdis karena ngeliatin elo dipanggil komdis
masih inget awal-awal masuk, dengan bodohnya kita nyasar berdua di depan gedung b, kampus kita sendiri
masih inget foto lo push-up kena SCL dipajang di batang gedung A, muka lo penuh keringet
masih inget kita berdua pergi ke kantek, kansas berdua aja. udah kayak maho pacaran :p.
masih inget di kantek lo makan makanan aneh, tapi enak dan gue makan sate
masih inget di kansas gue makan sate. lo nanya "lo pencinta sate ya ki"
masih inget lo masuk kelas matek 15 menit sebelum kelas selesai, lo keujanan dan kedinginan. badan lo basah masuk ke kelas. lo sms gue nanya, "masuk apa enggak ya telat gini"
masih inget spot dimana gue sering ketemu sama lo, adalah musola FE (MUFE), entah lo belajar apa ngerjain tugas disitu.
masih inget lo bela-belain dateng penutupan OPK dari rumah karena gue minta lo dateng
masih inget lo nanya gue pelajaran, "ki ajarin gue dong. gue gak ngerti ini"
masih inget kita belajar bareng di perpus
masih inget setiap ketemu lo, lo selalu bilang, "ki ikut MB yuk, nemenin pipit"
kalo gue jemput pacar seabis latian MB, cuma dua orang yang gue cari. Pacar dan lo
masih inget kita malem-malem pulang bareng naik motor sampe lenteng agung
masih inget malem-malem kita ngerjain kuis matek
masih inget lo ngajarin gue main terumpet di bawah jembatan teksas
masih inget lo kelaperan dan gue ngasi kue ke lo.
masih inget lo bilang, "lo emang sahabat gue ki"
masih inget lo sama pipit ngerjain gue pas ulang tahun gue berkomplot sama bang Hendy. Awas ya ntar gue bales hehehe
masih inget suara lo dan suara ketawa lo
masih inget hari pertama semester 3, lo sms gue "gimana kuliah pertama"
masih inget sms terakhir lo ke gue, gue ngajakin lo les AB bareng fuji dan lo bilang, "Asiik gue diajak :-D". Terus lo minta nego harganya
masih inget beling-beling dan logo Yamaha di jalan, dan ternyata itu lo :'(
nama lo, Ahmad Rofi, akan selalu ada di hati gue.
masih inget kita ngerjain name tag & goody bag bareng-bareng di asrama UI
masih inget kita makan bareng di asrama
masih inget banget lo bikin cerita cakar manohara dengan tengilnya
masih inget kita ketawa ketiwi sekelompok mentor 9, opportunity cost, karena lo
masih inget waktu OPK lo telat dan lo sms gue, lo takut sekelompok kena gara-gara lo telat
masih inget lo dipanggil komdis dan kena scl (special case lanjutan)dan waktu itu gue dimarahin komdis karena ngeliatin elo dipanggil komdis
masih inget awal-awal masuk, dengan bodohnya kita nyasar berdua di depan gedung b, kampus kita sendiri
masih inget foto lo push-up kena SCL dipajang di batang gedung A, muka lo penuh keringet
masih inget kita berdua pergi ke kantek, kansas berdua aja. udah kayak maho pacaran :p.
masih inget di kantek lo makan makanan aneh, tapi enak dan gue makan sate
masih inget di kansas gue makan sate. lo nanya "lo pencinta sate ya ki"
masih inget lo masuk kelas matek 15 menit sebelum kelas selesai, lo keujanan dan kedinginan. badan lo basah masuk ke kelas. lo sms gue nanya, "masuk apa enggak ya telat gini"
masih inget spot dimana gue sering ketemu sama lo, adalah musola FE (MUFE), entah lo belajar apa ngerjain tugas disitu.
masih inget lo bela-belain dateng penutupan OPK dari rumah karena gue minta lo dateng
masih inget lo nanya gue pelajaran, "ki ajarin gue dong. gue gak ngerti ini"
masih inget kita belajar bareng di perpus
masih inget setiap ketemu lo, lo selalu bilang, "ki ikut MB yuk, nemenin pipit"
kalo gue jemput pacar seabis latian MB, cuma dua orang yang gue cari. Pacar dan lo
masih inget kita malem-malem pulang bareng naik motor sampe lenteng agung
masih inget malem-malem kita ngerjain kuis matek
masih inget lo ngajarin gue main terumpet di bawah jembatan teksas
masih inget lo kelaperan dan gue ngasi kue ke lo.
masih inget lo bilang, "lo emang sahabat gue ki"
masih inget lo sama pipit ngerjain gue pas ulang tahun gue berkomplot sama bang Hendy. Awas ya ntar gue bales hehehe
masih inget suara lo dan suara ketawa lo
masih inget hari pertama semester 3, lo sms gue "gimana kuliah pertama"
masih inget sms terakhir lo ke gue, gue ngajakin lo les AB bareng fuji dan lo bilang, "Asiik gue diajak :-D". Terus lo minta nego harganya
masih inget beling-beling dan logo Yamaha di jalan, dan ternyata itu lo :'(
nama lo, Ahmad Rofi, akan selalu ada di hati gue.
bad thursday
hari kamis, 2-9-2010
Gue ada kelas asistensi AB (akuntansi biaya). Semuanya terasa biasa aja. Gue berangkat agak siangan karena kelas gue dimulai jam 9. Jam 8 gue berangkat..
di perjalanan mendekati kampus di Depok seperti biasa sebelum stasiun pancasila gue selalu ambil jalan ke kanan yang agak sepi dimana belok kiri ngelewatin SMA 38.
di jalan persis dimana jalan terbagi dua tiba-tiba ada kemacetan, 5 menit kemudian keadaan menjadi normal dan kendaraan berjalan seperti biasa.
pas deket stasiun pancasila, gue ngeliat banyak orang berdiri di trotoar jalan. disitu semet macet lagi beberapa saat. padahal gue ngeliat jalan di depan kosong melompong. Dalem hati gue, "ada apa ini? kecelakaan ya?"
beberapa saat kemudian, kendaraan jalan lagi. Gak beberapa lama kemudian gue melihat beberapa pecahan dan beling di jalan. "wah beneran ini ada kecelakaan" dalem hati gue. Terus gue liat merah-merah cairan di jalan dan terakhir gue ngeliat sebuah logo motor Yamaha di jalan.
Gue agak lega sedikit, untung bukan Suzuki (motor cewe gue). Tapi setelah ngelewatin jalan itu entah kenapa jantung ini masih dredegan.
Sampe di kampus, gue masuk kelas. Gak lama belajar gue dapet sms dari pacar kalo temen gue, temen seperjuangan gue di ospek, temen sekelas semester 1 semua kelas kecuali satu, kecelakaan dalam perjalanan ke kampus.
dalem hati, "jangan-jangan tadi di deket stasiun pancasila tadi itu dia", "mudah-mudahan bukan."
jam 11, selesai kelas gue mampir ke batang, stand IMD. Gak lama kemudian pacar nelpon, perasaan gue udah gak enak. Dan seketika itu juga dia bilang bahwa temen gue, Ahmad Rofi telah berpulang ke rahmatullah sehari sebelum hari ulang tahunnya.
Ya allah, 2 hari telah berlalu. Dan ketika melewati jalan itu, gue masih meneteskan air mata. Ya allah aku mohon jadikanlah beliau dalam keadaan syahid.
Gue ada kelas asistensi AB (akuntansi biaya). Semuanya terasa biasa aja. Gue berangkat agak siangan karena kelas gue dimulai jam 9. Jam 8 gue berangkat..
di perjalanan mendekati kampus di Depok seperti biasa sebelum stasiun pancasila gue selalu ambil jalan ke kanan yang agak sepi dimana belok kiri ngelewatin SMA 38.
di jalan persis dimana jalan terbagi dua tiba-tiba ada kemacetan, 5 menit kemudian keadaan menjadi normal dan kendaraan berjalan seperti biasa.
pas deket stasiun pancasila, gue ngeliat banyak orang berdiri di trotoar jalan. disitu semet macet lagi beberapa saat. padahal gue ngeliat jalan di depan kosong melompong. Dalem hati gue, "ada apa ini? kecelakaan ya?"
beberapa saat kemudian, kendaraan jalan lagi. Gak beberapa lama kemudian gue melihat beberapa pecahan dan beling di jalan. "wah beneran ini ada kecelakaan" dalem hati gue. Terus gue liat merah-merah cairan di jalan dan terakhir gue ngeliat sebuah logo motor Yamaha di jalan.
Gue agak lega sedikit, untung bukan Suzuki (motor cewe gue). Tapi setelah ngelewatin jalan itu entah kenapa jantung ini masih dredegan.
Sampe di kampus, gue masuk kelas. Gak lama belajar gue dapet sms dari pacar kalo temen gue, temen seperjuangan gue di ospek, temen sekelas semester 1 semua kelas kecuali satu, kecelakaan dalam perjalanan ke kampus.
dalem hati, "jangan-jangan tadi di deket stasiun pancasila tadi itu dia", "mudah-mudahan bukan."
jam 11, selesai kelas gue mampir ke batang, stand IMD. Gak lama kemudian pacar nelpon, perasaan gue udah gak enak. Dan seketika itu juga dia bilang bahwa temen gue, Ahmad Rofi telah berpulang ke rahmatullah sehari sebelum hari ulang tahunnya.
Ya allah, 2 hari telah berlalu. Dan ketika melewati jalan itu, gue masih meneteskan air mata. Ya allah aku mohon jadikanlah beliau dalam keadaan syahid.
Selasa, 10 Agustus 2010
Masih adakah orang tua se-Nasionalis ini
Masih inget dalem ingatan gue sampe sekarang waktu awal masuk SMA dan waktu itu gue kelas satu. Sekolah biasanya masih belum belajar dan guru-guru masih perkenalan sambil cerita-cerita tentang dirinya atau sekolah.
Suatu hari guru fisika gue yang bergelar M.Sc., seorang dosen di universitas dan umurnya emang udah veteran bercerita
awal-awal cerita tentang sekolah, lingkungan, fisika, dan kemudian
Guru : "Nak, dulu ayah saya seorang pejuang. Waktu detik-detik menjelang beliau wafat. Beliau berpesan kepada saya"
Ayah : "Anakku, Ayah titip negara ini padamu. Tolong kamu jaga dan kamu rawat baik-baik. Ayah dan banyak orang lainnya yang tak terhitung jumlahnya susah payah merebut negara ini sehingga bisa merdeka. Tolong kamu bangun sehingga bisa menjadi bangsa yang besar."
Masih adakah orang tua se-Nasionalis seperti beliau, disaat seperti sekarang yang justru terjadi brain drain. Orang pintar banyak yang bukannya membangun negara sendiri, walaupun mungkin mereka ingin membangun Indonesia, malah pergi ke luar negeri dan justru membangun negara lain dengan imbalan dan apresiasi.
Disaat carut marut pemerintahan dan politik yang selalu membuat rakyat kesal, banyak orang munafik yang katanya ingin membangun ternyata malah gak ngapa-ngapain. Disaat aturan dan hukum kebanyakan cuma jadi pajangan, tidak ada yang mentaati dan tidak ada yang menegakkan.
Apa yang akan beliau-beliau katakan jika mengetahui pewaris dari negara yang sudah mereka perjuangkan mati-matian.
Yang gue pikir, kalau mereka bangkit dari kubur, mereka akan bilang, "Saya kecewa nak"
Suatu hari guru fisika gue yang bergelar M.Sc., seorang dosen di universitas dan umurnya emang udah veteran bercerita
awal-awal cerita tentang sekolah, lingkungan, fisika, dan kemudian
Guru : "Nak, dulu ayah saya seorang pejuang. Waktu detik-detik menjelang beliau wafat. Beliau berpesan kepada saya"
Ayah : "Anakku, Ayah titip negara ini padamu. Tolong kamu jaga dan kamu rawat baik-baik. Ayah dan banyak orang lainnya yang tak terhitung jumlahnya susah payah merebut negara ini sehingga bisa merdeka. Tolong kamu bangun sehingga bisa menjadi bangsa yang besar."
Masih adakah orang tua se-Nasionalis seperti beliau, disaat seperti sekarang yang justru terjadi brain drain. Orang pintar banyak yang bukannya membangun negara sendiri, walaupun mungkin mereka ingin membangun Indonesia, malah pergi ke luar negeri dan justru membangun negara lain dengan imbalan dan apresiasi.
Disaat carut marut pemerintahan dan politik yang selalu membuat rakyat kesal, banyak orang munafik yang katanya ingin membangun ternyata malah gak ngapa-ngapain. Disaat aturan dan hukum kebanyakan cuma jadi pajangan, tidak ada yang mentaati dan tidak ada yang menegakkan.
Apa yang akan beliau-beliau katakan jika mengetahui pewaris dari negara yang sudah mereka perjuangkan mati-matian.
Yang gue pikir, kalau mereka bangkit dari kubur, mereka akan bilang, "Saya kecewa nak"
Jumat, 30 Juli 2010
salut sama orang sepeda ke tempat kerja
Suatu hari di stasiun UI, sebuah kereta api berhenti sedang menaik dan menurunkan penumpang. Disitu gak sengaja mata gue memandang ke arah pintu gerbong paling depan. gue melihat sebuah sepeda keluar dibawa oleh seseorang lelaki setengah baya.
dalem hati (woww asik juga bawa sepeda naik kereta)
Gak beberapa lama kemudian, gue udah melihat sepeda itu dinaiki dan digowes di jalanan.
sumpah. Waktu itu gue salut banget sama tuh orang.
disaat banyak orang melakukan kredit motor dan mencari ke-instan-an seperti capek jalan jauh buat menjangkau angkutan umum dari rumah, ketepatan waktu yang tidak terjamin karena angkot suka ngetem sembarangan dan lama, belom lagi supir angkotnya berhenti dan ngobrol sama temennya di jalan, ketidaknyamanan angkutan umum karena supir ngebut, copet dan lain sebagainya.
Disini gue melihat sesosok yang justru ingin sehat dengan bersepeda, menghilangkan kemalasan karena jarak menjangkau angkutan umum yang jauh, buruk-buruknya, mengurangi subsidi bbm untuk premium yang (kita tahu) banyak dihabiskan oleh motor (seperti kita tahu, subsidi bbm membuat negara kita membayar demi murahnya harga bbm di dalam negeri, kalau subsidi berkurang kan bisa dialihkan ke tempat lain seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya), mengurangi pemanasan global karena gak pake asap, paling kentut.
Bangga gue masih ada orang yang peduli dengan Indonesia dan dunia.
Gue sangat bangga melihat orang bersepeda ketimbang orang banyak gaya naik motor.
sering gue mikir, coba gue punya sepeda lipet, dan ada bis yg bisa naikin sepeda lipet. pasti tiap hari ngampus gue ikut tuh orang, bawa sepeda, pas sampe di kampus gue pake deh.
dalem hati (woww asik juga bawa sepeda naik kereta)
Gak beberapa lama kemudian, gue udah melihat sepeda itu dinaiki dan digowes di jalanan.
sumpah. Waktu itu gue salut banget sama tuh orang.
disaat banyak orang melakukan kredit motor dan mencari ke-instan-an seperti capek jalan jauh buat menjangkau angkutan umum dari rumah, ketepatan waktu yang tidak terjamin karena angkot suka ngetem sembarangan dan lama, belom lagi supir angkotnya berhenti dan ngobrol sama temennya di jalan, ketidaknyamanan angkutan umum karena supir ngebut, copet dan lain sebagainya.
Disini gue melihat sesosok yang justru ingin sehat dengan bersepeda, menghilangkan kemalasan karena jarak menjangkau angkutan umum yang jauh, buruk-buruknya, mengurangi subsidi bbm untuk premium yang (kita tahu) banyak dihabiskan oleh motor (seperti kita tahu, subsidi bbm membuat negara kita membayar demi murahnya harga bbm di dalam negeri, kalau subsidi berkurang kan bisa dialihkan ke tempat lain seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya), mengurangi pemanasan global karena gak pake asap, paling kentut.
Bangga gue masih ada orang yang peduli dengan Indonesia dan dunia.
Gue sangat bangga melihat orang bersepeda ketimbang orang banyak gaya naik motor.
sering gue mikir, coba gue punya sepeda lipet, dan ada bis yg bisa naikin sepeda lipet. pasti tiap hari ngampus gue ikut tuh orang, bawa sepeda, pas sampe di kampus gue pake deh.
Jumat, 23 Juli 2010
Real Man
tiba-tiba keinget sebuah film mafia-mafiaan di TV
Si Bos mafia nanya, "Alessandro, di kepalamu ada luka apa?" (sambil menunjuk muka Alessandro)
Alessandro jawab, "Oh ini, ini luka gara-gara berantem sama preman jalanan."
langsung si bos mafia mengatakan kata-kata bijak, "Hmmhh seorang laki-laki akan belajar dari lukanya."
Seorang Laki-Laki akan belajar dari luka yang didapatnya.
yup, begitulah cuplikan cerita film mafia. Gue bisa menganalogikan dengan cerita lain,
Bejo, seorang anak kecil yang suka sepedaan. Seorang anak kecl biasanya masih belom tahu bahaya, masih belom hati-hati dalam melakukan sesuatu. Suatu hari, karena sepedaan dengan ngebut mencapai 100km/jam (lebay), akhirnya Bejo pun nabrak karena kurang hati-hati. Dia terbang. Dia terlempar hingga masuk kali. Sekujur badannya pun luka-luka. Pulang-pulang bejo dimarahin ibunya, "JOOOOO KAMU NGAPAIN AJA, KOK BISA ITEM SEMUA BAU TAI BADAN KAMU LAGI" Seketika itu, Bejo pun dijewer dan dimarahin. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah badan luka-luka, sepeda penyok, dimarahin dan dijewer ibunya lagi.. (kasian Bejo). Berawal dari situlah, keesokan harinya, Bejo lebih berhati-hati ketika sepedaan. Yah paling cuma 20km/jam aja kecepatannya.
Beginilah seharusnya, ketika orang sudah mendapatkan luka, seperti Bejo yang luka-luka atau bahkan tangan patah (misalnya), dia mengubah dirinya lebih berhati-hati dalam menyikapi sesuatu. Hal ini juga lah yang akhirnya membuat Bejo belajar. Belajar untuk menjadi dewasa dan belajar memiliki pemikiran yang logis dan mengerti akan bahaya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN BELAJAR DARI LUKA YANG DIDAPATNYA"
Kemudian, (lanjut cerita Bejo) Bejo ketika dirawat mengalami kesakitan yang luar biasa di sekujur badannya. Yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Karena dia sudah merasakannya dimana orang lain belum tentu pernah merasakannya, akan ada peningkatan di dalam diri Bejo. Entah di badannya, atau di tempat lain. Peningkatan yang dialami Bejo inilah yang akhirnya akan membuat dia menjadi lebih kuat. Seseorang, dimana dia merasakan kesakitan lebih dimana sebelumnya belum pernah merasakannya, lama-kelamaan rasa sakit lebih itu akan membuat dia biasa saja. Dan akhirnya dia menjadi lebih kuat daripada orang-orang biasa lainnya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN MENJADI KUAT DARI KESAKITAN YANG DIALAMINYA"
Si Bos mafia nanya, "Alessandro, di kepalamu ada luka apa?" (sambil menunjuk muka Alessandro)
Alessandro jawab, "Oh ini, ini luka gara-gara berantem sama preman jalanan."
langsung si bos mafia mengatakan kata-kata bijak, "Hmmhh seorang laki-laki akan belajar dari lukanya."
Seorang Laki-Laki akan belajar dari luka yang didapatnya.
yup, begitulah cuplikan cerita film mafia. Gue bisa menganalogikan dengan cerita lain,
Bejo, seorang anak kecil yang suka sepedaan. Seorang anak kecl biasanya masih belom tahu bahaya, masih belom hati-hati dalam melakukan sesuatu. Suatu hari, karena sepedaan dengan ngebut mencapai 100km/jam (lebay), akhirnya Bejo pun nabrak karena kurang hati-hati. Dia terbang. Dia terlempar hingga masuk kali. Sekujur badannya pun luka-luka. Pulang-pulang bejo dimarahin ibunya, "JOOOOO KAMU NGAPAIN AJA, KOK BISA ITEM SEMUA BAU TAI BADAN KAMU LAGI" Seketika itu, Bejo pun dijewer dan dimarahin. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah badan luka-luka, sepeda penyok, dimarahin dan dijewer ibunya lagi.. (kasian Bejo). Berawal dari situlah, keesokan harinya, Bejo lebih berhati-hati ketika sepedaan. Yah paling cuma 20km/jam aja kecepatannya.
Beginilah seharusnya, ketika orang sudah mendapatkan luka, seperti Bejo yang luka-luka atau bahkan tangan patah (misalnya), dia mengubah dirinya lebih berhati-hati dalam menyikapi sesuatu. Hal ini juga lah yang akhirnya membuat Bejo belajar. Belajar untuk menjadi dewasa dan belajar memiliki pemikiran yang logis dan mengerti akan bahaya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN BELAJAR DARI LUKA YANG DIDAPATNYA"
Kemudian, (lanjut cerita Bejo) Bejo ketika dirawat mengalami kesakitan yang luar biasa di sekujur badannya. Yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Karena dia sudah merasakannya dimana orang lain belum tentu pernah merasakannya, akan ada peningkatan di dalam diri Bejo. Entah di badannya, atau di tempat lain. Peningkatan yang dialami Bejo inilah yang akhirnya akan membuat dia menjadi lebih kuat. Seseorang, dimana dia merasakan kesakitan lebih dimana sebelumnya belum pernah merasakannya, lama-kelamaan rasa sakit lebih itu akan membuat dia biasa saja. Dan akhirnya dia menjadi lebih kuat daripada orang-orang biasa lainnya.
"SEORANG LAKI-LAKI AKAN MENJADI KUAT DARI KESAKITAN YANG DIALAMINYA"
Langganan:
Postingan (Atom)